Adelina Candrawinata merupakan gadis kecil yang berasal dari Kota Troso. Teman-teman biasa memanggilnya Adel. Ia merupakan anak bungsu dari Bapak Makmur dan Ibu Suwarti. Dia adalah salah satu siswa SMP yang duduk di bangku kelas IX. Suatu ketika, Adel pulang dari SMP pada pukul 11.00. Kemudian dia melihat ayahnya berbaring di tempat tidur.
“Ayah kenapa? Tidak biasanya pukul segini ayah berbaring”, tanya Adel dengan rasa khawatir.
“Ayah tidak apa-apa, Nak. Jangan menghawatirkan keadaan ayah. Ayah hanya merasa sedikit kelelahan karena tadi membantu nenekmu”, jawab Ayah sembari bangun dari tempat tidurnya.
“Ayah ingin saya buatkan segelas teh hangat? Agar badan ayah terasa sedikit segar”, tanya Adel sambil duduk di samping Ayah.
“Tidak usah, Nak. Lebih baik kamu segera ganti baju dan persiapan untuk sholat dhuhur”, jawab Ayah karena tak ingin membuat anaknya semakin khawatir.
“Baiklah, Ayah. Jika ayah menginginkan sesuatu, segera panggil aku ya, Yah”, ucap Adel seraya berdiri dari tempat duduknya.
***
Matahari telah kembali ke ufuk barat. Menandakan bahwa hari sudah mulai petang. Adel berangkat ke musholla untuk melaksanakan sholat berjamaah disana. Setelah sholat berjamaah, ia mengajarkan ilmu tajwid kepada anak-anak kecil disana. Tiba-tiba salah seorang tetangganya datang menghampirinya.
“Adel! Sebaiknya kamu pulang sekarang. Ayahmu sedang mencarimu”, ucap tetangga Adel dengan pelan.
“Apa yang terjadi dengan ayahku?!”, tanya Adel dengan kepanikannya.
“Ayo segera pulang, jangan kebanyakan tanya”, seru tetangga Adel dengan nada sedikit keras.
Kemudian Adel meminta temannya untuk melanjutkan pembelajaran tersebut dan segera menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Adel terkejut karena sudah banyak orang yang menjeguk ayahnya. Tiba-tiba Ayah Adel memanggilnya. Adel pun segera mendekati mulut ayahnya.
“Jika nanti ayah telah tiada, tetaplah berbakti kepada ibumu, Nak! Bagaimana pun dia, dia adalah orangtuamu”, ucap ayah dengan sangat pelan.
Setelah mendengar perkataan ayahnya, air mata Adel jatuh tanpa bicara. Saat hari bertambah larut, satu per satu dari tetangganya kembali ke rumah masing-masing. Tepat pada pukul 02.00 WIB dini hari, ibu Adel membangunkannya seraya memintanya untuk tidur di samping ayahnya. Beberapa menit kemudian, tangan ayah Adel berada di atas perut Adel. Kali ini Adel hanya diam, ia tidak memindahkan tangan tersebut. Padahal biasanya dia tidak nyaman dengan posisi itu.
***
Sang surya mulai memancarkan cahayanya melalui lubang-lubang kecil yang ada di setiap ruangan. Adel segera bangun dan mempersiapkan diri untuk sekolah. Tetapi niatnya tiba-tiba melemah ketika melihat ayahnya yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Ibu mendatangi Adel karena melihat muka Adel yang berubah menjadi sedu.
“Selamat ulang tahun, Putri kecilku. Semoga yang kamu semogakan tersemogakan. Jadi anak yang selalu membahagiakan ibu dan bapak ya, Nak!. Doa ibu selalu menyertaimu”, ucap Ibu Adel seraya mencium pipi Adel.
“Iya, Bu. Terima kasih atas doa-doa yang telah ibu berikan sampai sekarang ini. Terima kasih sudah selalu sabar dalam menghadapi sikap Adel yang masih kekanak-kanakan. Maafkan Adel, Bu. Adel belum bisa membahagiakan ibu dan bapak”, ucap Adel sambil mengusap air matanya yang jatuh menggenangi pipinya.
Kemudian Adel mencium tangan ibu dan bapaknya untuk berpamitan. Adel berangkat ke sekolah dengan menaiki bus. Ketika pukul 13.00 WIB, semua pembelajaran telah berakhir. Artinya, semua siswa di izinkan untuk kembali ke rumah masing-masing. Kecuali siswa yang mengikuti ekstrakurikuler. Sesampainya di rumah, Adel meminta izin kepada orangtuanya. Karena teman-temannya telah sepakat untuk merayakan hari ulang tahunnya di sekolah mereka. Adel kembali ke rumah pada pukul 17.00 WIB.
Suara adzan telah di kumandangkan oleh muadzin di musholla yang letaknya tidak jauh dari rumah Adel. Kali ini Adel tidak pergi ke musholla, karena ingin menemani ayahnya. Usai sholat berjamaah dengan keluarganya, Adel meminta kepada ibunya agar ayahnya segera di bawa ke rumah sakit. Awalnya, ayah Adel menolak permintaan Adel. Karena ayah Adel tidak ingin membuat Adel merasa khawatir. Sedangkan TryOut yang ketiga akan segera dilaksanakan oleh seluruh siswa SMP di Indonesia. Tetapi atas bujukan dari Pakde Adel, akhirnya ayah Adel menerima permintaan Adel dan akan di bawa ke rumah sakit pada esok hari.
Keesokan harinya, semua bergegas mempersiapkan diri untuk melanjutkan aktifitas masing-masing. Tetapi tidak dengan Adel, dia sangat merasa malas untuk berangkat ke sekolah. Karena hari ini ayahnya akan di bawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan khusus. Ketika mobil yang akan dinaiki oleh ayahnya tersebut telah datang, Adel membantu ayahnya bangun dari tempat tidurnya dan membantunya untuk berjalan.
