Awalnya, aku benar-benar tak menahu, tentang masalah berteman yang tengah melanda pada diriku. Lantas terlalu lama diambang kebingungan dan ambigu. Beragam tanda tanya dari hukum kausalitas yang berlaku, seolah-olah merenjana bahkan sampai di luar nalar dan layaknya masa kanak-kanakku. Aku masih anak-anak bukan? Entahlah. Kata Ayah, kedewasaan ada dan terlihat, salah satunya, karena seseorang dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Mayoritas dari mereka (jenjang TK, hingga SMA) belum mahir dalam hal itu. Meski ada beberapa pemuda yang demikian, pasti tingkah lakunya, ekspresinya, caranya berkehidupan sangat signifikan dan dapat bisa sekali dibedakan dengan yang lainnya.
Saatnya kembali ke ruangan padat ini. Padat dengan partikel debu yang beterbangan, padat dengan para murid yang bersimpang siur di hadapan, padat dengan suara yang menggelegar dan membisingkan, pun dengan aksesori di dinding dan beberapa simbol peninggalan kakak kelas lainnya yang entah mengapa masih saja bertengger di sana. Menjauhi anomali, aku duduk di bangku kelas terdepan dan terpojok. Sembari menggantungkan berbagai argumen membantah kata-katanya. Karena apa yang pernah Ayah fatwakan itu ada benarnya juga.
Mereka yang dapat menguasai emosi diri, adalah sebuah langkah utama menuju kedewasaan. Karena dengan kemampuan yang demikian, mereka dapat menerima segala problema sekaligus pendapat orang lain, bahkan masyarakat yang majemuk. Dalam konteks ini, mereka memiliki sebuah modal untuk menjadi seorang pemimpin yang layak. Namun, alangkah lebih baik lagi bagi mereka yang memiliki kemampuan tersebut, pun dengan kemampuan untuk memanipulasi emosi komunikan pribadi, teman-teman, dan masyarakat. Inilah yang dimaksud kecerdasan emosional. Akan banyak relasi yang terjalin dengan orang yang demikian.
Seketika, Joko Susilo, temanku di bangku belakang, berusaha mengganggu lamunanku.
“Hee, Raka. Fuck you!” celetuknya, sembari mengacungkan jari tengahnya kepadaku. Wajahnya tersenyum puas, karena pikirku berhasil ia pecah. Aku tak perduli, aku tidak marah, sudah menjadi tabiatnya untuk berlaku seperti itu. Sangat cerdas sekali. Kubalas saja dengan senyuman, kemudian lanjut berpikir.
Lantas, permasalahan apa yang perlu kuselesaikan dengan kemampuan tersebut? Masalahku lebih condong ke arah cara bergaul. Planet Nufo, rumah keduaku menuntut masyarakatnya untuk pandai dalam bergaul, guna mencari dan menjalin relasi dengan beragam manusia, dari mana saja, dan bersahabat dengan karakter mereka, sehingga fleksibilitas kita dalam bergerak sangat besar. Oleh karena itu mengapa dogma ini tercanangkan dalam sepuluh kunci kesuksesan sebagai doktrin dasar Planet Nufo.
Aku memiliki sebuah pernyataan, berdasarkan penelitianku yang bermula beberapa tahun terakhir. Raka, Wildan, dan Ezy, adalah sahabat sejati, senasib, sepermainan, dan sepenanggungan. Memiliki berbagai background yang berbeda, walau akhirnya duduk dan berkecimpung dalam topik yang sama. Mengasyikkan pada awalnya. Seiring berjalannya waktu, aku pun merasa terganggu. Entah dengan apa, mulai jenuh menggeluti obrolan yang itu-itu saja. Seperti tiada gunannya, itu hanya cocok dilakukan di prolog saja. Berselesa dan semacamnya di atas naungan hampa sangat tidak etis untuk dilakukan terus menerus, menurutmu?
Ayah juga mendoktrinku untuk menjadi pendengar yang baik, karena orang dengan kepribadian demikian akan sangat jarang ditemukan di masa mendatang. Apalagi jikalau sudah menyangkut aspek kapitalisme, dan pemerintah yang berenang dalam alur absolutismenya. Kebebasan berbicara saja laksanan ancaman hebat untuk melengserkan mereka dari kursi-kursi ekstra empuk negara. Pun dengan menjadi pendengar yang baik, akan banyak orang-orang yang betah dan nyaman membersamai kita.
Ah, mungkin sudah terlalu lama aku menjadi pendegar baik saja, kurasa. Bukan aku bosa dan salah menafsirkan, tetapi menjadi pendegar yang baik, tidak berarti kita harus bungkam dan meminimkan aksi bukan? Jiwa inisiatifku bergejolak, lantas berniat untuk mengontaminasi forum rutinan kami dengan topik yang kugemari. Aku mencobanya.
“Eh, Diq! Menurutmu, apa tanggapanmu dengan PAZ?” tanyaku pada Wildan, kerap dipanggil Sodiq. Ia berkemul, pun denganku, karena malam itu teramat sangat dingin. Ia menyahut,
“PAZ itu apaan?”
“Pengobatan Akhir Zaman, Diq. Semacam komunitas inovatif yang berjalan di bidang kesehatan. Sepertinya cocok deh kalau ada di Planet Nufo, karena teori-teori dan langkah yang diambil berdasarkan ajaran Al-Quran, Diq,” aku menjeda, ia hanya bergeming. Tak ingin unjuk suara, namun matanya masih terbuka. Aku melanjutkan.
