Site icon Baladena.ID

Analisis Teori Kepribadian Sigmund Freud dalam Kisah Nabi Yusuf As.

Kisah Yusuf merupakan kisah yang terbaik (ahsanul qashash) dari aspek gaya, kandungan, dan tujuannya. Kisah ini diawali dengan mimpi Yusuf, disingkirkan kedalam sumur, dijual kepada saudagar Mesir, dirayu istri tuannya, jamuan makan, dipenjara, menakwilkan mimpi, dipertemukan keluarganya, dan i`tibar dari kisah Yusuf.

Teori psikoanalisa Sigmund Freud membedakan kepribadian menjadi 3, yaitu id, ego, dan superego. Dalam kaitannya dengan Islam, superego dalam teori Freud hendaknya diarahkan pada nilai-nilai Islam. Prinsip tauhid harus dipegang sehingga ketika hasrat berbuat buruk muncul dalam diri seorang muslim, maka prinsip tauhid tersebut akan mampu menjadi bentengnya.

Kisah Nabi Yusuf dalam perspektif psikologis mengandung pelajaran berharga, utamanya psikologi tokoh, baik tokoh Nabi Yusuf selaku tokoh primer, maupun tokoh-tokoh sekunder yang lain. Perilaku para tokoh dalam surat Yusuf mencerminkan watak dan mental masyarakat pada waktu itu. Bagaimana pun, sebuah teks, dalam hal ini Al-Quran tidak diturunkan dalam kekosongan budaya (Wolf, 1989). Kisah Nabi Yusuf dalam Al Quran merupakan gambaran realitas kehidupan sosial masyarakat yang berlaku pada saat itu (Akrom, 2014: 234).

Psikoanalisis Sigmund Freud

Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Pada mulanya istilah psikoanalisis hanya dipergunakan dalam hubungan dengan Freud saja, sehingga “psikoanalisis” dan “psikoanalisis Freud” sama artinya. Bila beberapa pengikut Freud dikemudian hari menyimpang dari ajarannya dan menempuh jalan sendiri-sendiri, mereka juga meninggalkan istilah psikoanalisis dan memilih suatu nama baru untuk menunjukan ajaran mereka. Contoh yang terkenal adalah Carl Gustav Jung dan Alfred Adler, yang menciptakan nama “psikologi analitis” (bahasa Inggris: analitycal psychology) dan “psikologi individual” (bahasa Inggris: individual psychology) bagi ajaran masing-masing.

Psikoanalisis memiliki tiga penerapan:
1. Suatu metode penelitian dari pikiran.
2. Suatu ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia.
3. Suatu metode perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.

Teori Psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis dapat dipandang sebagai teknik terapi dan sebagai aliran psikologi. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian, khususnya dari segi struktur, dinamika, dan perkembangannya.

Menurut Freud, asas psikologi adalah alam bawah sadar, yang disadari secara samar-samar oleh individu yang bersangkutan. Menurut Freud, ketaksadaran justru merupakan bagian yang paling besar dan paling aktif dalam diri setiap orang. Adapun kesadaran merupakan bagian kecil saja dari kehidupan mental. Dalam teori Freud, manusia memiliki 2 lapis ketaksadaran, yaitu ketaksadaran personal dan ketaksadaran kolektif. Isi ketaksadaran personal diterima melalui pengalaman kehidupan sebagai material ontogenesis. Adapun ketaksadaran kolektif diterima secara universal dan esensial, sebagai pola-pola behavioral, sebagai material filogenesis. Bentuk ketaksadaran kolektif juga disebut arketipe, yang pada umumnya disamakan primordial.

Dalam psikoanalisis, kepribadian manusia dibagi 3, yaitu id, ego, dan superego. Tingkah laku manusia merupakan produk interaksi ketiganya (Endraswara, 2003: 101)

Pertama: Id 

Id merupakan gudang tempat menyimpan semua insting. Ia sudah ada sejak manusia dilahirkan. Pada mulanya, semua energi psikis disalurkan ke id untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang memang harus dipenuhi untuk kelangsungan diri. Energi id dikendalikan sepenuhnya oleh prinsip kenikmatan ini. Energi id berada dalam keadaan bebas tanpa kekangan apapun dan tidak bisa membedakan antara yang nyata dan tidak nyata. Pemikiran yang tidak membedakan antara khayalan dan kenyataan ini disebut pemikiran proses primer (primary process thinking). Energi psikis yang terkait dengan id bersifat bawah sadar, karena hal itu tidak disadari oleh individu dan tidak bisa ia bicarakan atau pikirkan (Salkind, t.t.: 158). Alam bawah sadar mendorong agar id tetap aktif sepanjang hidup, tetapi apabila individu bertambah dewasa maka kadar energi psikis yang didistribusikan kepada id semakin sedikit. Kadar energi psikis yang didistribusikan kepada ego dan superego kemudian bertambah banyak.

