Site icon Baladena.ID

Al-Qur’an Dianggap sebagai Kitab Plagiasi

Pada awal abad 19 pembahasan Al-Qur’an di bumi bagian barat mulai mengalami pergeseran makna, semula  kajian ini bersifat apologetik dan polemik menjadi kajian yang lebih mengedepankan sifat akademisnya. Kajian akademis ini pertama kali ditandai dengan adanya karya Abraham Geiger yang berjudul Wat hat Mohammad aus dem Judenthume Aufgenommen? Dalam buku ini, penulis mulai meninggalkan pendekatan yang bersifat apologetic polemic menuju model pendekatan baru yang lebih deskriptif yaitu pendekatan Historical-Criticism (Kritik Historis).

Berbeda dengan abad ke 20, para sarjanawan barat dalam memahami Al-Qur’an mulai menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini hanya mengedepankan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat tanpa mengetahui asal-usulnya. Dengan kata lain, pendekatan ini tidak menggunakan teori yang sifatnya pasti. Mereka hanya menduga-duga saja.

Abraham Geiger  yang merupakan tokoh barat mengungkapkan bahwa Muhammad dalam kitabnya yaitu Al-Qur’an banyak  mengambil ajaran-ajaran dari Yahudi. Geiger juga melontarkan beberapa pertanyaan di awal bukunya “Apakah Muhammad memang berkeinginan untuk mengambil dari Yahudi, bisakah Muhammad melakukan pengambilan itu, jika bisa dilakukan, dengan cara apa Muhammad melakukannya, dan apa yang sebanding dengan rencana Muhammad untuk mengambil dari Yahudi?

Geiger memiliki dua faktor utama untuk memperkuat argumennya. Pertama, tentang adanya unsur-unsur agama lain yang diambil alih dan dipadukan ke dalam agama Islam. Geiger berasumsi bahwa penyerapan gagasan tertentu menjadi mungkin karena sebuah budaya relatif terbuka bagi masuknya konsep budaya lain. Kedua,  bahwa gagasan yang dipinjam itu berasal dari tradisi Yahudi, bukan Kristen atau Arab kuno. Ia beranggapan bahwa gagasan-gagasan tersebut masuk ke dalam agama Islam secara langsung dari literatur Rabinik atau dari Al-Kitab berbahasa Ibrani yang ditafsirkan oleh orang-orang Yahudi.

Contohnya, dalam agama Yahudi dan Islam, masing-masing agama mewajibkan pemeluknya untuk melakukan  ritual bersuci sebelum  melakukan sembahyang. Geiger juga menyatakan bahwa dalam beberapa kasus ada perbedaan, yakni Muhammad dengan sengaja mengubah atau menyalahi ajaran Yahudi untuk menyesuaikannya dengan konteks sejarah, budaya atau etika moralnya sendiri.

Teori yang dikemukakan Geiger kemudiaan dikembangkan lagi oleh para orientalis lainnya yaitu Theodor Noldeke. Beliau merupakan seorang Pendeta Kristen berasal dari Jerman yang memuji pemikiran Geiger. Noldeke menjadikan Bibel sebagai tolok ukur dalam menilai Al-Qur’an, Noldeke berasumsi bahwa Al-Qur’an merupakan hasil karangan Nabi Muhammad. Noldeke menyatakan bahwa sumber utama wahyu yang dibawa Muhammad bersumber dari kitab Yahudi. Semua ajaran-ajaran Al-Qur’an, misalnya kisah-kisah para Nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an, bahkan aturan-aturan yang dibawa oleh Muhammad mulai dari surah yang pertama secara jelas tiruan dari kitab Yahudi. Dengan kata lain, semua teks yang ada di Al-Qur’an merupakan duplikat dari kitab Yahudi.

Untuk membuktikan risetnya, Noldeke memberikan beberapa contoh tentang teori keterpengaruhan yang diambil oleh Muhammad dari tradisi atau elemen Yahudi dan Kristen. Di antara contoh yang dikemukakan Noldeke yang pertama yaitu kalimat Laa illa ha illa Allah merupakan kalimat adopsian dari kitab Samoel II 32:22, Mazmur 18:32. Kedua, lafadz basmalah yang digunakan oleh orang-orang Yahudi dan Kristen untuk memulai suatu pekerjaan. Noldeke beranggapan bahwa Muhammad menirukan lafal ini yang kemudian diajarkan juga di dalam Islam.

Dalam teori Islam, Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Dalam konteks ini, kata “penyempurna” bukan berarti “plagiasi.” Jika Al-Qur’an merupakan kitab plagiasi, maka antara zaman dahulu hingga zaman sekarang kondisinya sama saja dan tidak ada perubahan. Al-Qur’an hanya merubah redaksi supaya ajaran-ajaran yang belum pas bisa disempurnakan oleh Al-Qur’an. Selain itu, Al-Qur’an juga bukan merupakan karya Nabi Muhammad, Al-Qur’an murni wahyu dari Allah yang kemudian diturunkan atau diberikan  kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada umat manusia.

Wallahu a’lam bi al-Shawaab

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version