“Tidak usah, Nak. Ayah masih bisa berjalan sendiri”, ucap Ayah untuk meyakinkan Adel.
“Tapi, Ayah?”, tanya Adel dengan panik.
“Sudahlah, Nak. Jangan terlalu menghawatirkan keadaan ayah. Ayah akan segera pulang. Ayah tidak akan lama-lama di rumah sakit, kok”. ucap Ayah untuk menenangkan Adel.
“Adel ingin ikut mengantar Ayah sampai ke rumah sakit”, respon Adel dengan muka sedunya.
“Tidak, Nak. Kamu tidak boleh ikut, di rumah sama Mbak mu saja. Toh hari ini sampai hari Kamis kamu masih melaksanakan TryOut, kan?”, tanya Ayah seraya mengelus kepala Adel.
“Baiklah, Ayah. Semoga Ayah segera sembuh. Adel menyayangi Ayah. Doa Adel selalu bersamamu, Ayah”, jawab Adel dengan memeluk ayahnya.
Kemudian Adel mengantar ayahnya hingga ke dalam mobil. Ayah Adel di temani ibu Adel dan kakak Adel. Sebelum mobil tersebut berjalan, Adel mencium tangan kedua orangtuanya. Setelah dua hari di rumah sakit, kondisi ayah Adel semakin parah. Dan saat ini sedang mengalami masa kritis. Usai mendengar kabar dari kakaknya bahwa ayahnya sedang kritis, kondisi Adel tiba-tiba down. Suhu badannya meningkat secara drastis, namun tidak ada kegiatan yang dilakukan Adel selain terus berdoa dan membaca al-Qur’an.
***
Esok hari telah tiba, Adel berangkat ke sekolah dengan perasaan cemas dan keadaan badan yang kurang vit. Tetapi ia selalu mencoba agar tidak terlihat jika sedang sakit. TryOut berlangsung selama dua jam. Dimulai dari pukul 07.00-09.00 WIB. Usai TryOut, Adel mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti hari-hari sebelumnya. Tiba-tiba, satpam di SMP tersebut mengetuk pintu kelas Adel dan memanggil Adel. Seketika, Adel beranjak dari tempat duduknya dan segera berjalan meminta izin untuk keluar kepada guru yang mengajar di kelas. Setelah melihat pamannya Adel di luar, sontak ia bertanya.
“Ada apa, Om? Tidak biasanya Om datang ke sini”, tanya Adel dengan rasa kepo nya.
“Ayo pulang, Del. Ibumu memintamu untuk pulang”, kata paman Adel tanpa menjawab pertanyaan Adel.
“Ada apa, Om?”, Ini kan belum saatnya untuk pulang?”, tanya Adel dengan penuh kebingungan.
“Sudahlah, ayo pulang dulu. Nanti Om akan menjelaskannya di rumah”, ucap paman Adel untuk menutupi kejadian sebenarnya.
“Baiklah, Om. Aku mau memberesi buku-buku dulu. Om kesini naik apa?”, tanya Adel kembali.
“Naik mobil, di antar sama tetanggamu. Cepetan, ya. Om tunggu di depan gerbang”, ucap paman Adel.
“OK, Om”, jawab Adel mengiyakan perkataan Omnya.
Setelah masuk ke dalam kelas, Adel segera membereskan buku-bukunya dan meminta izin untuk pulang kepada guru yang mengajar di kelasnya. Selepas guru tersebut memberikan izin, Adel segera keluar dan menyusul pamannya yang sudah berada di dalam mobil. Kemudian mobil yang di kendarai mereka melaju dengan santai. Dalam perjalanan, ia sempat diam dan merenung seraya berkata “ini sebenarnya saya mau di ajak ke rumah sakit atau ayahku telah tiada ya”, ucapnya dalam hati dengan menutupi rasa bingungnya. Sesampainya di rumah, Adel terkejut karena melihat banyak tetangga yang ada di rumahnya. Dalam fikirannya, ia sempat berfikiran jika ayahnya meninggal dunia. Namun, Adel mencoba untuk tidak panik. Setelah masuk ke dalam rumah, ia bertanya kepada neneknya.
“Sebenarnya ini ada apa, Nek?”, Kok tetangga pada kumpul di depan rumah? Pohon mangga yang ada di depan juga rantingnya di tebang?”, tanya Adel kepada neneknya.
“Ayahmu telah meniggal, Del. Kamu yang ikhlas ya”, ucap nenek Adel sambil memegang kepala Adel.
Usai mendengar kabar tersebut, tubuh Adel jatuh dan tidak sadarkan diri dalam waktu beberapa menit. Tepat pukul 17.00 WIB, suara mobil ambulance mulai mendekat. Ketika Adel melihat ayahnya yang sudah tertutupi oleh kain putih mulus, sontak ia menjerit dan pingsan dalam beberapa menit. Setelah ia tersadar, Adel lebih memilih untuk tidak melihat jenazah ayahnya, karena ia tidak dapat menahan air matanya yang terus mengalir bagaikan air di sungai. Setelah di kafani, jenazah ayah Adel segera dimakamkan. Ketika terdengar suara adzan magrib di kumandangkan oleh muadzin. Adel beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas mengambil air wudhu untuk sholat. Adel merasa sangat terpukul karena ayahnya meninggalkannya tepat satu minggu setelah hari ulang tahunnya. Kini lelaki yang disebutnya dengan panggilan ‘My Hero’ telah meninggalkannya. Ia hanya dapat mengingat pesan-pesan yang pernah di ucapkan oleh beliau. Bagi Adel, ini adalah hal yang paling sulit untuk di ikhlaskan. Karena ia sangat dekat dengan ayahnya, ia selalu menceritakan apa pun yang di alaminya kepada ayahnya. Tetapi ia percaya, bahwa Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hambanya.
