Deburan ombak menggulung menuju pantai. Sesampainya ia di pinggir, pecah menabrak sederet pasir putih yang menjadi penanda bibir pantai. Buih-buih menyatu dengan pasir putih yang ia lewati. Gradasi warna yang indah. Di atasnya, langit biru terlihat lebih tenang tanpa gelombang. Gumpalan awan putih itu hanya bergerak perlahan seakan tertiup angin segar. Tidak seperti ombak-ombak yang bergerak dengan riuh bagaikan sedang dikejar atau mengejar sesuatu. Pinggir pantai memang terlihat lebih kacau karena ombak yang datang memecah keheningan, tapi laut di tengah sana lebih tenang bagai langit yang ada di atasnya.
Sebelum sampai ke bibir pantai, deburan ombak itu lebih dulu dipecahkan oleh kaki jenjang perempuan yang sedang berdiri mematung. Pecahan-pecahan itu segera menyebar menjadi buih-buih dan menghilang. Raut wajah perempuan itu tak secerah langit biru di siang itu. Ia tampak muram dengan lamunan memandang hamparan lautan. Perlahan rintikan air mengaliri kedua pipi. Ia tak lagi memedulikan sengatan matahari yang begitu terik. Sepertinya kini dunianya sedang kacau, udara panas siang ini tak membuatnya pergi mencari tempat berteduh.
Ia berdiri mematung menantang angin yang berdesir kencang. Baju biru yang ia kenakan berkibar-kibar seakan mengajaknya untuk segera menepi ke pinggir pantai. Girisa merasa sedang dipecundangi semesta. Segala usaha yang ia lakukan tak memberikan hasil seperti yang diinginkan. Rasanya ia tak ingin lagi melakukan apa-apa. Segala tindakan yang ia lakukan terasa sia-sia. Semangat yang membara kini padam tak tersisa. Hanya putus asa yang ia rasa.
Mata nanarnya menatap ke atas langit yang terik. Menengadah pada semesta agar segala lara yang dirasa segera sirna. Ia begitu merasa kehilangan separuh jiwa. Seseorang yang menemani setiap langkah kecilnya kini tak lagi bisa membersamainya. Langkah mereka kini tak lagi saling beriringan. Terpisah di persimpangan jalan yang sama sekali tak mereka ketahui. Mereka telah berada pada jalan yang berbeda. Setiap kabar yang ingin ia tanyakan lebih dulu kabur tersapu angin.
Kini tak ada lagi kita, yang tersisa hanyalah lara. Janji yang pernah terucap di bawah senja Pantai Kuta telah hilang bersama perginya Agastya. Hanya kenang dan bayang yang menemani Girisa. Menyimpan perasaan sendirian memang begitu menyakitkan. Bagi Girisa melupakan Agastya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Meski segala bayang dan kenang terasa begitu menyiksa. Ia pun tak mengerti mengapa bayang-bayang itu selalu mengikuti.
Awal pertemuan antara Agastya dengan Girisa terkesan menjengkelkan. Saat itu, Girisa tengah menangisi keresahan yang membuatnya begitu pilu. Di pinggir Pantai Kuta saat matahari hampir pulang ke tempat peraduannya. Saat warna langit sedang begitu indah. Saat segerombol burung cemara bersuka cita menuju tempat peristirahatan. Di saat itu pula Girisa tak dapat lagi membendung air mata yang dirasa begitu memberatkan mata. Ia tumpahkan segala lara di bawah senja yang mempesona.
Tangis tidak membuat ia merasa lebih tenang, ia lemparkan kerikil-kerikil pecahan batu karang yang hanyut terbawa ombak hingga tiba di tepi pantai. Tak sengaja lemparan itu mengenai sesosok manusia yang tak terlihat jelas, hanya siluet hitam yang nampak. Dari kejauhan sosok itu terlihat semakin mendekat dan mendekat. Sampailah ia tepat di hadapan Girisa. Tak sengaja lemparan Girisa mengenai sosok laki-laki itu. Girisa menghentikan paksa tangisnya. Ia sedang menghadapi omelan orang asing yang entah dari mana ia datang.
Girisa yang keras kepala tak mau disalahkan begitu saja. Ia balik memarahi laki-laki itu.
“Salah siapa Lo jalan di depan Gue, kena timpuk kan!” dan sederet kalimat lain.
Pertemuan di ujung senja itu menjadi jalan pembuka bagi pertemuan-pertemuan tak sengaja lainnya. Mereka lebih sering dipertemukan tanpa sengaja di berbagai tempat dan suasana. Mereka lebih sering bertemu di bawah langit senja Pantai Kuta. Meski pada awal pertemuan mereka saling melempar hujatan kini mereka dekat karena saling memperhatikan. Tidak hanya satu dua kali Agastya melihat Girisa merenung di pinggir pantai. Begitupun dengan Girisa yang sering melihat Agastya duduk menatap senja dan hamparan lautan di depan mata.
Dari pertemuan-pertemuan itu mereka mulai membuka pembicaraan hingga pada suatu hari mereka berkenalan. Setelah banyak pertemuan yang tak terduga, baru kali ini mereka saling mengenalkan nama.