Kedua: Ego

Ego merupakan perilaku yang didasarkan pada prinsip kenyataan. Ego seseorang mulai berkembang karena ketidakmampuan id untuk memenuhi sendiri semua kebutuhan individu. Ia perlu interaksi dengan lingkungannya dalam rangka identifikasi. Pada tahap ini, organisme bisa membedakan antara fantasi dan kenyataan. Proses yang dimiliki dan dijalankan ego sehubungan dengan upaya memuaskan kebutuhan disebut proses sekunder (secondary process thinking) (Salkind, tt: 158). Dengan proses sekunder ini, ego akan berfikir dengan melibatkan fungsi kognitifnya untuk menentukan apakah akan melaksanakan pemuasan kebutuhan tersebut atau tidak (Koswara, 1991: 34). Ego pada awalnya berupa ego penikmat kemudian meningkat menjadi ego rasional yang dikendalikan oleh prinsip realitas.

Kenikmatan ego diwujudkan dengan cara mematuhi realitas-realitas eksternal. Selain berfungsi sebagai pertimbangan realistis terhadap lingkungan, ego menjalankan fungsi penting lainnya yaitu sebagai penengah antara id dan superego dan mengendalikan arah energi yang tersalur ke dunia luar. Menurut Freud, persepsi indrawi lebih banyak pengaruhnya pada ego
dibandingkan pada id dan superego. Pentingnya pengalaman-pengalaman sensorimotor pada ego seperti pentingnya insting pada id.

Ketiga: Superego

Superego merupakan sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif. Fungsi utama superego adalah (a) pengendali dorongan-dorongan naluri id agar disalurkan dalambentuk yang bisa diterima di masyarakat, (b) mengarahkan ego pada tujuantujuan yang sesuai dengan moral dibanding dengan kenyataan, dan (c) mendorong individu kepada kesempurnaan (Koswara, 1991: 34-35). Id, ego, dan superego itu hendaknya berjalan seimbang. Jika tidak, akan menimbulkan neurosis dalam diri manusia.

Dalam Islam juga dikenal 3 tingkatan nafsu, yaitu an-nafs al-ammârah, an-nafs al-lawwâmah dan an-nafs al-muthma`innah. An-nafs al-ammârah merupakan nafsu yang selalu mendorong pemiliknya kepada perbuatan yang buruk. An-nafs al-lawwâmah merupakan nafsu yang selalu mengecam pemiliknya setiap kali berbuat kesalahan, sehingga timbul penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan. Adapun an nafs al-muthma`innah adalah jiwa yang tenang karena selalu mengingat Allah dan jauh dari segala pelanggaran dan dosa.

Kisah Nabi Yusuf dalam Perspektif Psikologi

Dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf secara keseluruhan tertera dalam surat Yusuf (QS.12), diturunkan di Mekah, terdiri atas 111 ayat, dan terletak setelah surat Hud (11) dan sebelum surat Ar-Ra`ad (13). Menurut Quraish Shihab, turunnya surat ini bertujuan untuk menguatkan hati nabi yang saat itu sedang dirundung kesedihan akibat wafatnya istri dan pamannya; Siti Khadijah dan Abu Thalib. Adapun menurut al Biqâ’i, tujuan utama turunnya kisah ini adalah untuk membuktikan bahwa kitab suci Al-Quran benar-benar merupakan penjelasan menyangkut segala sesuatu yang mengantar pada petunjuk (tilka âyâtul kitâbil Mubîn), berdasar pengetahuan dan kekuasaan Allah swt secara menyeluruh, baik yang nyata maupun yang gaib. Kisah Nabi Yusuf terdiri atas 10 episode, yaitu mimpi Nabi Yusuf, Nabi Yusuf disingkirkan saudaranya, Nabi Yusuf dijual kepada orang Mesir, rayuan istri orang kepada Nabi Yusuf, jamuan makan, dalam penjara, mimpi raja dan kebebasan Nabi Yusuf, Nabi Yusuf menjadi pejabat pemerintah, pertemuan dengan keluarga, dan i’tibar dari kisah Nabi Yusuf. Masing-masing episode tersebut, dijabarkan sebagai berikut.

Pada episode pertama, Nabi Yusuf bermimpi melihat 11 bintang, serta matahari dan bulan bersujud kepadanya.

اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ

Artinya: (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tak sadar karena dia melihat isi mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan waktu sadar yang direpres. Karenanya, mimpi juga bisa ditafsirkan sebagai pemuasan simbolis dari keinginan-keinginan. Dengan teknik penafsiran mimpi yang menyertakan analisis atas makna-makna yang samar dari simbul-simbul mimpi, akan ditemukan gejala atau konflik motivasional yang dialaminya (Koswara, 1991: 65-66).