Malam itu terasa begitu dingin, hingga membuat menggigil. Hal ini membuat Adel tidak bisa tidur. Kemudian, ia mengambil selembar kertas dan sebuah bolpoin untuk mengungkapkan rasa rindu kepada ayahnya.
(PUISI)
Langit pun ikut berduka atas kepergianmu
Kepergianmu seketika membuatku lebih dewasa
Mengajarkanku agar menjadi orang yang berguna
Kepergianmu mengajariku akan banyak hal
Tentang kesabaran dalam menjalani hidup
Tentang kritis ketika menghadapi masalah
Dan tentang ketulusan dalam berkorban
Engkau selalu berkorban demi keluargamu hingga akhir hayatmu
Membanting tulang untuk membahagiakan anak istrimu
Hari ini aku sangat merindukanmu, Ayah
Aku ingin engkau kembali memelukku
Aku ingin menemuimu seraya mencium tanganmu
Aku selalu berharap agar engkau selalu hadir dalam mimpiku
Melalui puisi ini, aku mengenangmu
Bila nanti waktunya datang
Kan kuceritakan segala kesabaran, nasehat dan kerja kerasmu
Bersama senja ku panjatkan doa
Semoga engkau di tempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya
Aku mencintaimu, Hero ku.
***
Satu minggu telah berlalu dan ujian sekolah telah berada di depan mata. Ketika Adel belajar, tiba-tiba kata-kata yang pernah di katakana oleh ayahnya melintas dalam otaknya. Kemudian ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk mewujudkan apa yang pernah diinginkan olehnya dan ayahnya. Dia belajar dengan tekun dan berusaha untuk menguasai semua materi yang sudah pernah di jelaskan oleh gurunya. Berkat ketekunannya dalam belajar ia berhasil meraih juara pararel 3. Saat wisuda, ia naik turun panggung hingga tiga kali.
“Wah. Selamat ya, Del. Kamu ga capek apa, naik turun panggung sampai tiga kali. Mau saya gantiin?”, ucap Lisa seraya berbisik ke telinga Adel.
“Hehe. Iya, Lis. Terima kasih atas ucapannya. Tidak usah digantiin, aku senang kok. Meskipun harus naik turun. Karena banyak orang-orang yang mengabadikan momenku ketika di atas panggung, selain itu juga nama orangtuaku di sebut ”, jawab Adel dengan semangat.
Meskipun Adel pernah merasa sangat down ketika baru saja di tinggalkan oleh ayahnya, tetapi setelah dipikirkan berkali-kali olehnya, hal ini dapat meningkatkan semangat belajar Adel. Ia sangat tertantang untuk mewujudkan masa depan yang diimpikannya itu. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga hafalannya dengan murojaah dan segera menyelesaikannya.
Tahun ajaran baru telah tiba. Adel melanjutkan pendidikannya di Desa Main yang terletak sekitar 17 km dari rumahnya. Ia tinggal di rumah orang yang baru saja di kenalnya, hal ini merupakan keinginan dari ayahnya sebelum meninggal. Kini orang tersebut telah menjadikannya sebagai anak angkat mereka. Meski telah menjadi anak angkat orang lain, Adel tetap tidak melupakan ibunya di rumah. Ia tinggal bersama orangtua angkatnya selama 3 tahun. Selama berada di Desa Main, Adel tidak pernah lupa untuk selalu mendoakan ayahnya. Karena orangtua angkatnya adalah seorang Kyai, maka tak jarang Adel diajak untuk berziarah ke beberapa makam di luar kota. Suatu ketika, Adel di ajak orangtuanya berziarah ke sebuah makam yang terletak di Kota Baru. Dalam perjalanannya dari tempat parkir menuju makam, Adel sempat meneteskan air matanya karena itu adalah kejadian pertama kalinya yang dialami tanpa ayahnya. Biasanya kalau pergi ke makam itu, Adel selalu berjalan berdampingan dengan ayah tercintanya itu.
Hari demi hari telah dilalui Adel. Tetapi terkadang ia masih sering menangis ketika kenangan yang pernah di jalani dengan lelaki tersayangnya itu terlintas dalam otaknya. Bagi Adel, ayahnya adalah cahaya yang menerangi kegelapan. Karena sejak kecil hingga sebesar itu ia memang lebih akrab dengan ayahnya. Sehingga ketika ayahnya meninggal ia sangat terpukul. Namun, ia harus tetap berjuang dan berbakti kepada ibunya.
Esok adalah hari raya idul fitri dan Adel akan melaksanakan sholat ied di kampung halamannya. Ia duduk termenung di atas tempat tidurnyaa sembari memandang foto ayahnya. Malam itu terasa sangat syahdu. Terdengar bunyi petasan yang bersahut-sahutan. Suara takbir yang begitu menenangkan. Mengingatkan Adel pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ia selalu berkunjung ke rumah nenek bersama dengan ibu dan bapaknya. Meski ia sudah mengikhlaskan kepergian ayahnya, tetapi ketika ia melihat foto ayahnya sontak ia ingat semua peristiwa apa pun yang pernah di lewati dengan ayahnya. Mungkin hal tersebut terjadi karena rasa sayang Adel kepada ayahnya yang begitu besar. Seakan-akan ia sedang menonton film, karena semua peristiwa begitu di ingatnya dengan detail.
Usai sholat ied, seperti biasanya orang-orang di desanya melaksanakan halal bihalal dengan tetangga sekitar mereka. Hal ini dilakukan untuk saling meminta maaf dan membersihkan dosa dengan orang yang bersangkutan, baik dosa yang disengaja atau dosa yang tidak disengaja. Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tinggi mengetuk pintu rumah Adel, ternyata laki-laki tersebut adalah kakak dari ayah Adel. Tangis Adel pun pecah seketika saat melihat laki-laki tersebut. Karena muka Pakdenya itu sangat mirip sekali dengan muka ayahnya. Ia mencium tangan Pakde sangat lama dikarenakan dia ingin bicara tetapi tidak bisa menahan tangis isaknya.
