Santri kritis. Ini seolah contradictio in terminis. Sebab, kata santri sudah membentuk asosiasi berupa orang yang mengambil sikap sami’nâ wa atha’nâ kepada guru atau kiai. Sedangkan kritis adalah sikap tidak cepat percaya, tajam pada analisis dan selalu berusaha mencari celah kesalahan atau kekeliruan. Namun, istilah santri kritis sering sekali digaungkan oleh Pengasuh Pesantren Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, Jateng atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO dan juga guru utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang, Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Menurut ayah lima anak yang akrab disapa Abah Nasih atau Abana ini, agar santri pintar, berkualitas melampaui guru atau kiainya, dan mereka menghasilkan temuan-temuan untuk masa depan umat yang lebih baik, mereka harus memiliki sikap kritis. Kalau hanya mengikuti pandangan-pandangan masa lalu, padahal itu sekedar tafsiran, dan tafsiran sangat mungkin mengalami kesalahan atau minimal sudah tidak relevan, maka umat Islam tak akan mengalami kemajuan. Doktrin Islam yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits, harus dipilah, mana yang harus dipahami secara tekstual, dan mana yang harus dikontekstualisasikan dan direkontektualisasikan. Dan untuk melakukan itu, santri dengan berbagai disiplin ilmu yang kini terus bermunculan dan makin berkembang, harus berani membongkar pandangan lama yang sudah tidak relevan apalagi nyata-nyata keliru.
Berikut wawancara Baladena.ID dengan Pengajar Ilmu Politik di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI itu:
Baladena: “Mengaji berparadigma kritis itu maksudnya bagaimana? Kalau santri diajak kritis, apakah bisa?”
Abana: “Islam itu agama yang bukan hanya kritis, tapi sangat kritis. Lihat saja al-Qur’an, bukan hanya memberikan gambaran kritik atas orang lain yang keliru, tetapi bahkan agama bapak moyang sendiri. Al-Qur’an mengkritik sikap yang hanya membebek kepada apa yang dipegang teguh oleh nenek moyang, tanpa sikap kritis yang menyebabkan mereka hidup dalam kesesatan. Itu jelas ditegaskan di dalam al-Baqarah: 170 dan al-Maidah: 104.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.
Jadi, kalau sampai santri tidak bersikap kritis, itu ada masalah.”
Baladena: “Nah, apa itu yang menyebabkan? Dan mungkin sekaligus menjadi sesuatu yang melatarbelakangi ajakan mengaji dengan paradigma kritis ini ya, Bah?”
Abana: “Yang paling utama menjadi penyebabnya adalah budaya feudal. Budaya ini hidup di lingkungan kita. Sudah lama fenomena ini diungkap oleh Mochtar Lubis. Tahun 1970-an Mochtar Lubis mengungkap budaya ini. Kalau budaya sudah feudal, santri sulit melakukan dialog. Dialog kan membutuhkan kesetaraan. Dan jika pun belum setara, guru harus mengondisikan santri-murid untuk memiliki mental setara di masa depan. Caranya ya dimotivasi dan diinspirasi untuk melakukan pertengkaran dalam pandangan dan gagasan. Di Indonesia ini memang tidak mudah. Sebab, gizi masih menjadi persoalan berat. Padahal gizi adalah salah satu faktor penunjang kecerdasan. Kalau santri-murid makan daging sapi hanya pada saat Idul Qurban, sulit kan menemukan santri-murid pintar. Apalagi mayoritas santri masih berasal dari masyarakat ekonomi menengah bawah pinggiran. Saya menemukan persinggungan masalah ini dengan temuan saya bahwa santri yang mampu menguasai kitab kuning hanya 2%. Tapi itu masih ditambah dengan faktor lain yang berkaitan dengan intensitas belajar yang sangat kurang, karena di pesantren masih banyak ngaji bandongan. Ini bikin santri-murid malas mikir. Padahal, ada banyak sekali konsep dan paradigma yang kalau kita mikir sedikit saja, akan langsung kelihatan kelemahannya. Dan inilah yang menurut saya menyebabkan umat Islam tertinggal dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Sebab, umat yang seharusnya sangat rasional ini, ternyata tidak mengoptimalkan rasionya. Bahkan kata Sir Iqbal, sudah sejak 500 tahun lalu, mereka berhenti berpikir.”