Mimpi Nabi Yusuf melihat sebelas bintang dan bulan yang bersujud kepadanya tidak terlepas dari kondisi Nabi Yusuf pada saat itu di antara saudara-saudaranya. Secara psikologis dan naluri, sebagai anak terkecil, ia mengharapkan kasih sayang dari para saudaranya. Namun, keinginan itu tidak terwujud akibat rasa cemburu saudara Nabi Yusuf kepadanya akibat rasa cinta
seorang ayah yang lebih kepada Nabi Yusuf dibanding kepada mereka. Posisi Nabi Yusuf yang lemah pada saat itu mengakibatkan ia punya obsesi dan cita-cita yang ditekan di alam bawah sadar. Berbagai obsesi, keinginan, dan cita-cita itu kemudian terbawa ke alam bawah sadarnya hingga akhirnya ia bermimpi melihat 11 bintang yang bersujud kepadanya.

Namun demikian, mimpi tersebut tidak dapat dipisahkan dari rangkaian teks Al-Quran sebagai petunjuk Allah dan Nabi Yusuf sebagai manusia pilihan. Sebagai calon Nabi, ia bermimpi tentang masa depan (sistem ingatan jangka panjang) yang akan dialaminya. Sebagai implikasi dari mimpi sebagai petunjuk ini adalah sikap tahan banting yang dimiliki Nabi Yusuf dalam menghadapi berbagai cobaan, mulai cobaan ditinggal wafat oleh sang ibu, dikucilkan oleh saudara-saudaranya yang merasa cemburu, dimasukkan ke dalam sumur, dicintai oleh istri al-Aziz, hingga sampai masuk penjara.

Mimpi yang berada di bawah sadar manusia memiliki dampak kejiwaan bagi yang mengalaminya. Dampak mimpi yang baik akan membahagiakan dan dampak mimpi negatif akan menyedihkan. Berdasarkan teori psikologi Freud, mimpi itu bagai lukisan atau bagai seni pahat yang memiliki makna simbolik sebagaimana bahasa. Nabi Ya’kub telah menjelaskan makna simbolik itu. Secara psikologis, ketika tokoh Nabi Yusuf bermimpi dan menceritakan mimpi itu kepada Nabi Ya’kub, hal itu disebabkan karena kebahagiaan akibat mimpi itu juga ingin dibagi bersama orang yang paling dekat di hatinya.

Pada episode kedua, Nabi Yusuf disingkirkan oleh para saudaranya. Kepribadian id mereka mendominasi ketika sepakat untuk memasukkan Nabi Yusuf ke dalam sumur. Ego mereka muncul ketika melaksanakan rencana itu. Adapun kepribadian superego muncul ketika mereka berkeinginan untuk menjadi orang yang saleh setelah kejadian itu. Mereka sepakat untuk tidak
membunuh Nabi Yusuf, tetapi hanya menyingkirkannya. Hal ini berarti mereka masih dikendalikan oleh superego mereka. Sumur yang ditempati untuk membuang Nabi Yusuf adalah sumur yang tidak terlalu banyak airnya, tidak terlalu dalam, bahkan mereka memperkirakan sumur itu sering dilewati oleh para musafir untuk beristirahat dan mengambil air di sumur itu. Mereka
berharap Nabi Yusuf akan dibawa oleh musafir dan jauh dari kehidupan mereka dengan maksud agar Nabi Ya’kub akan mencintai mereka sebagaimana cintanya kepada Nabi Yusuf.

Pada episode ketiga, Nabi Yusuf dijual kepada orang Mesir. Para musafir merasa senang ketika menemukan Nabi Yusuf . Kesenangan itu akibat prediksi keuntungan ekonomis yang akan mereka peroleh. Orang yang membeli Nabi Yusuf pun merasa senang. Hal ini diketahui dari sikapnya terhadap Nabi Yusuf, yaitu (1) menjadikannya sebagai anak, (2) diberi tempat dan pelayanan yang baik. Secara psikologis, seseorang yang sudah bersuami istri pastilah menginginkan keturunan. Ketika keinginan itu belum tercapai, terdapat rasa berharap dan terus berharap.

Pada episode keempat, terjadi rayuan seorang istri kepada Nabi Yusuf. Sikap seorang istri itu telah didominasi oleh kepribadian id dan egonya. Sementara Nabi Yusuf dengan berpegang pada wahyu, telah dikendalikan sikapnya oleh superegonya. Kepribadian id yang mendominasi wanita itu juga ditunjukkan oleh sikapnya yang mengoyak baju Nabi Yusuf dari belakang. Hasrat birahi yang muncul dari dalam diri wanita itu tidak terbendung akibat gejolak cinta yang sudah lama terpendam.