“Iya, Del. Pakde paham maksutmu kok. Sudahlah, ikhlaskan ke pergian ayahmu. Insya Allah ia sudah tenang disana. Insya Allah juga khusnul khotimah. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Ayahmu pasti bangga ketika melihat gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan dewasa, selain itu pandai juga”, ucap Pakde Adel seraya mengelus kepala Adel
Sepatah kata pun tak dapat keluar dari mulut Adel. Kemudian ia melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang tangan pakdenya. Ia kembali mengingat kenangannya dengan ayahnya. Ia tidak percaya jika ayahnya akan meninggalkannya secepat ini. Tetapi apa yang bisa di perbuat Adel sebagai makhluk yang lemah?. Jika semua sudah di kehendaki oleh Allah maka kita tidak akan bisa mengelak. Karena jodoh, rezeki, dan mati sudah tercatat dalam lauhil mahfudz.
***
Satu pekan telah berlalu, kini saatnya Adel kembali ke rumah orangtua angkatnya untuk melanjutkan pendidikannya. Saat ini ia sudah duduk di bangku kelas XII, ia menemukan cintanya dalam satu kelas. Hubungan itu di jalaninya selama sembilan bulan. Meski sudah mempunyai kekasih, tetapi tak jarang juga mantan atau laki-laki lain yang menginginkan untuk menjadi kekasih Adel. Karena prinsip mereka adalah ‘selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan untuk menikung’.
Kelas XII berakhir tanpa ujian nasional. Suatu ketika hati Adel goyah dengan kekasihnya, ia merasa hanya di manfaatkan saja. Karena kekasihnya melarang Adel untuk tidak chattingan dengan cowok selain dia, tetapi kontaknya bagaikan asrama putri. Selain itu juga, jika mereka kencan pasti Adel yang selalu mengeluarkan uang. Meski demikian, hal ini tidak mempengaruhi fikiran Adel. Adel sempat menganggap bahwa lelakinya itu akan menjadi imamnya di kemudian hari dan akan menggantikan posisi ayahnya. Ternyata fikiran Adel salah. Hubungan mereka berakhir karena masalah sepele.
Malam hari itu, Adel sengaja untuk tidak online di whatsapp karena kelelahan. Keesokan harinya, ketika ia membuka story kekasihnya ternyata semalam kekasihnya pergi dengan gadis lain. Hati Adel serasa di sayat-sayat dengan pisau yang tajam berkali-kali. Sebenarnya lelaki itu tak jarang pergi dengan gadis yang ada di foto, tetapi karena Adel adalah gadis pencemburu berat maka ia terus mencoba untuk bertahan. Kemudian ia menceritakan hal ini kepada Laily, teman curhatnya. .
“Aku harus bagaimana?”, tanya Adel kepada Laily.
“Tinggalkan saja dia, Del. Dia tidak pantas untuk kamu pertahankan. Sebelum rasa yang kamu miliki semakin dalam dan luka yang akan datang semakin mendalam”, saran Laily kepada Adel.
Kemudian Adel menata niatnya untuk mengakhiri hubungannya itu. Ternyata benar saran dari Laily. Ia mendapatkan pengganti kekasihnya dalam waktu satu minggu. Dan kekasih barunya justru lebih baik dari mantannya. Malam yang terang karena sinar dari rembulan. Kekasih baru Adel datang ke rumahnya. Kemudian mereka pergi dan pulang pada pukul 22.00 WIB. Setelah mengantarkan Adel, kekasihnya pulang tanpa singgah dulu.
“Lho, kamu kok beli jajan banyak banget, Nak? Berarti uang kamu habis”, tanya Ibu Adel dengan muka bingung.
“Hehe. Iya, Bu. Uang saya masih kok. Ini tadi yang membelikan Mas Firman”, jawab Adel dengan muka ceria.
“Kamu juga perginya kok sampe pukul segini baru pulang, biasanya pukul 21.00 kamu udah pulang. Kamu pergi sama dia ga di marahi pacarnya?”, ucap Ibu Adel dengan rasa cemasnya.
“Dimarahi pacarnya, Bu?”, jawab Adel dengan terkekeh.
“Iya, dia punya pacar kan?”, tanya Ibu Adel selanjutnya.
“Dia pacar saya, Bu”, jawab Adel seraya menghentikan makannya.
“Ya sudah, kamu boleh memiliki pacar. Tetapi jangan sampai konsentrasimu hilang karena dia. Jadikan dia sebagai penyemangat tambahan, rasa mu jangan terlalu dalam. Agar jika hubungan mu berakhir kamu tetap baik-baik saja”, ucap Ibu Adel kepada putrinya.
“Baik, Bu.”, jawab Adel dengan tersenyum.
Akhirnya, Adel di beri izin oleh ibunya untuk berpacaran. Meskipun sejak SMP ia sudah pacaran, tetapi hal ini hanya di lakukannya via chattingan. Dan kali ini pacarnya sampai main ke rumahnya, mungkin di karenakan Adel sudah dewasa dan sudah bisa untuk menjaga diri. Hari telah berganti, wisuda pun sudah terlaksana. Adel memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke luar kota. Karena bagi Adel keluar dari zona aman adalah suatu keharusan.
Ibu yang tadinya tidak mengizinkannya, kini sudah berubah fikiran. Karena Ibu Adel tidak berani memaksa Adel, beliau takut jika kejadian yang terjadi pada kakak Adel kembali terulang. Sedangkan, Adel adalah satu-satunya harapan keluarga. Meskipun sudah tidak memiliki ayah, tetapi hal ini tidak di permasalahkan oleh Adel. Baginya, selagi ada kemauan untuk menutut ilmu pasti Allah akan membukakan jalan untuknya.