Baladena: “Apakah ada contoh-contoh konkretnya?”
Abana: “Banyak sekali. Hanya saja, kita mesti siap mental untuk menerimanya. Dalam Tafsir Jalalayn misalnya, terdapat banyak sekali penafsiran yang keliru atau bahasa lebih halusnya sudah tidak relevan lagi. Hanya saja, kitab ini masih menjadi kitab pegangan di hampir semua pesantren di seluruh Indonesia. Kalau tidak menggunakan kitab ini, wah bisa diragukan, itu pesantren beneran atau tidak. Hahaha. Maka kalau toh harus kita gunakan, maka paradigma santri-muridnya harus kritis. Kalau tidak, sama saja kita belajar untuk keliru. Itu kan buang waktu. Kalau pakai paradigma kritis, walaupun kita belajar tentang keliru di masa lalu, tetapi setidaknya masih dapat pelajaran metode penafsiran dan sekaligus keberanian untuk memasukkan pikiran atau penafsiran baru yang relevan. Contoh konkretnya, penafsiran al-Baqarah: 19 di Tafsir Jalalayn ini sudah tidak lama tidak relevan, setidaknya setelah temuan-temuan fisika modern. Tidak mungkin kita memahami petir sebagai malaikat atau suara malaikat. Petir adalah fenomena alam biasa, yang terjadi karena adanya beda potensial yang besar sehingga terjadi lompatan dari potensial tinggi ke rendah atau sebaliknya. Semakin besar potensialnya, maka semakin besar kilatan listrik yang dihasilkan. Dan suaranya baru terdengar setelah kilatnya, karena kecepatan cahaya lebih tinggi dibanding kecepatan suara. Mau contoh lain, silakan saja tanya definisi Takbiratul Ihram pada para santri. Saya jamin 100 persen akan menjawab dengan jawaban salah bahwa itu adalah takbir yang karenanya sesuatu yang halal di luar shalat menjadi haram. Ini definisi yang keliru fatal, tetapi diterima begitu saja. Tak da yang mempersoalkan”.
Baladena: “Memang apa masalah dalam definisi itu?”
Abana: “Kalau kita bernalar dengan basis al-Qur’an dan hadits, pasti akan mudah menemukan kekeliruan definisi yang sudah masyhur di pesantren itu. Ihram disitu artinya bukan mengharamkan. Ihram memang berasal dari kata ahrama, dan ahrama berasal dari kata haruma-yahrumu, artinya ada beberapa, di antaranya: haram sebagaimana sering kita pahami, yaitu kalau dikerjakan menyebabkan dosa dan kalau ditinggalkan mendapatkan pahala. Haram sebagaimana digunakan dalam kata masjidil haram. Tak mungkin itu dimaknai dengan haram sebagaimana yang pertama. Haram di sini maknanya mulia, suci, atau bahasa Inggrisnya sacral. Jadi, masjidil haram adalah masjid yang sakral. Sama dengan tanah haram artinya tanah suci.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Isra’: 1)
Kata haram di dalam ayat ini tidak ada kaitannya dengan makan dan minum. Ini menunjukkan bahwa masjid yang sacral atau suci dan berada di tanah suci sebagaimana digunakan kata kerjanya di dalam al-Naml: 91.
إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (al-Naml: 91)
Kita sering dengar ini. Jadi, mudah saja kan memaknai takbiratul ihram. Artinya: takbir yang menjadi penanda bahwa kita sudah memulai “upacara” untuk memuliakan dan menyucikan Allah Swt.. Karena itu, dalam kita upacara bendera, ada teriakan pemimpin upacara “kepada pembina upacara, hormaaat grak”. Kata hormat itu bahasa Arabnya hurmat, akar katanya sama dengan haram itu artinya memuliakan. Jadi, kalau setelah takbir kemudian makan, itu tidak dosa, hanya batal saja. Harus diulangi lagi. Itu saja.”
Baladena: “Memang apa masalahnya mengajak santri mengaji secara kritis?”
