Site icon Baladena.ID

Sepotong Kenangan

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (al-Isra’ : 23)

Pagi yang cerah di langit Bangka telah melengkapi keindahan hari yang penuh berkah. Idul Adlha telah menyelimuti hati kami. Lantunan indah terus menggema menjadi bagian yang indah dan tak ada duanya. Sahut menyahut menjadi satu rasa dalam rangka menyambut kemenangan sejati. Kemenangan dari Sang ilahi Rabbi. Kuucapkan kalimat tahmid berkali-kali sebagai rasa syukur karena telah bertemu dengan hari ini.

Namun, hari yang membahagiakan ini terasa bercampur dengan keluh kesah yang semakin menjadi-jadi. Hal ini bukan karena tak ada baju lebaran yang serba mewah ketika berada di rumah ataupun kue yang serba tertata dan terasa sedap ketika di pandang mata.

Perjuangan kami dalam rangka menghafal kalam-Nya yang indah belum juga tertuntaskan dalam waktu hampir 10 bulan lamanya. Ketidakhadiran keluarga juga telah cukup menjadi selimut kesedihan kami. Kurasa, Tuhan sedang tidak adil kepada kami karena tidak mau memberikan kemudahan dalam rangka mencapai ridha-Nya. Tuhan juga tidak mengizinkanku bertemu dengan keluarga yang sangat kucintai dengan membiarkanku terus menerus menetap di penjara suci karena tidak diizinkan Abah.

Abah Anis, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hubbah menasihati kami agar tetap istiqamah dalam menghafalkan al-Qur’an. Dengan iming-iming bahwa perjuangan kami akan terbayarkan oleh telaga al-Kautsar-Nya jika kami ikhlas menghafalkan kalam-Nya dan mengamalkannya. Lalu, mulailah Abah kesayangan para santri ini mengisyaratkan langkah perjuangan dalam proses menghafalkan al-Qur’an.

“Dalam menghafalkan al-Qur’an, kita harus berlari. Jika tidak bisa berlari, maka berjalanlah! Jika tidak bisa berjalan sambil berdiri, maka berjalanlah sambil jongkok, bahkan berjalan sambil ngesot pun tetap harus berjuang. Sesusah apapun itu. Jangan smapai kekecewaan akan timbul di akhir kisah. Banyak sekali orang di luar sana yang menghafalkan al-Qur’an sampai bertahun-tahun, namun tetap tidak putus asa,” tegas Abah Anis dalam kajian rutinnya.

Apapun yang disampaikan oleh Abah Anis selalu menjadi motivasi besar bagi para santrinya. Tak heran jika para santrinya hanyut dalam kajian, bahkan ada yang sambil menangis ketika mendengar nasihatnya. Hal itulah yang mengundang semangat kami terus berkobar tanpa padam.

***

Aku lantas beristighfar lebih dari 20 kali. Aku mulai ingat bahwa masih ada orang merasakan kesulitan dalam menghafalkan al-Qur’an. Banyak orang yang menghafalkan al-Qur’an bertahun-tahun, namun tak kunjung mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku juga merasa sadar jika aku berada di rumah, maka dapat dipastikan bahwa hafalanku semakin hari semakin merosot turun tak terkendalikan.

Aku khusyuk mendengarkan siraman rohani dari Abah Anis. Abah yang penuh dengan kharismatik dan ilmu pengetahuan yang sangat autentik. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa ketika kajiannya berlangsung, kami sibuk menulis poin-poin yang beliau sampaikan.

Di tengah-tengah ceramahnya, tiba-tiba saja Abah mengambil tema baru, yakni tentang perjuangan orangtua terhadap anaknya agar dapat menjadi penghafal al-Qur’an. Kami merasa tersindir namun menerima nasihatnya.