Waktu terus berjalan, hari berganti hari. Setiap pulang dari rumah tetangga, Ibu Adel tiba-tiba meragukan pilihan Adel. Kemudian ibunya kembali menanyakan apa yang akan di pilih Adel.
“Kamu yakin mau melanjutkan study mu di luar kota?”, tanya Ibu Adel dengan perasaan ragunya.
“Iya, Bu. Saya akan kuliah dan menyandang status sebagai santriwati. Mengapa ibu kembali menanyakan hal ini? Bukannya kemarin ibu sudah sepakat dengan pilihan Adel?”, jawab Adel seraya kembali bertanya
“Tapi, kuliah itu akan menghabiskan biaya, Nak. Apakah kamu tidak kasihan dengan kakakmu?”, tanya Ibu Adel kembali.
“Sebenarnya saya kasihan, Bu. Tetapi ini juga saran dari kakak, dia berkata jika dia sanggup untuk membiayaiku”, ucap Adel dengan nada halusnya.
“Memangnya kamu mau jadi apa setelah wisuda nanti?”, Ibu Adel terus bertanya dan berusaha untuk merubah pilihan Adel.
“Aku tidak memikirkan itu, Bu. Yang terpenting bagiku sekarang adalah melanjutkan pendidikan yang mendapat izin dari ibu. Karena Mbah Maemun Zubair pernah berkata ‘ora usah mikir bakale dadi opo, sing penting sinau, besok bakal dadi opo-opo’. Begitulah kata beliau, Bu”, ucap Adel seraya meyakinkan ibunya.
“Baiklah, Nak. Kamu masih tetap sama dengan putri ayahmu yang dulu. Prinsipmu masih tetap sama, sekali punya keinginan, maka itu harus kamu wujudkan. Besarnya tatangan akan kamu hadapi, bahkan kamu sama sekali tidak mendengarkan omongan dari tetangga-tetanggamu. Intinya kamu harus fokus dengan tujuan utamamu, Nak. Ibu mengizinkanmu untuk kuliah di luar kota”, jawab Ibu Adel seraya memeluknya.
Setelah mendapat jawaban dari ibunya itu, hati Adel merasa tenang. Akhirnya ibu tersayangnya benar-benar telah mengizinkannya.Tiba saatnya pengumuman hasil tes untuk masuk ke PTN. Adel menghawatirkan hasil tes yang akan keluar. Usai link nya di buka, ternyata Adel dinyatakan lolos. Sontak ia memberitahukan hal ini kepada ibunya. Ia sangat merasa bersyukur karena Allah mengizinkannya untuk melanjutkan pendidikan.
Tidak terasa hari berganti dengan begitu cepat, hari ini adalah pertama kalinya Adel akan pergi keluar kota. Ia diantar oleh ibunya dengan menyewa mobil milik tetangganya. Meskipun Adel merasa sangat berat ketika akan berpisah dengan ibunya, tetapi ia berniat untuk segera kembali dengan kesuksesannya. Tak lupa pula, ia meminta kepada ibunya agar beliau selalu mendoakannya. Di dalam perjalanan, ia mendengarkan murrotal seraya memurojaah hafalannya. Selain itu, ia juga menahan air matanya agar tidak keluar. Dia kembali teringat dengan kenangan masa lalu bersama ayahnya. Ia sangat merasa bersalah, karena selama sekian tahun dia belum bisa membahagiakan ayahnya. Oleh karena itu, ia sangat ingin segera menghatamkan hafalannya. Di samping niatnya yang lillah, ia juga ingin melihat kedua orangtuanya nanti memakai mahkota di surga.
Waktu demi waktu telah berlalu. Dua bulan terasa sangat begitu cepat. Seperti biasanya, setiap sore hari semua santri-santri di Ma’had An-Nafi’ah melakukan tasrifan. Kala itu, saatnya Adel setor tasrifan fi’il madhi mujarrod bab satu kepada Ustadz Bara.
“Fa’ala yaf’ulu fa’lan”, ucap Adel tak melanjutkan tasrifannya.
“Terus lanjutannya apa?”, tanya Ustadz Bara.
“Fa’ala yaf’ulu fa’lan”, ucap Adel tak melanjutkannya lagi.
“Iya, benar. Setelah itu apa?”, tanya Ustadz Bara yang kedua kalinya.
“Fa’ala yaf’ulu fa’lan wa maf’alan”, ucapan Adel terhenti untuk yang ketiga kalinya.
“Baiklah, karena kamu sudah saya beri kesempatan sampai tiga kali dan belum bisa melafalkan dengan lancar. Maka kamu harus mengulanginya besok pagi. Dan besok harus lancar dan benar”, ucap Ustadz Bara seraya menutup kitabnya.
Adel kembali dengan muka yang memerah dan detak jantung yang tak terkendalikan. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Karena tidak seperti biasanya jika ia setoran hafalan akan berhenti di tengah jalan. Mungkin itu karena ia merasa gerogi, karena ustadz tersebut merupakan salah satu dosen di Universitas Al-Munawwaroh.
***
Sang mentari telah kembali ke ufuk barat, menandakan bahwa hari sudah petang. Malam itu terasa sangat syahdu dengan langit yang dihiasi bintang-bintang dan rembulan. Santri-santri melaksanakan agenda I’robul Qur’an di halaman ma’had. Adel menceritakan keluh kesahnya kepada Ica, mahasiswa satu angkatan dengan Ustadz Bara.
“Ini sebenarnya ada apa denganku, Kak Ica? Kenapa tadi waktu Kak Ica yang menyimak tasrifanku gaada yang salah, tetapi waktu saya setor ke Ustadz Bara semua hafalanku menghilang seketika”, tanya Adel dengan muka sedu nya.