Berdasarkan sikap yang ditampakkan oleh Zulaikha dan Nabi Yusuf, diketahui bahwa secara psikologis, Zulaikha mengalami frustasi karena keinginannya yang berkali-kali ditolak hingga ia memaksa Nabi Yusuf. Berdasar teori psikologi, seseorang akan mengalami frustasi karena keinginannya tidak terpenuhi. Tidak terpenuhinya harapan dan keinginan tersebut bisa disebabkan
faktor fisik maupun psikis. Frustasi ada tiga jenis, yaitu: (a) sosial, (b) individual, dan (c) komplit (Floyd and G. Philip, 1971: 461). Frustasi yang dialami Zulaikha termasuk frustasi individual sekaligus sosial.

Lapis ego yang mengalami frustasi akan merasa sakit, lalu bereaksi secara tidak sadar untuk mengurangi tekanan batin yang menimbulkan rasa sakit atau stress. Reaksi itu disebut reaksi mekanistik (defense machanism). Adapun reaksi mekanistik yang dilakukan oleh Zulaikha adalah reaksi agresif, yaitu
menyerang Nabi Yusuf dengan membuatnya di penjara dan mengundang para perempuan di lingkungannya yang telah mencibir perbuatannya dengan mengundang mereka pada jamuan makan malam. Hal itu dilakukan dalam rangka rasionalisasi. Rasionalisasi adalah proses merekayasa alasan agar logis atas situasi tertentu, karena jika dibiarkan akan mengakibatkan hilangnya harga diri di hadapan masyarakat.

Pada episode kelima, terdapat jamuan makan. Para undangan yang terdiri atas para wanita itu menggunjing sikap istri Al-Aziz yang menggoda Yusuf. Maka ketika ia mendengar gunjingan itu, istri Al-Aziz meminta para wanita itu untuk memegang pisau dan buah. Terperangahlah mereka ketika melihat Nabi Yusuf yang sangat tampan sampai terpotonglah jari tangan mereka.

Pada episode keenam, diceritakan bahwa Nabi Yusuf berada di penjara bersama dua orang pemuda. Di penjara inilah Nabi Yusuf menjadi pena’wil mimpi 2 orang pemuda tadi. Pena’wil pertama menggembirakan bagi yang menerima mimpi itu, yaitu ia akan kembali ke rumah tuannya, melakukan pekerjaan semula dan takwil kedua merupakan takwil yang mencekam jiwa
yang bermimpi itu sehingga ia berkata bahwa mimpinya tadi hanyalah bohong belaka. Takwilnya adalah ia akan disalib dan digantung, lalu burung makan sebagian kepalanya.

Pada episode ketujuh, Nabi Yusuf mendapat kesempatan untuk menakwilkan mimpi sang raja. Karena ta’wilnya benar, maka ia dibebaskan. Adapun pada episode kedelapan, Nabi Yusuf menjadi pejabat pemerintah. Ia minta jabatan sebagai bendaharawan Negara. Permintaan ini didorong oleh rasa percaya diri Nabi Yusuf dan sikapnya yang jujur. Ia meminta jabatan sesuai dengan spesifikasi yang dimilikinya.

Dalam teori psikologi, kekuasaan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan (needs) adalah keadaan yang menimbulkan motivasi. Maslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkat, yaitu (1) kebutuhan biologis,  (2) kebutuhan rasa aman, terhindar dari kecemasan dan ketakutan, (3) kebutuhan sosial (mencintai dan dicintai), (4) kebutuhan-kebutuhan harga diri, dan (5) kebutuhan aktualisasi diri.

Pada episode kesembilan, Nabi Yusuf dipertemukan dengan keluarganya. Para saudara Nabi Yusuf yang datang padanya untuk mengambil jatah bahan makanan yang dibagikan kepada penduduk Mesir dan sekitarnya. Rasa rindu Yusuf kepada Benyamin dan ayahnya yang telah terpendam lama, mendapatkan kesempatan untuk bertemu. Pertemuan dengan saudara ini dalam teori kebutuhan termasuk kebutuhan sosial.

Adapun episode kesepuluh merupakan i’tibar dari kisah Nabi Yusuf, diantaranya menjelaskan prinsip-prinsip segala yang dibutuhkan manusia menyangkut kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.

Kisah Nabi Yusuf memberikan pelajaran bagaimana seseorang yang harus tetap teguh pada keimanan dan prinsip-prinsip Islam meskipun menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup yang silih berganti. Kesabaran dan tidak putus asa serta bertawakkal akan membuahkan kesuksesan. Kejujuran akan membawa manusia pada derajat yang tinggi. Rasa takut kepada Allah dan selalu merasa dalam pengawasan Allah telah membuat manusia terhindar dari perbuatan keji. Allah akan selalu menolong hambanya yang selalu berdoa, baik di kala sempit maupun di kala lapang.

Exit mobile version