***

Tamparan aneh melesat tepat di wajahku. Aku tersadar bahwa tamparan itu mengisyaratkan ada suatu realita yang tak sesuai dengan idealita. Awalnya, aku merasa ini suatu bentuk ketidakadilan. Aku diperlakukan dengan hal yang tidak terhormat. Usiaku masih cukup belia. Namun, gara-gara penolakanku untuk membaca kalimat indah milik-Nya menjadikanku harus merasakan sakitnya tamparan keras penuh ancaman.

“Memang orang yang kejam,” tuturku ketika hati ini tak dapat menerima perlakukan seperti itu. Aku rasa sudah tidak ada artinya lagi hidup di dunia ini jika harus dipaksa melakukan hal yang akan menyusahkanku.

Namun, dia mengingatkanku dengan membaca Surat Taha ayat 2 yang menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan bukan untuk menyusahkan manusia tetapi untuk memudahkan semua urusan baik di dunia maupun di alam sana.

Aku terus menolak semua paksaan itu. Aku tak ingin menjadi penghafal al-Qur’an yang akan membuatku tak bisa ke mana-mana.

“Abah tahu. Aku tak ingin menjadi penghafal al-Qur’an. Oleh karena itu, jangan paksa aku” tuturku penuh amara. Bagaimanapun, aku harus menang. Aku tak ingin membuat hidupku tambah susah dengan menghafalkan al-Qur’an.

***

Air mata telah menjadi teman setia setiap kali pikiran itu melesat di otakku. Ditambah lagi, ketika mendengar mauidhah ini. Aku tak sadar bahwa hal yang ku lakukan dulu adalah bentuk kesalahan yang berakibat fatal dan bermuara pada penyesalan mendalam sampai sekarang.

Ketika melihatku menangis, Abah bertanya pada kami adakah yang sudah tidak punya orang tua lagi. Aku dan temanku, Aila  menunjuk tangan ke atas karena sama-sama telah kehilangan satu orang yang tersayang. Namun, Aila telah kehilangan sosok ibu. Sementara diriku telah kehilangan sosok ayah.

Aila tak menagis layaknya diriku. Hal ini mungkin karena dia telah mendapatkan ibu baru yang sudah lama menikah dengan ayahnya sejak dia masih berusia tiga tahun lalu. Kasih sayang yang diberikan ibu tirinya membuatnya tak pernah mengingat sosok ibu kandungnya.

Abah kemudian mengingatkan bahwa penghafal al-Qur’an seakan-akan sedang bersama orang tuanya yang sudah meninggal dunia dan sangat dekat walaupun secara metafisik saja. Abah mengibaratkan bahwa aku dan ayah hanya terpisah oleh satir penutup salat saja.

Setelah kajian selesai, Abah memanggilku untuk masuk ke ruang tamu rumahnya. Sesegera mungkin ku penuhi panggilan itu agar Abah tidak menunggu. Alhandulillah, aku datang sebelum Abah di ruang tamu.

Tak lama setelah itu, Abah datang bersama Ummi Nafisah, istrinya. Dengan wajah penuh makna karena ditemani kekasih hidupnya, Abah melangkah dengan gaya penuh marwah yang menggambarkan kebijaksanaannya.

***

Abah terus menghiburku dengan berbagai mahfudhot indah dan khas yang telah dia rangkai agar aku tidak menitikkan air mata lagi karena mengingat masa lalu yang tak berfaidah bagi diri.

Bukan berhenti menagis, air mataku mengucur makin deras. Aku takut kalau hafalanku hanya akan membawa kepada kesia-siaan dan tidak dapat mengantarkan kepada kebahagiaan orang tua di akhirat sana.

Seringkali aku diberi tahu mengenai keutamaan menghafal al-Qur’an yang sangat membanggakan banyak orang terutama orang tua. Ibuku juga memberi tahu bahwa jika ingin membahagiakan orang tua di dunia dan di akhirat, maka haruslah membekali diri dengan al-Qur’an. Salah satunya dengan cara menghafalnya.