“Mungkin kamu merasa gerogi, bagiku itu adalah hal yang biasa. Karena tak jarang santriwati disini yang lancar setorannya ketika lagi setor tasrifan ke Ustadz Bara. Seperti yang kita ketahui, Ustadz Bara merupakan Ustadz yang diidamkan oleh santriwati disini meskipun ia sangat tegas dan cuek kepada santriwati. Selain karena ketampanannya, ia juga merupakan Ustadz yang paling lancar membaca I’robul Qur’an dengan mengetahui maksut dari ayat yang dibaca dan mengetahui akar katanya”, ucap Kak Ica kepada Adel.
“Lantas aku harus bagaimana, Kak? Jika aku setor tasrifan ke ustadz atau ustadzah lain disini apakah diizinkan?”, tanya Adel kepada Kak Ica.
“Tidak boleh, Del. Karena yang ditugaskan untuk menyimak hafalan tasrifan dari santriwati hanyalah Ustadz Bara”, jawab Kak Ica dengan nada lembutnya.
Tiba- tiba Ustadz Bara datang dengan membawa al-Qur’an di tangan dan segera duduk untuk menutup sebuah lingkaran. Hal ini menandakan bahwa agenda akan segera di mulai. Ustadz Bara meminta Adel utuk membaca I’rob pada surat Ali Imron ayat 7. Kemudian Ustadz Bara bertanya kepada semua santriwati dengan pertanyaan yang sudah di sediakan dari ayat tersebut. Berhubung tasrifan Adel belum lancar, maka dari itu Ustadz Bara bertanya kepada Adel tentang asal kata dan mengikuti wazan apa.
“Yattabi’una. Berasal dari kata apa, Del?”, tanya Ustadz Bara dengan tatapan tajam.
“Ittaba’a”, jawab Adel dengan detak jantung yang sangat kencang.
“Dia fi’il apa?”, tanya Ustadz Bara yang kedua kalinya.
“Fi’il madhi”, jawab Adel dengan menatap Ustadz Bara, tanpa sadar mata mereka bertemu.
“Coba kamu tasrif secara istilahi”, pinta Ustadz Bara kepada Adel.
“Ittaba’a yattabi’u ittiba’an wamuttaba’an fahuwa”, ucapan Adel terhenti.
“Lancarkan tasrifanmu dulu, jika sampai minggu depan belum juga lancar. Maka kamu harus privat dengan saya. Karena jika tidak begitu, hal ini akan sangat mempermalukan saya sebagai ustadzmu”, ucap Ustadz Bara dengan nada sedikit tinggi.
“B..ba..baik, Ustadz”, jawab Adel dengan gelagapan.
Jarum panjang pada jam dinding telah menujuk angka Sembilan, sedangkan jarum pendeknya telah menunjuk angka 12. Semua santriwati kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Tapi tidak dengan Adel, justru Adel masih sibuk dengan memurojaah hafalan dan melancarkan tasrifan. Hingga tidak sadar jika ia telah ketiduran hingga pagi hari.
***
Satu minggu terasa begitu cepat. Hari ini adalah jadwal Adel untuk setoran tasrifan kepada Ustadz Bara. Meskipun Adel selalu memurojaah tasrifannya, tetapi waktu belum mengizinkan Adel untuk lancar dalam setoran tasrifan. Hal ini mengakibatkan Adel harus private dengan Ustadz Bara, seperti yang telah dikatakan Ustadz Bara pada minggu kemarin. Akibar dari private tersebut, Adel menyimpan rasa yang semula tidak direncana. Ia mengagumi Ustadz yang mengajarinya itu. Dalam sepertiga malamnya, ia selalu menyebut nama Ustadz Bara. Malam ini terasa sangat sunyi bagi Adel, ia tak dapat memejamkan matanya ketika usai melaksanakan sholat tahajjudnya. Akhirnya, ia menulis beberapa bait puisi tentang rasa yang bersemi di hatinya itu.
(PUISI)
Dulu aku hanyalah isim mufrod yang selalu sendiri
Seperti huruf zaidah yang tak mempunyai arti
Seperti fi’il mudhori’ lam yattashil bi akhirihi syaiun
Mencari sesuatu tetapi tidak menemukan sesuatu apapun sampai akhir kalimat
Aku tidak boleh putus asa akan hal ini
Aku harus menjadi mubtadak, agar bisa memulai sesuatu
Pertemuanku denganmu bagaikan khobar muqoddam
Karena pertemuan kita sebelumnya tak terencanakan
Dan aku menjadi mubtadak muakhkhor
Karena aku adalah isim
Aku memulai semuanya dari sebuah kalam
Yang wadh’i, secara sengaja
Dari sinilah rasa ini bersemi
Aku dan kamu seperti idhofah
Aku mudhof, dan kamu mudhof ilaih
Sungguh tidak dapat berpisah
Tanwin bagaikan orang ketiga diantara kita
Oleh karena itu, aku tak menerimanya
Karena ia akan memisahkan aku dan kamu
Kita bagaikan huruf syartiah
Jika tak ada jawabnya, apalah arti huruf syarat?
Jika tak ada kamu, apalah arti hidupku?
Sungguh sangat sulit bagiku
Untuk menghadzfu nama dan senyummu dari benakku
Padahal aku sudah berusaha untuk memasukkan amil-amil yang lain
Namun, tetap saja aku tak menemukan badalmu
Kamu memang fail yang aku dambakan
Meskipun diantara kita belum terathofkan
Maka dari itu, aku ingin mengathofkan perasaanku dan perasaanmu
Tapi, bagaimana dengan hal perasaanmu kepadaku?
