Site icon Baladena.ID

Anak Buruh Terasi Rembang Raih Doktor di UIN Walisongo: Luluk dan Perjuangan yang Tak Pernah Berhenti

BALADENA.ID, SEMARANG — Di Desa Bonang, Lasem, Rembang, bau terasi adalah bagian dari udara. Ia melekat di baju, di dinding rumah, di tangan ibu yang setiap hari bergelut dengan udang rebon. Bagi Mamluatur Rahmah, bau itu bukan aib. Ia adalah saksi.

Rabu, 10 Juni 2026, perempuan yang akrab disapa Luluk itu berdiri di Gedung Pascasarjana UIN Walisongo Semarang sebagai promovendus. Di hadapan para penguji, ia mempertahankan disertasinya tentang kecemasan kematian pada lansia di Pondok Pesantren Payaman, Magelang. Hasilnya: nilai disertasi 3,88, IPK akhir 3,84, dan satu gelar baru yang melekat di namanya, Doktor.

Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. yang hadir langsung memberikan apresiasi atas capaian tersebut, begitu pula salah satu penguji, Dr. Sulaiman Al-Kumayi, yang memuji ketajaman analisis Luluk dalam mengaitkan khazanah tasawuf dengan kerangka psikologi modern.

Linier dari S1 hingga S3, Satu Bidang Satu Keyakinan

Yang membuat perjalanan akademik Luluk luar biasa bukan hanya asal-usulnya, melainkan konsistensinya. Sejak S1, S2, hingga S3, ia menempuh jalur yang sama: program studi Tasawuf dan Psikoterapi, di kampus yang sama, UIN Walisongo Semarang.

Satu kampus. Satu bidang. Satu komitmen yang tidak pernah goyah.

Bagi Luluk, ini bukan kebetulan. Ia percaya bahwa khazanah spiritual Islam menyimpan jawaban atas persoalan-persoalan jiwa yang selama ini didominasi pendekatan Barat. Disertasinya adalah pembuktian itu: mempertemukan teori tasawuf, psikologi, dan realitas lapangan dalam satu kajian yang, menurut para penguji, jarang dijelajahi secara serius.

Tangan Ibu, Bahan Bakar yang Tak Pernah Habis

Lahir dari keluarga buruh terasi, Luluk tumbuh di lingkungan di mana pendidikan tinggi bukan standar, melainkan pengecualian. Suara-suara yang meragukan sudah ia dengar sejak lama.

“Banyak yang bilang, ‘Ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti ujungnya di dapur juga,'” kenangnya seusai sidang promosi. “Tapi saya ingin membuktikan bahwa perempuan, dari latar belakang ekonomi apa pun, berhak memiliki intelektualitas.”

Di saat-saat paling berat dalam penulisan disertasi, ada satu gambar yang selalu ia hadirkan dalam pikiran.

“Setiap kali saya merasa lelah atau pusing dengan metodologi yang rumit, saya selalu membayangkan tangan ibu saya. Tangan yang kasar karena setiap hari menjemur dan mengolah terasi. Saya tidak punya hak untuk menyerah ketika beliau saja tidak pernah menyerah menyekolahkan saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

BIB: Ketika Negara Hadir untuk Anak Buruh

Di antara tekad dan doa orang tua, ada satu faktor kritis yang membuat mimpi itu bisa terwujud secara konkret: Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), program kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP yang dirancang untuk mencetak kader unggul dari lingkungan pesantren dan pendidikan Islam.

“Tanpa BIB, mungkin mimpi saya hanya akan terkubur di tumpukan jemuran terasi,” akunya.

Namun bagi Luluk, beasiswa itu lebih dari sekadar pembiayaan kuliah. “Ini soal martabat dan kepercayaan bahwa negara hadir untuk anak-anak seperti saya,” tegasnya.

Pernyataan ini relevan dalam konteks yang lebih luas. Data Kemenag menunjukkan bahwa program BIB telah menjangkau ribuan penerima dari latar belakang pesantren dan madrasah di seluruh Indonesia, sebagian besar dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Luluk adalah wajah dari angka-angka itu.

Monash Institute: Rumah yang Menyalakan Api

Sebelum BIB, ada ekosistem lain yang lebih awal membentuk Luluk. Ia adalah Disciple Monash Institute angkatan 2012, sebuah lembaga perkaderan yang memberikan beasiswa kuliah bagi lulusan SMA dari keluarga kurang mampu, dan menempa mereka dalam tradisi keilmuan yang ketat dan lintas batas.

Fondasi itu tidak hilang. Ia menjadi salah satu pilar yang menopang Luluk saat menghadapi kerumitan metodologi doktoral bertahun-tahun kemudian.

Di hari sidang, sejumlah sahabat dari Monash Institute hadir menyaksikan momen itu. Di antara mereka, Khoirun Ni’mah, rekan satu angkatan 2012, tak kuasa menahan haru. Ia mengenang masa-masa ketika keduanya masih sama-sama berjuang, pulang malam dari mengajar les, menerjang jalan dengan sepeda motor, kadang ditemani rintik hujan.

“Ingat dulu malam-malam pulang ngelesi bareng kamu, aku yang selalu di depan. Motoran kadang ditemani rintik hujan. Ternyata sekarang sudah lulus S3 dan bisa boncengin aku pula,” ujar Ni’mah, disambut tawa dan air mata sekaligus. “Alhamdulillah, turut bahagia, ya, Cinta.”

Satu kalimat pendek yang merangkum perjalanan panjang dua sahabat, dari jalanan malam yang basah hingga podium kelulusan doktoral.

Penghargaan juga disampaikan dari Hendra Siregar, Presiden Monasmuda Institute, yang turut hadir langsung menyaksikan prosesi Sidang Promosi Doktor.

“Ini adalah wujud nyata dari komitmen yang selalu kami perjuangkan bersama. Menyelesaikan pendidikan hingga S3 adalah bagian dari spirit yang selalu disampaikan oleh Founder Monasmuda Institute, Abana Dr. Mohammad Nasih,” ujar Hendra. “Sekarang tinggal satu tugas berikutnya: menambah dan memastikan kebermanfaatan untuk umat dan bangsa.”

Bagi Monasmuda, kelulusan Luluk adalah bukti bahwa ekosistem perkaderan yang dibangun bertahun-tahun terus berbuah jauh melampaui masa studi.

Kini Dosen, Tetap Pengabdi

Luluk kini mengabdi sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta, sekaligus aktif di Lembaga Kesehatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Sukoharjo. Sebagai istri Abdus Salam, ia menjalani peran ganda yang ia sendiri tidak anggap sebagai beban, melainkan sebagai pilihan yang utuh.

Sebelum meninggalkan Gedung Promosi Doktor, Luluk menitipkan pesan.

“Jangan pernah membatasi mimpi kalian hanya karena melihat dompet orang tua. Selama ada peluang dan kemauan, pasti ada jalan. Pemerintah sudah menyediakan banyak fasilitas seperti BIB ini. Tugas kita hanya satu: belajar lebih keras dari orang lain, dan jangan pernah melupakan doa orang tua.”

Di Desa Bonang, Lasem, Rembang, angin laut masih berhembus seperti biasa. Bau terasi itu masih ada. Tapi kini, dari pesisir yang sama, Indonesia mendapat satu doktor baru yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari keringat, doa, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah hak siapa pun.

Exit mobile version