“Kelak mereka akan dipasangkan mahkota dan jubah kebanggan” kurang lebih begitu ketika aku diberi nasihat oleh kakak kelasku saat rasa malas muraja’ah  tengah menghantui nafsu. Aku memang bukan siapa-siapa di dunia. Namun, orientasi di akhirat nanti adalah prioritas terbesarku untuk membayar semua yang telah orang tua perjuangkan untukku ketika di dunia.

Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa yang namanya terkenal di mana-mana. Semua itu adalah tipuan semata dan tidak ada faidahnya. Kurang lebih begitu ketika guru ngajiku di waktu kecil menasihati kami agar tidak tertipu oleh dunia.

Ternyata Abah Anis berpikiran lain. Selain menjadi penghafal al-Qur’an, Abah Anis ingin kalau namaku dikenal banyak orang dengan menjadi pewaris perjuangan para pahlawan dengan cara turut andil dalam tatanan pemerintahan agar aku dapat memperbaiki berbagqai stagnasi yang ada.

“Nak, penghafal al-Qur’an itu harus menguasai dunia. Dengan al-Qur’an, kamu dapat menggenggam semuanya. Dengan al-Qur’an pula kamu akan terselamatkan dari tipuan dunia. Jangan lupakan dunia dan tetpai ingat akhirat dengan menjadi khoir al-ummah yang telah diberitahu oleh Rasulullah. Kamu harus menjadi salah satu bagian utama yang mewarisi perjuangan para pahlawan” tutur Abah.

Ketika mendengar intruksi Abah seperti itu, aku merasa sangat keberatan sekali. Diriku terlalu kusut untuk memikirkan hal yang kelut. Bagsimana bisa aku menjadi bagian yang sangat penting.

 

“Hidup ini saja sering tak beraturan, bagaimana harus meraih jabatan dan bergabung dengan tuan dan puan yang amat bermegahan” suara hati mulai menggerogoti pikiran yang tengah kusam.

Aku terus berdebat dengan Abah secara baik sambil meminta arahan yang lain darinya, pengasuh Pondok Pesantren al-Hubbah yang terkenal dengan visinya untuk membangun umat dan bangsa. Kami menganggap beliau sebagai Abah ideologis karena motivasi yang dia tayangkan seperti motivasi yang diberikan orang tua kami sendiri bahkan lebih dari itu.

Selain itu, apa-apa yang beliau sampaikan merupakan harapan besarnya di masa mendatang. Hal ini mengacu pada pembedahan dan pembenahan kualitas diri guna perbaikan terhadap nasib kami.

Beliau adalah orang yang kami kenal yang berfikiran sangat logis dan tak pernah kekurangan logistik walaupun telah diinfakkan di jalan terbaik. Kami menganggap beliau adalah orang yang sangat peduli karena tingkahnya yang kritis terhadap perkembangan anak bangsa yang tengah narsis dengan berlagak sok pancasilalis.

Akhirnya, tujuan awalku yang ingin menjadi seorang penghafal al-Qur’an saja kini telah terbedah oleh karena beberapa fatwanya. Fatwanya seolah kata mutiara berlapiskan cinta yang dia tuturkan untuk membangun peradaban yang terarahkan.

Namun, seringkali angan terhenti oleh beberapa masalah. Aku seringkali melupakan tugas utamaku dari orang tua untuk menghafalkan kalam-Nya. Dunia seringkali menjadi perhiasan yang amat menggerlapkan mata jika aku tak dapat menjadikannya sebagai ladang menuju akhirat.

***

Aku termasuk orang yang terlambat dalam menghafalkan al-Qur’an dibanding teman-teman. Oleh karena itu, seringkali ketika setoran, aku harus mundur dua kali karena tak tahan karena harus menghafal satu halaman.