Padahal aku ingin kita seperti ittishol
Selalu merasakan hal yang sama
Tak ada pemisah diantara kita
Dan susah senang kita pikul bersama
Usai mengungkapkan perasaannya melalui bait puisi tersebut, Adel mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, hal ini tidak berhasil olehnya. Kini yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana penjelasan Ustadz Bara dan tatapan mata Ustadz Bara ketika menatapnya. Adel semakin bingung dengan rasa yang di milikinya, mengapa rasa itu muncul ketika ia sudah mempunyai kekasih. Kali ini ia benar-benar merasa bimbang. Ia memikirkan cara agar bisa mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya.
***
Setelah memurojaah hafalannya, Adel membuka pesan dari kekasihnya yang telah lama tak diberi kabar olehnya.
“Sayang? Apa kamu sudah melupakanku? Sampai-sampai kamu tak pernah mengabariku?”, tulis Firman pada pesan whastapp nya.
“Tidak, Sayang. Aku sama sekali tak melupakanmu, aku hanya sibuk dengan tugas kuliahku. Maafkan aku yang tak pernah mengabarimu”, balas Adel kepada kekasihnya.
“Apa kamu tidak merasakan rindu padaku?”, tanya Firman pada pesan whatsapp nya.
“Tidak, Sayang. Seperti yang ku katakana dulu, jika aku sudah fokus pada kuliahku aku tak memikirkan kamu sama sekali. Aku fokus pada hafalan dan tugasku. Jadi, maafkan aku jika aku menaruhmu di nomor yang kesekian kali”, jawab Adel dengan emoticon meminta maaf.
“Baiklah, sepertinya kamu sudah tak mencintaiku. Lebih baik kita sudahi saja hubungan kita”, tulis Firman dengan emoticon wajah kecewa.
“Jika Mas Firman keberatan untuk melanjutkan hubungan, baiklah. Aku menerima keputusan Mas Firman dengan lapang dada”, balas Adel dengan perasaan santainya.
Akhirnya, hubungan mereka pun berakhir. Sesuatu yang diinginkan Adel telah terwujud, ia tak keberatan jika harus menyandang status sebagai single. Karena bagi Adel itu akan meningkatkan konsetrasinya dalam belajar.
Ketika screen server di hp Adel melihatkan angka 09.00, Adel segera turun dari lantai dua untuk mengikuti agenda kitab kuning yang akan didampingi oleh Ustadz Bara. Usai Ustadz Bara menutup kelas itu, Ustadz Bara meminta kepada Adel agar tidak kembali terlebih dahulu karena ada suatu hal yang harus dibicarakan.
“Kamu kenapa setiap saya lihat kok pasti nunduk?”, tanya Ustadz Bara kepada Adel.
“Tidak apa-apa kok, Ustadz. Mengapa Ustadz menanyakan hal ini kepada saya?”, jawab Adel seraya menudukkan kepalanya kembali.
“Saya hanya merasa aneh saja denganmu. Saya merasa tidak kamu hormati, karena saya sedang berbicara denganmu tetapi kamu sama sekali tak melihat ke arahku”, ucap Ustadz Bara dengan nada sedikit ketus.
“Maafkan saya, Ustadz. Sebelumnya saya belum pernah bicara dengan laki-laki seraya melihat ke wajahnya. Sebab itu akan membuat detak jantung sayaa tak karuan dan membuat badan saya menjadi dingin karena rasa gerogi”, ucap Adel dengan rasa malunya.
“Baiklah, sekarang saya dapat menyimpulkan karaktermu. Sekarang kita masuk ke inti pembicaraan”, ucap Ustadz Bara dengan nada serius.
Adel tak mampu berkata-kata. Seakan-akan ia sedang dibius, ia sempat berfikir jika ini adalah sebuah mimpi. Karena ia berada dalam satu ruangan dengan Ustadz yang diidamkan itu. Ternyata Ustadz Bara menyimpan rasa yang sama kepada Adel.
“Kamu adalah mahasiswa saya. Apakah kamu akan menuruti semua perintah saya jika perintah saya ini akan mempengaruhi IPK mu nanti?”, tanya Ustadz Bara seraya menatap mata Adel dengan tajam.
“Mengapa Ustadz bertanya ini? Tidak biasanya Ustadz menatapku dengan tatapan seserius ini sebelumnya”, jawab Adel dengan rasa takut.
“Pertanyaan saya jawab dulu, jangan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan saya”, ucap Ustadz Bara dengan nada ketus.
“Baiklah, Ustadz. Saya akan menuruti semua perintah Ustadz”, jawab Adel seraya menundukkan kepala dan mengatur detak jantungnya.
“Apakah jika saya memerintahmu untuk menjadi makmumku, kamu akan menurutinya juga?”, tanya Ustadz Bara kemudian.
“Maksutnya, Ustadz?”, tanya Adel dengan rasa tak percaya nya.
“Apa perkataan saya kurang jelas?”, tanya Ustadz Bara seraya meninggikan suaranya.
“Sudah jelas, Ustadz. Apa Ustadz sedang tidak bercanda?”, tanya Adel kemudian.
“Apa kamu pernah melihat saya sebercanda ini kepadamu? Atau kamu pernah melihat saya sebercanda ini kepada santriwati yang lain? Saya mengetahui jika kamu mengagumi saya. Oleh karena itu, saya memintamu untuk menjadi makmum saya. Karena kamu adalah satu-satunya santriwati yang dapat menarik perhatian saya, meskipun kamu hanya bersikap biasa saja”, ucap Ustadz Bara untuk mengakhiri pembicaraannya.
“Maafkan saya, Ustadz. Sepertinya jika saya mengiyakan permintaan Ustadz, maka akan banyak sekali santriwati lain yang membully saya. Apa lagi tak sedikit santriwati disini yang menginginkan untuk menjadi pendamping hidup Ustadz”, jawab Adel seraya menghela nafasnya, karena pada akhirnya dia dapat bicara dengan tenang.
