Site icon Baladena.ID

Aku Menemukanmu Tanpa Sengaja dan Aku Mencintaimu dengan Sebenar-Benarnya

Kita tidak pernah tahu kapan kita akan jatuh cinta. Kita juga tak pernah tahu akan dengan siapa gerangan kita jatuh cinta. Seperti halnya aku tak sengaja menemukanmu pada waktu yang tidak pernah bisa kuterka. Terpikirkan sosokmu saja, aku tidak pernah kuasa membayangkannya. Bertemu sosokmu di dalam hidupku tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Tuhan memang selalu memiliki skenario hebat yang di luar nalar manusia. Kita tidak pernah menerka perihal pertemuan. Tuhan menyembunyikan garis waktuNya sendirian. Agar kita sebagai hambaNya lebih kuat, lebih tabah, lebih hebat dalam menata kehidupan dan mimpi setinggi langit biru.

Apakah kamu pernah tahu? Perihal mencintaimu bukanlah satu dari ribuan pintaku kepada Tuhan. Aku tidak pernah tahu maksud Tuhan mempertemukanku denganmu. Tapi yang kupercaya, Tuhan tidak pernah mempertemukan sepasang manusia tanpa sebab. Seperti hal nya aku menemukanmu kala aku benar-benar tidak ingin membuka hati untuk siapapun itu. Kau memasuki ranah kehidupanku tanpa sengaja, dengan sekuat tenaga kau runtuhkan benteng pertahananku. Menyelinap detik demi detik di dalam kehidupanku. Membuatku luluh lantah terhadap cinta yang kau sajikan waktu senja di awal semester ganjil. Dan tanpa sengaja aku mencintaimu dengan sebenar–benarnya.

Kita memang tidak pernah tahu, perasaan seseorang itu seperti apa. Tapi yang kutahu, aku enggan untuk kehilanganmu. Aku tidak pernah bersedia engkau menjadi milik sosok selain aku. Jika kau bilang “Aku egois”, silahkan. Terkadang, cinta perlu egois. Aku tidak cukup memiliki keberanian untuk mengukir kisah baru dengan hati yang baru. Karena aku tahu, itu tidak mudah. Dan untukku sekedar berpendapat jika cinta akan membuat kita baik-baik saja itu tidaklah mudah. Aku perlu memunggut satu per satu puing-puing hatiku yang tengah porak-poranda sebelum mengatakan kepada hatiku jika “Kamu hebat” lalu menjalani hari seolah baik-baik saja.

Mencintaimu karena kurun waktu karena terbiasa dengan pertemuan yang tanpa sengaja diciptakan Tuhan di awal semester tiga. Dan harus melepaskanmu bahagia bersama hati yang bukan aku, itu berat. Maaf, aku pernah lancang memintamu secara terang-terangan kepada Tuhanku. Sedangkan aku secara mati-matian mengatakan “Kamu tidak mungkin mencintaiku” di depanmu. Asalkan kamu tahu hatiku, hatiku perih kala harus terus menahan rasa ini bersemayam di lubuk hatiku terdalam sedangkan secara diam-diam ada hati lain yang sedang kau perjuangkan. Dan itu, bukan aku. Memang kamu tidak pernah tahu bagaimana hancurnya aku. Karena aku selalu berusaha baik-baik saja di depanmu. Karena aku tidak terlalu pandai untuk membuatmu tahu bagaimana rasaku terhadapmu.

Seolah-olah duniaku terhenti. Hatiku mendadak mati. Rasaku hancur tak beraturan. Kau tahu kenapa? Aku memutuskan untuk berhenti dan berbalik arah. Karena kurasa kau lebih bahagia bersamanya daripada denganku. Kupikir hingga detik ini pun kau masih tidak tahu rasaku. Karena kau tidak pernah peka akan aku. Kau tidak pernah tahu bagaimana aku. Dan kau tidak pernah tahu lebih tentangku.

Setelah kupikir-pikir, ternyata rasaku tidak terlalu penting untukmu. Padahal, aku pernah mengatakan pada diriku “Katakanlah, ia perlu tahu bagaimana rasamu” tapi mendadak logikaku mengatakan “Jangan” hingga kuputuskan untuk tetap diam. Membiarkan hati berjalan sebagaimana mestinya. Terus terpuruk dalam problematika hati memang tidaklah pantas untuk terus dilanjutkan. Aku memang mencintaimu tapi ternyata ada hati yang lebih menunggu kesuksesanku. Sosok itu, adalah sosok berkepala empat yang senantiasa selalu menungguku pulang dengan senyum yang selalu gagal kuterka di baliknya.

Kembali kuingat dan kutegaskan. Aku mencintaimu tapi tidak akan kuperjuangkan mati-matian saat ini. karena ada nama yang harus selalu kusebut disetiap panggung sandiwara sebelum namanya dipanggil oleh sosok laki-laki hebat berpeci hitam di tengah ribuan mata. Ada karir yang harus kulonjakkan diantara ribuan orang yang sibuk menjatuhkanku dengan alasan di luar nalar. Aku harus berjuang sendiri untuk itu semua. Karena doa langkahku kuserahkan semua pada ibuku, sosok penentu surgaku.

Maaf, bukannya aku tidak apa-apa dengan kata kehilangan. Tapi semakin kesini, aku semakin berpikir. Yang pergi, biarlah pergi. Aku tidak perlu lagi mencegahmu untuk pergi apalagi mengejarmu. Waktuku akan habis ketika aku sibuk mengejarmu yang lari kesana kemari tidak karuan. Tenagaku akan habis dengan alasan aku mengejarmu mati-matian. Padahal kau saja sibuk berlari tanpa perasaan.

Ingatlah, saat ini aku sedang berjuang untuk bersamamu. Untuk membersamaimu, tapi tidak dengan gelarmu. Gelarmu terlalu tinggi dan lama untukku raih dalam kurung cerita yang singkat. Aku ingin membahagiakan keluarga kecilku dan diriku, sebelum aku membahagiakanmu. Tunggu aku, meroketkan namaku sebentar saja, agar aku tidak malu jika bersanding denganmu. Aku tidak akan melupakanmu, aku akan menemuimu pada waktu yang tepat percayalah. Karena aku menemukanmu tanpa sengaja dan mencintaimu dengan sebenar-benarnya.

Exit mobile version