Pada dasarnya, aku merasa sangat malu pada teman-teman karena aku sudah terlambat menghafalkan al-Qur’an. Akan tetapi, mereka bukan menghina, tapi malah memberi ribuan motivasi yang membara.

Seringkali aku diceritakaan berbagai ulama yang baru belajar di usia dewasa, seperti Ibnu Hazm, al-Qaffal dan lain sebagainya sebagai penyemangat jiwa agar tetap teguh untuk mendapatkan apa yang ku inginkan walaupun aku dikategorikan sebagai oleh yang terlambat.

Tidak kalah lagi, aku juga dijelaskan mengenai kisah Ibnu Hajar al-Asqalani yang merupakan murid tebebal di kalangan tema-temannnya. Untuk menghafalkan al-Fatihah saja, dia mengalami kesusahan. Namun, pada akhirnya dia ditunjukkan oleh beberapa hikmah yang menggembirakan yaitu batu yang dapat berlubang karena seringnya ditetesi air setiap hari.

Hal ini merupakan ibrah bagi ulama pengarang kitab Bulugh al-Maram ini untuk berubah menjadi orang yang berfikiran maju serta tetap bersabar dalam menuntut ilmu.

“Ternyata, untuk menjadi orang yang mahir dalam satu bidang saja, tidaklah cukup dilakukan dengan usaha hanya selama satu bulan. Perlu waktu yang lama dan berkesinambungan untuk memahami semuanya,” suara hati kian memaksa dengan memberikan motivasi.

Aku semakin yakin bahwa aku bisa menjalani masa satu tahun di sini untuk menghafalkan al-Qur’an. Dengan berbekal keyakinan ini pula, aku harus bertekad besar untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam rangka meraih ridla-Nya.

Aku merasa menyesal karena baru mendapat hidayah untuk mulai menghafalkan dan memahami al-Qur’an. Namun, hal itu kuharap tidak akan menjadikan semangatku kurang.

Terlalu lama dalam persantaian membuatku malas untuk mewujudkan angan. Aku menyadari bahwa apa yang telah kulakukan sebelumnya adalah bagian dari kesalahan yang sangat aku sesalkan dan tak akan kuulang.

***

Aku dulu memang suka menangis jika ayah marah karena cara mengajiku yang masih salah. Beberapa kali aku mengulang bacaan al-Qur’an yang tanpa ku sadari mengakibatkan berbeda makna sering kali jadi masalah besar baginya.

Terus saja hal itu terjadi berulang kali dan pada akhirnya tangisanku pecah sepecah-pecahnya. Ngambek adalah jalan terakhir yang kulakukan agar aku tak lagi dapat giliran membaca. Akan tetapi, ayah tetap saja memaksa untuk membaca sampai selesai satu halaman saja.

Ada hal aneh yang ku rasakan setelah menangis. Ya, bacaanku yang tadinya salah akhirnya dapat terucap dengan benar walau bercambur baur dengan tangisan dan hati yang pecah. Namun, aku heran mengapa pada akhirnya aku tetap saja malas membaca kitab suci-Nya.

Banyak perkara yang menjadikan bacaan al-Qur’anku tidak sempurna. Di antaranya adalah karena jarang sekali kuasah diri untuk membaca dan menelaah, rasa malas yang sering menghantui walaupun sebelumnya aku sudah punya niat yang membara, dan dorongan dari teman untuk bersantai ria dan terus bermain hal yang tidak berfaidah.

Selain itu, pemahamanku tentang urgensi membaca dan memahami al-Qur’an masih belum begitu dalam. Setelah kuselami, ternyata semua ayat yang terkandung dalam al-Qur’an adalah pedoman hidup terbaik bagi umat islam.

Namun, masih banyak kalangan yang belum sadar mengenai semua ini. Al-Qur’an masih dipandang dari segi teologi saja. Sementara sisanya seringkali dipraktikkan oleh para ilmuwan non islam bahkan tidak beragama.