“Kamu ngikutin saya ke sini ya?” Suara Agastya memecahkan lamunan Girisa.
“Apaan sih! Ngapain juga ngikutin kamu, kenal aja engga!”
Sejak saat itu banyak topik yang mereka bicarakan. Tidak hanya saat bertemu di tepi Pantai Kuta di bawah rona jingga senja. Terkadang obrolan mereka berlanjut hingga dunia maya. Pertemuan antara kedua manusia di tepi Pantai Kuta beralaskan hal yang sama, sama-sama suka membawa segala beban untuk dilarung dan dibagikan pada hamparan laut dan senja di langit. Mereka suka mencari ketenangan di sana. Kini tidak hanya langit dan laut yang menjadi tempat melarung masalah. Girisa adalah tempat melarungkan masalah bagi Agastya. Mereka menemukan tempat ketiga untuk melarung beban setelah laut dan langit.
Sore itu Agastya meminta Girisa untuk menemuninya di pinggir Pantai Kuta. Saat senja sedang merona begitu indah, setitik siluet berjalan pelan menghampiri lelaki berkaos hitam di pinggir pantai. Semakin mendekat, titik itu semakin besar dan terlihat jelas. Bayangan semu kini jelas di depan mata. Girisa melemparkan senyum pada Agastya. Mereka larut dalam perbincangan yang mengasikkan. Senyum merekah di wajah Girisa seketika berubah. Hilang tersapu aliran air yang jatuh melarutkan senyum itu.
Pertemuan itu tidak seindah senja yang sedang merekah di langit yang kemudian terpantul ke permukaan laut. Agastya melontarkan sederet kalimat yang menyeret paksa air mata Girisa keluar dari fossa lakmilarisnya. Raut bersalah menempel pada wajah Agastya. Ia telah menghilangkan raut bahagia di wajah perempuan itu. Perkataan yang dilontarkan Agastya telah membuat hati Girisa teriris-iris. Keduanya terbungkam, mematung. Tak ada lagi kata yang terucap, hening. Agasya melangkah pergi meninggalkan lara di tepi Pantai Kuta.
Semenjak itu tidak ada lagi pertemuan antara Girisa dengan Agastya. Tak ada lagi kabar yang ditanyakan lewat dunia maya. Semuanya telah hilang, sirna bersama tenggelamnya senja. Tidak ada lagi pertemuan yang akan membawa kebahagiaan. Keinginan bertemu saja sudah tidak ada. Girisa benar-benar tidak menyangka, pertemuan yang membuat kedekatan diantara mereka berlalu begitu cepat.
Kini giliran perpisahan yang datang secara tiba-tiba. Setelah bahagia dirasa akan ada selamanya, ternyata badai secara tiba-tiba menghempas segala bahagia menjadi lara. Hilang sudah pertemuan diantara kedua insan yang sempat saling mencinta. Perasaan masih ada membersamai mereka meskipun perpisahan telah membuat hilang pertemuan. Meskipun senja di tepi Pantai Kuta masih tetap indah, suasana telah berubah. Tak ada lagi kita di antara Kuta.
Hilang, tak ada lagi jejak yang tersisa. Hanya suka berbalut lara yang masih terasa. Tidak ada pertemuan nyata maupun maya. Dunia kembali seperti semula, saat pertemuan antara mereka belum tercipta. Bedanya, ada rasa lara yang membalut jiwa. Keduanya tidak bisa melupakan pertemuan serta rasa yang sempat tercipta. Saat kata itu terucap dari mulut Agastya, dunia Girisa terasa terhenti. Seakan nadinya berhenti sejenak hingga membuat dada terasa sesak. Ia tak lagi bisa menahan air yang membuat matanya serasa memanas dan air mata itu mengalir deras.
“Sudah cukup, jangan kau sirami lagi perasaan ini agar tak semakin tumbuh meninggi.” Kalimat itu terucap daro mulut Agastya. Tak selang berapa lama, Agastya pergi meninggalkan Girisa yang diam mematung dengan perasaan kacau dan air mata yang tak mampu terbendung. Girisa tidak habis pikir dengan apa yang telah dikatakan Agastya padanya. Mengapa ia harus membunuh perasaan itu? Berjuta tanda tanya ada dalam benaknya.
Peristiwa itu sudah berlalu cukup lama. Namun, segala tanya dalam benak Girisa belum ada jawabnya. Entah mengapa ia masih suka menunggu kedatangan Agastya di tepi pantai. Padahal ia sendiri tau apa yang dilakukan adalah hal yang membuang waktu dan sia-sia. Terkadang ia menertawakan diri sendiri atas kisah kelam yang menyakiti.
Semua luka itu sedikit demi sedikit sirna termakan waktu, yang tersisa hanya kenang dan potret bahagia. Girisa tak lagi meratapi kisah pilu itu. Tidak lagi menyiksa diri dengan rasa penasaran tanpa kepastian. Kehidupan telah berjalan seperti semula dan memang sudah seharusnya begitu. Hidup dalam balutan luka menjadikannya tak bermakna. Berdamai dengan keadaan lebih baik dirasakan. Potret luka di masa lalu cukup dijadikan sebagai pelajaran.

