Baladena.ID

Cinta itu mengakibatkan seseorang tertunduk dengan tatapan kosong. Menyebabkan “sindrom orang gila” merasuk mempengaruhi begitu saja. Betapa tidak, setiap berbalas pesan, senyum-senyum sendirian. Dasar aku.

Aku khawatir, cinta yang salah akan membuat diriku memiliki tatapan yang kosong dari berdzikir kepada Tuhan dan kagum melihat mahkluk yang tidak lebih indah dari penciptanya.

Itulah yang dikatakan Kyai Baedhowi saat mejelaskan hakikat cinta. Ia benar-benar mendalami filsafat cinta. Menurutnya, manusia bergerak karena dua alasan, karena cinta dan kebutuhan. Jika bekerja dengan cinta, maka kebahagiaanlah yang akan didapatkan. Jika karena kebutuhan, sampai kapanpun tidak akan merasakan cukup atas apa yang Tuhan berikan.

Aku menuliskan beberapa kalimat yang ku peroleh dalam beberapa kajian. Kalimat yang kemudian ku rangkai menjadi sebuah puisi dan kalimat yang agak tidak beraturan. Menyatakan cinta ternyata tidak sesulit yang dibayangkan orang. Yang sulit justru hati yang tak menerima jawaban yang “tak di harapkan” dari sang pujaan hati. Berbeda bila puisi yang menjadi ungkapan, tak terbalas bukan berarti tidak mendapat jawaban. Husnudzanku, mungkin ia tak pandai membalas puisi yang ku tuliskan.

Aku masih ingat saat pertama kali menyatakan cinta lewat lembar puisi. Aku tulis lewat secarik kertas berwarna hijau, ku kirim kan lewat telepati. Ya, telepati. Telekomunikasi lewat perantara hati. Karena entah mengapa saat puisi itu telah ku kemas, semesta mendorongnya untuk keluar hingga kita berpapasan di jalan. Sedikit cemas, harap terlalu luas.

Baca Juga  Waspada! Virus Bucinisme Melahap Kader Hijau Hitam

Aku yang tak berani memberikan surat itu dengan tanganku sendiri, memaksa pikiranku bekerja mencari strategi. Ku jatuhkan saja secarik kertas itu di hadapannya. Sesaat sebelum ia memanggilku, aku sudah berada jauh darinya.

Kertas itu berwarna hijau dengan goresan tinta hitam. Hijau melambangkan kesuburan dan hitam adalah ketegasan. Dengan harapan, pohon cinta akan tumbuh subur oleh komitmen yang dijaga bersama.

Tidak ada yang lebih mendebarkan daripada hati yang sedang menunggu balasan. Lebih terasa berdebar ketimbang saat menunggu hasil ujian. Dari awal aku menaruh curiga kalau ia tak bisa dan tak biasa membuat puisi. Hingga akupun tersadar bahwa puisi cinta itu tidak akan pernah terbalas.

“Cahaya Kehidupanku” 

Duhai hati,
Kebahagiaan apa yang kau tawarkan
Hingga aku berlari mencarimu
Hadiah apa yang kan kau berikan
Hingga aku mengejarmu

Duhai hati,
Di balik senyum indah di wajahmu
Ku temukan sebagian ayat-ayat Tuhan
Engkau adalah mukzizat Tuhan yang tersembunyi
Yang memaksaku untuk terus mencari dan menggali

Duhai hati,
Kulihat bidadari cemburu padamu
Mungkin mereka lebih cantik darimu
Tapi mereka tak memiliki aku
Aku yang hanya mencintai dirimu

Hingga pesan masuk lewat whatsappku, darinya. Ia membalas, “puisinya bagus, aku suka”. Hanya dengan kalimat sederhana itu aku jadi susah tidur. Sungguh cinta membuat orang menjadi insomnia.

Esoknya ku beranikan mengirim pesan. Pesan yang hingga kini tak pernah ku lupakan. Aku memintanya bersumpah atas nama hati untuk selalu menyayangi. Mengisi hari-hari dengan cinta yang telah terpatri.

Baca Juga  Sulit Berkomunikasi? Yuk Pahami Cara Berkomunikasi Ala Rasulullah SAW dan Para Sahabatnya

Aku terkejut ia menyanggupi. Membayangkan perempuan yang sangat tidak bisa di “sentuh” laki-laki kini benar-benar akan menjadi pemilik hati. Sekejap hayal berbisik, “masa iya dia mau sama kamu”. Tanpa berpikir panjang, ku buatkan surat serupa surat pernyataan. Di dalamnya tertulis komitmen untuk saling menyayangi. Terdapat pula dua nama yang harus segera di tanda tangani.

Lucu saja kala ku mengingat kejadian itu. Hingga kini surat itu menjadi berkas sejarah tak terlupakan antara aku dengannya. Jika bukan karenanya, mungkin aku tidak akan pernah memulai untuk menulis puisi. Akhirnya membuatku berpikir, apakah orang yang tidak pernah membuat puisi adalah mereka yang tak pernah jatuh cinta secara serius?

Meski demikian, ia tetap dengan segala tingkahnya. Saat ku ingatkan kejadian itu, ia pura-pura tidak tahu. Saat aku mulai tidak bisa mengendalikan rasa gemes ku padanya, ia hanya berkata, “silahkan cari yang lain saja”. Gemesin bukan. Gemes tapi cinta.

“duk duk duk,” suara mic kala di test pengurus.

Ngaji hendak dimulai, semua santri telah duduk pada posisinya. Aku sengaja mengambil posisi paling belakang. Agar aku bisa menyaksikan dua matahari yang kini menyinari jalan hidupku,  Kyai Baedhowi dan Nurhayati…

Alweebee
"Aku telah jatuh cinta dengan deretan kota yang sering ku datangi dan pada orang yang sering ku temui"

    Diskontuinitas HMI Dalam Gerak Sejarah

    Previous article

    Sekolah Baca Kitab Kuning (Sebakiku) Pesantren Darun Nashihah Monash Institute Semarang

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Zetizen