Memang, sebelum Kerajaan Turki Usmani runtuh, islam pernah berjaya dengan penemuan-penemuan yang luar biasa. Namun, kurasa sekarang hanya tinggal puing-puing dan sejarah yang akan membuat hati menagis menderita.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa islam memang telah mengalami posisi “the Dark Era”  karena berbagai permasalahan yang ada terutama kemalasan dalam mengkaji objek yang telah tercipta dan para pemimpin yang kurang cakap dan bijaksana.

***

Aku tahu dalam hadits, Rasul pernah bersabda bahwa barangsiapa yang menghafalkan al-Qur’an dan mengamalkannya, maka dia akan memberikan mahkota dan jubah kepada kedua orangtua dengan penuh rasa kebanggan di surga.

Hal itu ku rasa biasa saja pada waktu itu, waktu di mana aku tengah mencari tahu namun rasa . Pada awalnya, aku berfikir kerdil bahwa ada banyak cara untuk dapat memperoleh mahkota dan jubah walaupun hanya dengan bersantai ria.

Bahkan, seiring berjalannya waktu dengan adanya doktrin dari berbagai kalangan telah membuatku takut untuk menjadi penghafal al-Qur’an. Jika melupakannya, maka aku akan mendapatkan dosa.

Entah apa yang tengah menghantuiku kala itu. Untuk mengaji saja yang menjadi ritual dan hal wajib bagi keluarga, menjadi jarang apalagi untuk memahami maknanya secara terang.

Surga bukanlah hal yang bersifat praktis. Kalaulah ada harganya, pasti para pengusaha kaya akan membelinya walapun harus kehilangan lima puluh persen dari harta mereka. Namun, syurga akan diraih dengan amal yang baik dan keimanan yang komprehensif.

***

Sejak kepergiannya, aku mulai berniat untuk menjadi penghafal Qur’an walaupun semangat yang terkumpul hanyalah sekitar 10% saja. Niatku pun karena berkali-kali dia mengingatkanku dengsn perkataan yang ku rasa cukup menampar. Walaupun setelah itu aku tetap saja tidak sadar, tapi perkataan pedas itu ku rasa selalu menggempar.

Pada awal bertekad mewujudkan cita-citaku dan cita-citanya, aku bingung dari mana aku akan memulai untuk melakukan hal yang tak banyak orang sukai ini. Tapi, hati terus berucap bahwa sampai kapan aku akan terus terpuruk oleh karena perkataan darinya yang menyayat hati tanpa ada intropeksi dan rasa percaya diri.

Aku merasa sangat menyesal karena belum bisa mengiyakan kemauannya untuk menjadi penghafal al-Qur’an kala itu. Sekarang, aku hanya bisa menagis ketika diriku belum bisa menjadi anak yang membanggakannya.

Aku juga tak tahu bahwa yang kulakuran dulu merupakan bentuk kekeliruan. Walaupun kala itu aku masih belia, tapi ku rasa penyesalan besar telah mendera karena tak sempat ku lakukan sebelum kepergiannya.

***

Semua yang telah dia korbankan akan kujadikan sebagai sepotong kenangan yang panjang yang akan senantiasa ku ingat dalam kisah walaupun hanya berbentuk lembaran yang tak akan bisa diulang.

Kehilangannya adalah bentuk kesedihan, namun yang harus ku lakukan adalah menggembirakannya dengan menggerakkan langkah perjuangan agar kelak diriku tidak menjadi orang yang menyesal dan hidupku dipenuhi dengan kesedihan.

Walaupun kesedihan terus menerus memenuhi benak, namun hikmah yang terbaik adalah aku sadar bahwa aku harus menjadi penghafal al-Qur’an. Hal itu merupakan  hal yang terbaik kurasa walaupun belum seperti para hafidh yang handal dalam berbagai acara di dunia pertelevisisan sana.

Inilah kisahku

***

Exit mobile version