“Selain sesuai syariat, biaya pengobatannya juga tak kalah murah, Diq. Worth it! Cocok banget kan sama situasi dan kondisi perekonomian masyarakat di Indonesia? Apalagi kalau sudah menyangkut situasi gawat darurat, Diq. Tidak bisa berobat karena biata praktek dokter saja masih dikategorikan mahal, menurutmu gimana, Diq?” Wildan masih bergeming. Kuhentikan dengan pertanyaan, berharap Sodiq bisa mengikuti topikku. Karena kurasa, ini sangat menarik.
“Saya itu tipe orang yang tidak mau mendengarkan, bahkan tidak mau tahu apa yang menurut saya tidak menarik, Rak,” bak petir yang menyambar tengah malam. Hatiku merasa terkhianati.
“Ya udah, Rak. Saya tidur duluan ya?” ujar Wildan. Lantas kuiyakan dengan dugaan bahwa ia telah lelah menjalani hari ini, penuh, tanpa istirahat. Dendangan Nadin Amizah kegemarannya membawa kedamaian di telingaku, senandung dan musikalisasinya sangat istimewa, walau masih sedikit terenyuhkan oleh kata-kata Wildan barusan. Ah, waktu yang pas untuk merenungkan propaganda kecilku malam ini.
Bisa kutarik kesimpulan awal, bahwa menjadi pendengar saja itu sangat melelahkan, sehingga komunikan terbiasa dengan kita yang hanya diam mendengarkan apa fatwa dan celoteh mereka dengan seksama. Tiada harapan mereka yang bergilir menjadi pendengar baik si pendengar awal. Sebenarnya, aku sudah menduga semua. Namun upaya terakhirku ternyata tidak berjalan dengan baik. Lantas, di mana tempat kita untuk didengar?
Menurutku cara bergaul ini juga ada sebuah ilmu yang melatar belakanginya. Bermula dari hakikatnya, dari segi psikologinya, dan dari segi penerapannya ke dalam kehidupan bermasyarakat. Membaca gerak gerik komunikan, bahasa tubuhnya, dan juga kegemaran mereka. Itu adalah hal-hal krusial yang perlu dipelajari, bagiku saat ini. Masalah utama dan alamiah pergaulanku adalah kurangnya teman yang sefrekuensi. Hampir tiada teman yang seperihal denganku yang kadung gandrung dengan topik-topik yang sepertinya menjemukan pikiran mereka.
Pun sama tragedinya dengan obrolanku dengan Ezy, anggota trimutri selain Wildan. Ia menolak, namun dengan cara yang sedikit lebih cerdas, dan halus. Seperti mengalihkan pandangannya dari kedua mataku, mencoba mengalihkan topik obrolan dengan tipenya, dan berbagai lawakan yang acap ia lontarkan di tengah-tengah penjabaran topikku. Sangat melelahkan ternyata. Bagaimanapun juga, mereka dekat denganku, karena aku adalah pendengar mereka bukan?
Bermodalkan jaringan internet “super kilat” yang dicurahkan oleh lima buah router milik Planet Nufo, segera kumencari sebab dan akibat dari masalahku ini. Berharap google memberikan jawaban yang berkenan bagi tanda tanya besar yang otakku rangkam bertahun-tahun lamanya. Di titik ini, akupun mulai menyadari, ternyata perihal seremeh bergaul, dapat menjadi polemik besar dan krusial bagi kehidupan. Karena manusia adalah Homo Socialis, yang berarti manusia sosial, yang bisa hidup dengan keberadaan manusia lainnya.
Usai mencari dan membuka berbagai laman di internet, dari berbagai sumber. Ternyata masih banyak yang kuabaikan dalam menjalankan sebuah hubungan yang baik. Yakni sebab manusia dapat terjadi miskomunikasi. Yakni karena perbedaan pengalaman dan referensi setiap orangnya. Oleh karena itu mengapa mereka yang tidak sefrekuensi sangat sulit sekali untuk menciptakan suatu topik yang menarik bagi kedua pihak.
Apa sudah seharusnya aku berusaha untuk mengikuti minat mereka? Apa sudah menjadi kewajibanku untuk menggali berbagai referensi yang berkaitan dengan kegandrungan mereka? Kurasa iya. Mayoritas pemuda sekarang lebih condong ke arah penikmat berbagai konten-konten di media sosial. Pun tidak ada ruginya aku mengikuti kegandrungan mereka. Atau bahkan mengapa tak membat sebuah perubahan dengan melibatkan isi dari konten-konten yang mereka sukai?
Seperti pembahasan sejarah genosida yang diprakarsai oleh Adolf Hitler dengan Nazinya, terhadap kaum Yahudi, dikaitkan dengan kegemaran mayoritas seperti tragedi Buster Call di Ohara, One Piece. Atau kala memahami konsep dari kapitalisme yang dikaitkan dengan salah satu arc One Piece di Kerajaan Alabasta. Memahami berbegai struktur, unsur, dan zat-zat sains dalam anime Dr. Stone. Sampai dengan tata cara dan peraturan bermain voli di anime Haikyuu!
Bukankah mempeleajari minat mereka adalah sesuatu yang seru dan menarik? Selain menghimpun referensi, tetapi juga dapat membenahi cara kita menilik berbagai hal dari sudut pandang yang beragam. Aspirasi itu penting, namun membuat suatu perubahan berasaskan pemutakhiran itu lebih baik.
Tak terasa, jam keempat hampir berakhir. Memasuki jam istirahat. Segera kututup bukuku, mengambil dompet, lalu pergi keluar untuk merasakan kemajemukan SMA Negeri 1 Sulang. Wallahualam bishawwab.
Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang Rembang, Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo

