Banyak orang yang mengatakan bahwa seorang penghafal al-Qur’an adalah orang yang hebat dan memiliki kedudukan tinggi. Anggapan tersebut tidak salah. Namun persepsi terhadap penghafal al-Qur’an itu yang seringkali kurang tepat. Apa maksudnya? Mari kita cari tahu lebih lanjut.
Orang tua mana yang tidak senang jika mempunyai seorang anak penghafal al-Qur’an? Pastilah jika orang tua ditanya seperti itu, jawaban mereka hanya tiga, yaitu senang, bahagia, dan bangga. Akan tetapi, problematika yang terjadi saat ini adalah banyak penghafal al-Qur’an yang hanya pernah menghafalkan al-Qur’an saja. Dengan kata lain, banyak penghafal al-Qur’an yang belum bisa disimak 30 juz penuh hafalan mereka (red: disimak adalah memperdengarkan bacaannya tanpa melihat teks).
Banyak orang tua berbondong-bondong memasukkan anak mereka ke pesantren dengan harapan bahwa kelak anak-anaknya akan menjadi seorang hafidh atau hafidhah. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa mereka hampir bisa dipastikan mempunyai banyak masalah dalam proses menghafal atau mempertahankan hafalan. Memang, setiap penghafal al-Qur’an mempunyai rintangan tersendiri dalam proses menyelesaikan hafalannya.
Masalah-masalah yang terjadi pada rata-rata para penghafal al-Qur’an adalah “waktu”. Kebanyakan penghafal al-Qur’an menyelesaikan hafalan mereka dalam waktu yang sangat lama, yaitu berkisar enam, tujuh, sampai delapan tahun, bahkan sampai rela menua di dalam pesantren pun ada. “Mencari ilmu membutuhkan waktu yang lama”, kata mutiara ini biasanya yang dijadikan sebagai pembenaran bagi mereka yang mempunyai masalah mengenai waktu menghafal.
Para penghafal al-Qur’an pasti menginginkan menyelesaikan hafalan mereka dengan cepat dan lancar ketika disimak oleh orang lain, apalagi gurunya. Al-Qur’an terdiri dari 30 juz yang masing-masing juz memiliki 20 halaman (Biasanya penghafal al-Qur’an memakai mushaf al-Qur’an pojok). Bisa dipastikan bahwa jumlah halaman al-Qur’an lebih dari 600 halaman, plus awal dan akhir.
Melihat itu, seharusnya para penghafal al-Qur’an bisa menyelesaikan hafalan mereka paling lama dua tahun, jika memiliki kekonsistenan one day one page (satu hari satu halaman). Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dengan karunia akal sehat yang luar biasa, untuk menghafalkan itu tidak akan menjadi beban yang terlalu berat. Kecuali kalau memang memiliki kecacatan pada otak, bisa dimaklumi jika menghfalkan lebih dari dua tahun. Dan semua itu, dikembalikan lagi seberapa besar komitmen dan konsistensi bagi yang sedang menghafalkan al-Qur’an.
Terdapat peristiwa, seorang anak menghafal al-Qur’an di sebuah pesantren tahfidh selama enam tahun. Setelah keluar dari pesantren, orang tua bahkan lingkungan sekitar menganggap bahwa dia sudah pintar, seorang hafidhah, dan anggapan yang baik lainnya ditujukan padanya. Akan tetapi setelah dites ternyata hafalannya tidak lancar dan belum bisa disimak secara menyeluruh atau bisa disebut dengan “sebagian teks hilang” dari ingatannya. Bukankah itu mengecewakan orang tua dan penduduk di lingkungan sekitar, yang menganggap bahwa dia sudah hebat karena telah tinggal di pesantren selama bertahun-tahun? Hal ini seperti yang ada pada bagian awal, bahwa tidak semua penghafal al-Qur’an itu hafal al-Qur’an. Nah, bagaimana ini maksudnya?
Masih bagus jika masyarakat di sekelilingnya mempunyai pengetahuan yang baik, hingga bisa mengetahui bahwa lulusan pesantren tersebut belum mempunyai pengetahuan yang mumpuni untuk bisa dijadikan panutan bagi masyarakat. Namun, apabila masyarakat di sekelilingnya tidak bisa melihat hal tersebut, maka mereka akan menganggap bahwa apapun yang diajarkan oleh lulusan pesantren tersebut adalah benar. Oleh karena itu, untuk menghindari pembodohan oleh orang-orang yang dianggap hebat dan ternyata hanya tipu daya untuk memperoleh sanjungan, pujian, dan uang, maka sangat dibutuhkan yang namanya ilmu alat.
Ilmu alat adalah ilmu yang sangat penting bagi penghafal al-Qur’an. Ilmu alat bisa digunakan untuk memahami apa yang dikandung didalam ayat-ayat al-Qur’an. Jika penghafal al-Qur’an telah mengetahui makna ayat yang akan dihafal, maka menghafal pun akan terasa menjadi lebih mudah. Salah satu guru al-Qur’an yang menggunakan ilmu alat sebagai metode menghafalkan al-Qur’an adalah Abana Mohammad Nasih. Dia adalah pendiri rumah perkaderan Monash Institute Semarang, dengan moto Excellent with al-Qur’an.
Abana menggunakan metode utawi-iku untuk memudahkan santri-santrinya menghafalkan al-Qur’an. Menurutnya, metode ini adalah metode yang paling tepat untuk menyelesaikan hafalan secara cepat dan lancar apa bila disimak. Metode ini mampu membuat seseorang memahami firman-firman Allah, yang sepatutnya diamalkan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Dengan kata lain, orang harus paham dulu dengan bantuan ilmu alat untuk baru kemudian menghafal.
Menurut Abana, menghafal akan jauh lebih susah apabila tidak mempunyai ilmu alat. Dengan perkataan lain, menghafal tanpa mengetahui maknanya, akan membutuhkan waktu dan tenaga berlipat-lipat. Dan jikalau ada orang yang berhasil menyelesaikan hafalan tanpa ilmu alat, akan relatif lebih lama, dan itupun belum juga dijamin kelancarannya. Sangat sedikit orang yang tanpa ilmu alat, bisa lancar ketika disimak. Jika ada orang yang lancar disimak tanpa memahami ilmu alat, pasti ia membutuhkan kekuatan ekstra untuk memuraja’ah hafalan, untuk memastikan hafalan mereka tetap terjaga. Dan mereka memiliki kecerdasan memorial yang sangat tinggi.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang takjub melihat penghafal al-Qur’an, Abana justru tidak tersilaukan dengan pemandangan itu. Mungkin bisa dianalogikan, menghafal tanpa mengetahui maknanya sama saja seperti burung beo yang berkicau. Burung beo bisa menirukan suara manusia, tetapi tidak mengerti apa yang telah dia ucapkan. Tentu saja ini adalah ungkapan ekstrem untuk memberikan autokritik kepada kita semua, umat Islam, untuk lebih giat lagi mempelajari al-Qur’an.
Orang yang hafal al-Qur’an saja tanpa tahu artinya, tentu sudah merupakan prestasi, tetapi akan sangat luar jika seorang yang hafidh-hafidhah itu mengetahui artinya dan memahami makna dan tafsirnya. Lebih dari itu, sama halnya dengan penghafal al-Qur’an yang tidak mengetahui isi dan kandungannya, sehingga mudah sekali ayat-ayat yang telah dihafal menghilang tanpa sungkan-sungkan. Dan apabila hafalan telah menghilang, akan sangat sulit mengembalikannya dalam ingatan, bahkan lebih sulit dari pertama kali membuat hafalan itu menempel di memori otak kita. Naudzubillah min dzalik.
Abana memberikan solusi bagi para penghafal al-Qur’an agar menghafal tidak dianggap sebagai beban, bagi mereka yang hampir berputus asa untuk menyelesaikan hafalan al-Qur’an. Mereka bisa menjalani prosesnya dengan bahagia. Hal yang harus dilakukan adalah mempelajari ilmu alat terlebih dahulu. Dengan menguasai ilmu alat, insyaa’a Allah menghafal akan lebih mudah, karena sudah mengerti apa maksud dari ayat yang akan dihafalkan. Selain itu, karena sudah mengetahui isi al-Qur’an, hidup akan lebih indah dengan menjalankan apa-apa yang menjadi ketentuan Allah di dalamnya.
Pada akhirnya, al-Qur’an akan menjadi petunjuk bagi manusia dan terutama sekali orang-orang yang bertakwa. Petunjuk itu akan benar-benar menjadi petunjuk jika ia betul-betul dipahami maksud kandungannya. Dan menghafal adalah jalan untuk memahami secara sempurna, karena di dalam al-Qur’an ada interkoneksi ayat yang letakkan tidak jarang berjauhan dan bahkan di dalam surat yang berbeda. Lalu bagaimana, memahami dulu baru menghafal atau hafal dulu baru memahami? Singkat kata: memahami untuk memudahkan dalam mengafal dan menghafal untuk jalan memahami. Wallahu a’lam bi al-shawaab.
Oleh: I Anatur Roziqoh, Disciple 2019, Komisi II Parlemen di Rumah Perkaderan Monash Institute Semarang
Editor: Anzor Azhiev

