Di antara gerimis yang merenda sunyi,
dua bayang menyatu dalam satu nama:
kau adalah kata yang ku tulis di nadi,
dan aku—angin yang mengikatnya sama.
Matahari tak pernah temui rembulan,
tapi cahaya mereka satu di mataku.
Seperti malam yang diam-diam merindukan,
tanpa suara, tanpa jejak, tanpa rindu.
Api diam-diam merambat di nadi,
tapi dada ini tenang bagai telaga.
Ku cintaimu dengan satu yang tak terbagi:
satu rahasia, satu lara, satu bahtera.
Kita adalah dua jejak dalam satu debu,
yang ditelan waktu tapi takkan sirna.
Di sini, di ujung langit yang membisu,
satu jalan mengalir: kau dan aku.
Badai mencabik-cabik doa,
duri mengoyak kafan asa,
tapi akar kita tetap satu—
tersembunyi, dalam tanah yang bisu.
Di kelam yang menggunting malam,
pelita kita hanya satu:
nyala yang tak kenal pamrih,
menari di antara duri dan duka.
Aku mencintaimu dengan satu—
bukan dengan seribu janji yang retak,
bukan dengan gemuruh yang pudar.
Hanya dengan satu:
keabadian yang diam-diam bernafas
di ruang antara denyut dan hening.
Karena cinta bukan bilangan,
tapi langkah yang tak terduga:
satu langkah, satu nafas, satu arus—
di mana kau dan aku
tak lagi mengenal “dua”.

