Site icon Baladena.ID

Mengenang Arsitektur Masa Kolonial di Kota Lama Semarang, Sebuah Mahakarya yang Mahal Harganya

Contoh bangunan arsitektur di Kota Lama Semarang

Satu di antara peninggalan arsitektur kolonial Belanda berada kawasan Kota Lama Semarang. Nah, itulah alasan mengapa Kota Lama dikenal dengan sebutan Little Nedherland.

Bagaimana tidak, Kota Lama menyimpan banyak peninggalan bangunan zaman kolonial Belanda yang begitu menawan. Terdapat sekitar 50 bangunan yang masih berdiri dengan kokoh di kawasan Kota Lama.

Bangunan tersebut di antaranya:

Gedung Jiwasraya, Jembatan Mberok, Galeri Semarang, Gereja St. Jusuf, Stasiun Semarang Tawang dan bangunan lainnya. Ini membuktikan bahwa kawasan Kota Lama merupakan saksi bisu sejarah Indonesia pada masa Kolonial.

Pemandangan indah yang disajikan di kawasan ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Semarang dan wisatawan yang datang dari berbagai daerah lain.

Bahwa apa yang kita nikmati ini merupakan hasil dari upaya pembenahan Kota Lama dan pelestarian peninggalan sekaligus untuk mengenang sejarah yang ada di Semarang.

Bangunan arsitektur bersejarah di Semarang

Revitalisasi

Revitalisasi yang digalakkan oleh Walikota Hendrar Prihadi sejak tahun 2012 begitu membuahkan hasil. Karena hingga kini, kawasan Kota Lama yang ada di Semarang tampak tertata rapih sedemikian rupa.

Lengkap dengan jalur pedestrian, lampu-lampu jalan dan traffic cones sebagai pembatas dengan jalan raya yang juga sudah terpasang dan pastinya terlihat menarik.

Sejak dibentuknya Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), juga sebagai bentuk pelestarian budaya Indonesia dan dunia, pembenahan dilakukan dengan serius.

Bangunan yang dipengaruhi oleh kolonialisasi itu dibuat begitu kental dengan gaya Eropa, lengkap dengan hiasan pada tiap bangunan. Selama lebih dari dua abad, yakni abad 19 dan 20, kawasan Kota Lama menjadi pusat perdagangan.

Untuk itu, dengan revitasisasi yang telah dilakukan, diharapkan akan membuat masyarakat makin mengenang dan mempelajari sejarah Nusantara.

Sebab, sudah selayaknya kita untuk selalu menjaga apa yang menjadi peninggalan dan tidak merusaknya. Mengenai wisata, Kota Lama memang cocok untuk menjadi salah satu rekomendasi disaat berkunjung ke Semarang.

Pun dengan pembangunan yang ada di Semarang, seperti Pasar Johar yang merupakan salah satu bangunan cagar budaya menunjukkan bahwa arsitektur terus berkembang di Indonesia, khususnya di Semarang.

Selain itu, dari sekian banyak bangunan yang ada di kota ini, kita juga dapat mengenal beragam gaya arsitektur. Inilah alasan kuat betapa banyaknya peta arsitektur yang ada di Indonesia, haruslah dijaga dan dirawat.

Potret arsitektur di Kota Lama Semarang

Arsitektur Nusantara

Para arsitek Indonesia juga tak kalah dalam menuangkan ide atau gagasan mereka yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya yang mahal harganya. Sejarah perkembangan arsitektur dari masa ke masa memiliki ciri khas tersendiri.

Era Hindu-Budha dengan Candinya. Era Islam dengan Masjid beserta ornamen khas Timur-Tengah. Era Kolonial dengan arsitektur Eropa yang sangat menonjol. Karena itulah, begitu penting mengenal sejarah dan perkembangan arsitektur Nusantara.

MASJID MEGAH YANG SEMAKIN MIRIS

Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 18 Maret diperingati sebagai hari Arsitektur Nasional. Meskipun bukan termasuk hari libur nasional, namun bisa dikatakan ini bukan peringatan sembarangan.

Perkembangan arsitektur sejak zaman Nusantara, Hindu-Budha, juga penjajahan Belanda memperlihatkan bagaimana arsitektur merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan.

Untuk itu, sudah semestinya kita memberikan penghargaan kepada mereka yang telah memiliki peran besar dalam perkembangan Arsitektur di tanah air. Karena sampai sekarang, para arsitek telah ikut serta dalam memajukan pembangunan nasional.

Maka, tak salah ketika arsitektur diberikan peringatan khusus. Mengingat sejak dulu telah membuat karya-karya bersejarah. Akan tetapi, sudahkah kita menghargai karya-karya arsitek Indonesia yang telah menghasilkan karya yang luar biasa?

Nama-nama seperti Friedrich Silaban, Achmad Moe’man, Andra Matin dan Ridwan Kamil cukup membuktikan bahwa Arsitek Indonesia dikenal hingga mancanegara.

Tantangan

Seiring dengan perkembangan zaman, para arsitek pun harus mengikuti sekaligus menjawab berbagai tantangan yang dihadapinya. Arsitek harus memikirkan bahwa dalam merancang bangunan, harus memperhatikan tantangan di masa depan.

Inovasi baru dari bangunan dan beragam fasilitas yang disediakan untuk masyarakat begitu diperlukan. Sebab, masyarakat akan lebih nyaman ketika fasilitas atau bangunan yang digunakan itu nyaman dan didesain apik.

Namun, perubahan iklim (climate change) menjadi salah satu tantangan di masa yang akan datang. Maka dari itu, dibutuhkan cara untuk mendesain bangunan yang ramah lingkungan dan tahan cuaca.

Adapun caranya ialah dengan menggunakan material ramah lingkungan yang cocok dengan untuk kondisi tropis di Indonesia. Sebab, isu lingkungan telah menjadi isu populer beberapa tahun belakangan (Syaom, 2021).

Begitupun dengan arsitektur di era modern yang tentu mengalami perkembangan. Bisa dilihat dari gaya arsitektur kekinian yang dipengaruhi oleh arsitektur global dengan namun tetap mengutamakan kesederhanaan, fungsi dan estetika.

Peninggalan arsitektur yang ada saat ini, menjadi bukti bahwa dengan melewati sejarah yang cukup panjang. Arsitektur nusantara memiliki kekayaan dan keragaman.***

Exit mobile version