“Baiklah. Saya hanya memberimu dua pilihan. Pilihan pertama, kamu menjadi makmum saya dengan posisi aman. Atau pilihan kedua, kamu menolak permintaan saya dengan catatan IPK kamu di bawah rata-rata. Bukankah ini pilihan yang sangat mudah bagi kamu? Bukankah hal ini juga yang kamu inginkan? Jangan membuatku mati rasa , karena kamu menolak permintaanku”, ujar Ustadz Bara sembari mengambil selembar kertas kemudian menuliskan sebuah kalimat. Kemudian kertas tersebut di berikan kepada Adel.
“Aku mencintaimu, Mahasiswaku. Tetaplah menjadi ratu yang menguasai hatiku. Aku mencintaimu dan rasa ini tak dapat melepasmu kepada laki-laki lain selain aku. Aku egois dengan milikku karena aku tak mampu menahan cemburu ketika melihatmu memikirkan pria selain aku, walaupun hanya sekilas”, baca Adel dalam hati.
“Sampai sini kamu sudah paham kan, Adelina Candrawinata?”, tanya Ustadz Bara.
“Hehe”, jawab Adel dengan senyum yang disertai bulatan di pipinya yang memerah.
“Lantas bagaimana jawabanmu?”, tanya Ustadz Bara yang kedua kalinya.
“Saya akan membicarakan kepada orangtuaku dulu, Ustadz. Apabila Ustadz Bara benar-benar menginginkan saya untuk menjadi makmum Ustadz, maka Ustadz Bara harus mendatangi orangtua saya terlebih dahulu”, jawab Adel dengan sopan.
“Baiklah. Itu tidak masalah bagi saya. Saya akan mengunjungi orangtuamu malam ini. Dan kamu, harus meminta izin untuk pulang. Bilang saja kalau ada keperluan yang mendadak. Sekarang kamu boleh keluar dari ruangan ini sebelum ustadz-ustadzah yang lain melihat kita”, ucap Ustadz Bara.
“Baik, Ustadz. Jika nanti saya menerima Ustadz di depan orangtua saya, maka saya memohon agar pernikahan kita dilaksanakan secara pribadi dan status kita di sembunyikan. Saya memohon izin untuk keluar. Assalamu’alaikum”, ucap Adel seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Baiklah. Wa’alaikumussalam wr wb, Mahasiswa mudaku yang akan menjadi makmumku”, jawab Ustadz Bara dengan garis lengkung di bibirnya.
***
Malam yang indah di terangi sinar rembulan. Ustadz Bara mendatangi rumah orangtua Adel bersama orangtuanya untuk membicarakan rencana selanjutnya. Usai keluarga Ustadz Bara dipersilahkan untuk masuk, Ibu Ustadz Bara mengucap salam dan segera memulai pembicaraan yag tanpa basa basi.
“Mohon maaf, Bu. Kedatangan kami kesini adalah untuk mekhitbah putri ibu. Sebelumnya ini sudah mereka bicarakan terlebih dahulu”, ucap Ayah Ustadz Bara dengan jelas.
“Iya, Bu. Saya sudah mendengar cerita mereka. Masalah ini saya kembalikan kepada putri saya”, jawab Ibu Adel dengan nada lembutnya.
“Saya menerima khitbah dari Ustadz Bara, Bu. Dengan kesepakatan yang telah kami buat kemarin”, jawab Adel dengan malu.
“Alhamdulillah”, ucap Ibu Adel, Ibu Ustadz Bara dan Ayah Uztadz Bara.
“Sebaiknya pernikahan ini segera di percepat, agar dosa yang diakibatka dari zina mata tidak menumpuk”, ucap Ayah Ustadz Bara seraya terkekeh.
“Pantas saja anak saya meminta kepada kami untuk segera meminangmu. Rupanya selain gadis yang sangat cantik, kamu juga sangat sopan dan pandai. Hanya saja kamu belum bisa mengendalikan malu dan gerogimu”, ucap Ibu Ustadz Bara kepada Adel.
“Hehe. Ibu bisa aja”, jawab Adel dengan menundukkan kepala.
***
Satu minggu berlalu dengan sangat cepat. Hari ini adalah pernikahan Ustadz Bara dan Adel. Pernikahan yang dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi tersebut hanya dihadiri oleh kerabat dekat dari keluarga kedua mempelai. Bahkan, salah satu dari teman mempelai pun tidak ada yang mengetahuinya. Acara ini dilakukan dengan sederhana, karena bagi kedua mempelai adalah yang penting halal. Usai ijab qobul di ucapkan oleh mempelai pria, kedua mempelai tersebut masuk kedalam kamar untuk melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Setelah sholat sunnah, Ustadz Bara membacakan doa setelah akad.
“Allahumma inni as aluka min khoiriha wa khoirimaa jaabaaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa ‘alaih”, ucap Ustadz Bara seraya memegang ubun-ubun Adel.
Kemudian Ustadz Bara mencium kening Adel dalam waktu lima menit. Untungnya, mereka berada di dalam kamar. Sehingga tidak ada orang yang melihat mereka dan Adel tidak terlalu malu.
“Kamu benar-benar badal yang tepat dari ayahku, Ustadz yang sekarang menjadi suamiku. Terima kasih, Allah. Engkau telah mengabulkan semua doa-doaku”, ucap Adel dengan senyum yang manis seraya disertai air mata yang jatuh tanpa bicara.
“Alhamdulillah kini kamu sudah halal menjadi istriku, Mahasiswa semester mudaku. Semoga kita menjadi keluarga yang selalu mendapat ridho-Nya”, jawab Ustadz Bara.
“Aamiin”, ucap mereka secara bersamaan.
The End
Oleh: Febriana, Disciples Monash Institute 2020

