Site icon Baladena.ID

APTISI Harus Belajar dari UNPAM, Bukan Mengadukan

Sebagai salah satu mahasiswa program Magister Hukum Universitas Pamulang (UNPAM) sekaligus menanggapi tulisan di Baladena.id tentang ‘Tak Terima Biaya Kampus Terlalu Murah, UNPAM Diadukan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta’. Penulis ingin menyampaikan pendapat, terkhsus ditujukan kepada pihak yang mengatasnamakan APTISI Wilayah IV-B/Banten.

Mendatangi Kantor Wali Kota Serang, puluhan perwakilan dari berbagai kampus yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah IV-B/Banten mengadukan keberadaan kampus baru UNPAM yang membuka cabangnya, yaitu Universitas Sutomo di Kota Serang.  Mereka mengadukan UNPAM ke Walikota Serang. Mereka menilai Unpam memberlakukan biaya kuliah terlalu murah dibandingkan dengan PTS lain di Kota Serang.

Pertemuan antara perwakilan APTISI Wilayah IV-B/Banten dengan Walikota Serang itu dipimpin langsung Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi) Wilayah 4 D Banten Abbas Sunarya di lantai 3 kantor Setda Kota Serang, Senin (15/3/2021). Alasan dipersoalkannya kampus UNPAM sendiri terlihat sangat lucu. Salah satunya yaitu, dikhawatirkan, kampus-kampus swasta yang sudah ada sebelum UNPAM menjadi sepi peminat, akhirnya berbagai kampus yang tergabung dalam asosisi tersebut sangat keberatan dengan kehadiran UNPAM yang memberikan harga sangat murah. Universitas Sutomo berencana hanya memasang biaya Rp. 150.000 setiap bulan untuk para Mahasiswa Strata 1.

Perwakilan yang mengatasnamakan APTISI Wilayah IV-B/Banten ini tentu sangat mengecewakan banyak pihak. Bukan hanya menyudutkan serta menjegal UNPAM sebagai pihak yang telah memfasilitasi pendidikan murah dan berkualitas. Tetapi, juga mengancam memutus harapan bagi masyarakat yang sering terkendala mengenyam Pendidikan perguruan tinggi akibat mahalnya biaya.

APTISI sendiri adalah organisasi profesi yang beranggotakan seluruh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan seluruh Badan Hukum Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta (BHP-PTS) di seluruh Indonesia yang berkedudukan di Jakarta. Seharusnya, APTISI mendukung langkah UNPAM dan mendorong agar perguruan swasta yang lain bisa seperti UNPAM. Serta menjadikan UNPAM sebagai Role Model bagi kampus-kampus swasta lainnya.

Apabila, salah satu alasan APTISI Wilayah IV-B/Banten mempersoalkan UNPAM karena dikhawatirkan dengan harga yang terlampau murah, kampus-kampus swasta yang ada sebelum kampus tersebut hadir akan sepi peminat. Maka, seharusnya diluruskan.  Bagaimana caranya agar kampus swasta yang lain bisa seperti UNPAM. Memberikan biaya murah tetap dengan kualitas yang baik.

Andai Semua Kampus Seperti UNPAM

Kembali kepada UNPAM sebagai kampus murah dan berkualitas. Seharusnya, bisa menjadi role model dan ditiru oleh perguruan tinggi lainnya, terkhusus kampus swasta di Indonesia. Biaya kuliahnya sangat murah, bahkan juga bisa dicicil tiap bulan untuk semakin meringankan. Sehingga terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat yang juga ingin mengenyam perguruan tinggi. Selain biaya, waktu kuliahnya juga fleksibel, Ada beberapa pilihan kelas. Yaitu; REGULER A : Kuliah dari hari senin s/d jumat pukul 08:00 s/d 17:00. REGULER B : Kuliah dari hari senin s/d jumat pukul 18:30 s/d 21:0i0. REGULER C : Kuliah hari sabtu pukul 08:00 s/d 17:00 Sedangkan untuk kelas regular yang waktunya ada 2 pilihan yaitu kelas pagi dan malam. Jadi ini sangat membantu pekerja untuk tetap sambil kuliah.

Walaupun UNPAM biayanya murah-meriah. Bukan berarti kualitasnya kalah jika dibandingkan universitas-universitas lain yang bayarnya lebih mahal. Fasilitas yang diberikan sangat layak untuk mendukung perkuliahan, dengan gedung perkuliahan bertingkat, ruang kelas ber AC, laboratorium praktikum,  klinik, perpustakaan, auditorium, galery investasi BEI, secure parking dan fasilitas-fasilitas yang masih dalam proses pembangunan. UNPAM di wilayah Tangerang Selatan sendiri memiliki 3 lokasi perkuliahan, yaitu kampus utama yang berada di Jl. Surya Kencana No. 1 Pamulang, Kampus Witana Harja Pamulang dan Kampus Viktor Serpong.

Sedangkan kenapa biaya UNPAM bisa murah. Ketua Yayasan Universitas Pamulang (Unpam), Darsono, mengatakan bahwa tujuan dirinya membangun Unpam adalah untuk memberikan akses kepada orang-orang yang tak memiliki cukup uang, tetapi ingin melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Sebenarnya biaya kuliah di UNPAM secara nilai masih standar dan mematuhi ketentuan yang yang disyaratkan oleh pemerintah yaitu Rp18 juta per tahun per mahasiswa.

Hanya saja, ada subsidi silang yang dilakukan oleh Yayasan Sasmita Jaya kepada universitas tersebut sehingga biaya kuliah yang dibebankan kepada mahasiswa lebih ringan dibandingkan yang seharusnya mereka bayar. Hal itu juga yang akan diberlakukan kepada Universitas Soetomo, kampus di bawah Yayasan Sasmita Jaya, yang sedang dibangun di Kota Serang.

Rektor Universitas Pamulang (Unpam) Nurzaman mengungkapkan, Yayasan Sasmita Jaya memiliki sejumlah bidang usaha. Dari usaha yang dijalankan inilah maka yayasan memiliki keuntungan secara finansial. Dengan demikian, mereka bisa menyuntikkan dana sebagai subsidi silang kepada lembaga pendidikan Unpam atau nanti untuk Universitas Soetomo yang ada di Kota Serang.

Dengan adanya subsidi silang dari yayasan itu maka universitas memiliki cukup dana untuk menjalankan aktivitas perkuliahan termasuk penelitian di kampus tersebut. Nurzaman mengatakan, sejak awal yayasan sudah berkomitmen mereka yang memikirkan bagaimana mencari uang untuk memenuhi kebutuhan universitas. Sementara manajemen kampus hanya ditekankan agar mengurus kampus dengan sebaik-baiknya sebagaimana mestinya.

Dari Faktor-faktor inilah yang mungkin membuat UNPAM sekarang menjadi kampus besar dan sangat diminati. Bukan hanya masayarakat bawah. Akan tetapi juga oleh semua kalangan. Bukan hanya oleh masyarakat di sekitar TangSel dan sekitarnya, tetapi juga masyrakat seluruh Indonesia. Semua masyarakat berharap, dengan diadukannya UNPAM oleh pihak yang mengatasnamakan APTISI Wilayah IV-B/Banten, tidak merubah komitmen UNPAM untuk memberikan pendidikan murah yang berkualitas. Justru APTISI Wilayah IV-B/Banten lah yang harusnya mengambil pelajaran dari UNPAM.

Oleh: Muhammad Nor Faiq Zainul Muttaqin, Mahasiswa Program Magister Hukum UNPAM

Exit mobile version