Abana: “Faktanya kan santri secara umum memang belum kritis. Santri-santri yang menempuh pendidikan kelas menengah, belum jadi mahasiswa, itu hanya dianggap sebagai botol-botol kosong yang tidak memiliki kesempatan bicara dan bertanya. Dan itu menyebabkan mereka pada saat kuliah di perguruan tinggi, menjadi mahasiswa-mahasiswa apatis di satu kutub dan liberal di kutub yang lain. Yang apatis karena melanjutkan kebiasaan. Sedangkan yang liberal karena mereka dengan keberanian yang didapatkan dari komunitas lain kemudian merayakan kebebasan. Jumlah yang liberal ini sebenarnya sangat sedikit, tetapi mereka sangat vokal, sehingga seolah-olah yang mayoritas juga begitu. Padahal tidak.”
Baladena: “Apa saja yang diperlukan untuk bisa membuat santri berparadigma kritis?”
Abana: “Kritis itu pada dasarnya kan aktivitas berpikir ya. Jadi ini kerja otak. Otak itu ditentukan oleh asupan gizi dan oksigen. Jadi, diperlukan santri-santri yang ibunya sebelum melakukan aktivitas pembuahan sudah benar dulu dalam masalah asupan gizi, dan itu berlanjut dalam masa kehamilan, pada saat lahir diurus dengan tepat, dan setelah itu diasuh dengan pola asuh yang benar. Termasuk masuk ke lembaga pendidikana yang dikelola dengan paradigma dan perilaku yang benar, yang mengarahkan kepada tumbuh kembang secara kritis. Ya begini ini kalau mau melahirkan generasi santri yang bisa diajak berpikir kritis.”
Baladena: “Kalau santri yang ada sekarang, bagaimana caranya agar mereka juga bisa berparadigma kritis?”
Abana: “Maksudnya, santri yang krisis sekarang ini diubah jadi kritis gitu? Hahaha. Ya bisa. Tapi hasilnya jangan berharap banyak. Saya sudah mengalami selama lebih dari 10 tahun. Mereka harus kita seleksi. Itu yang saya lakukan. Mereka adalah anak-anak lulusan SMU yang memiliki potensi untuk kritis. Harus kita genjot tiap hari secara kontinue untuk bisa benar-benar menjadi kritis. Tidak semua mahasiswa mau dan mampu berpikir kritis. Apalagi kalau mereka nanti hidup riil di masyarakat. Ini makin berat lagi. Pada saat masih menjadi mahasantri, untuk menjadi mahasantri kritis, mereka harus membongkar cara berpikir dan berprilaku di masa lalu yang sudah terlanjur membatu. Ada pikiran bahwa kalau bersikap kritis itu tidak sopan, suu’u al-dhann, apalagi sampai menyalahkan pendapat yang ada di dalam kitab yang dikaji. Misalnya nih, akan muncul semacam perasaan “siapa kita kok berani-beraninya mengoreksi tafsir Jalalayn?”. Kan begitu yang ditanamkan sejak mereka sekolah menengah. Saat mahasiswa pun tetap susah. Karena itu, diperlukan mahasantri-mahasantri pilihan, yang mereka benar-benar memiliki kesiapan intelektual dan mental untuk melakukan kritik ekstrem. Untuk sementara ya ini. Nah, dari mereka ini, kita berharap lahir generasi santri baru di masa depan yang sejak kecil sudah dikondisikan untuk kritis.”
Baladena: “Terus tadi Abah singgung soal kalau sudah kembali ke masyarakat. Bagaimana itu maksudnya?”
Abana: “Itu akan makin berat. Sebab, masyarakat kita kan sudah dalam status quo. Kalau bikin wacana dan narasi yang tidak umum, maka akan jadi masalah. Bahkan yang sudah jadi tokoh pun tidak berani melakukan itu, karena takut ditinggalkan pengikut, karena dianggap menyimpang. Nah, akan berani berbeda kalau kemandirian intelektual yang menjadi pilar sikap kritis dijalin dengan kemandirian finansial. Dengan dua kemandirian itu, santri yang saat belajar di pesantren sudah kritis, akan melanjutkan kritisismenya saat memimpin di masyarakat. Mereka akan berani melakukan apa saja tanpa khawatir untuk tidak dukung oleh masyarakat, karena mengharapkan kontribusi finansial mereka. Jadi, lagi-lagi, keuangan ini menempati posisi yang tidak bisa diabaikan. Posisinya ternyata juga sentral. Tidak bisa kritis, karena kantong krisis.” ***

