Baladena.id, Rembang – HMI Cabang Rembang menyelenggarakan acara pelantikan pengurus di Aula DPRD Kabupaten Rembang. Acara dihadiri oleh Bupati Rembang, Harno, S.E. dan para alumni HMI atau KAHMI Rembang di antaranya anggota DPRD Gerindra, Puji Santoso.
Irma Nur Aulia yang baru saja dilantik sebagai Ketua Umum, menyampaikan komitmen untuk menjadi mitra kritis dan sinergis bagi pemerintah Kabupaten Rembang. “Kami siap melakukan diskusi dan aksi untuk memperjuangkan kemajuan warga masyarakat Rembang. Sebab, di antara semangat para kader HMI jelas termuat dalam hymne yakin usaha sampai untuk kemajuan. Keberadaan kami di Rembang adalah untuk bergerak bersama dengan pemerintah untuk mengakselerasi kemajuan Rembang.” Kata Irma yang juga merupakan salah satu santriwati Pondok Pesantren al-Hamidiyah Lasem.
Bupati Rembang dalam sambutannya menyambut baik kepengurusan baru HMI Cabang Semarang dan siap menerima HMI kapan saja membutuhkan dialog dengannya. “Di mana saja HMI ingin diskusi dengan saya, saya siap sedia 24 jam. Mau di kantor, di rumah, di mana saja, saya akan selalu terbuka”, kata Harno yang merupakan Bupati dengan harta kekayaan terbesar di Jawa Tengah.
Selain pelantikan, HMI Cabang Rembang juga melakukan diskusi kebangsaan dengan menghadirkan Dr. Mohammad Nasih, M.Si. yang merupakan seorang alumni HMI yang berkiprah dalam berbagai aspek, baik sebagai pendidik dengan mendirikan Pesantren Planet NUFO Rembang maupun sebagai politikus PAN. Dalam orasi bertajuk “Era Baru Perjuangan: Re-Aktualisasi Potensi HMI Sebagai Motor Penggerak Kemajuan Masyarakat Rembang” pria yang akrab disapa Abah Nasih itu memberikan tantangan kepada para aktivis HMI yang sebagiannya adalah santri Sarang untuk memiliki keberanian melakukan rekonstruksi pemikiran Islam.
“Kalau ingin mendorong kemajuan, kader-kader HMI harus berani melakukan rekonstruksi pemikiran keislaman. Dan karena banyak di antara kalian adalah santri Sarang, mestinya kalian bisa menjadi motor penggerak pemikiran ini dengan cara pertama melakukan kritik terhadap konsepsi-konsepsi dan pemikiran yang keliru atau sudah tidak lagi relevan. Jangan salah, para santri pesantren salaf, kalau sudah mendapatkan sentuhan logika yang kuat dan keberanian yang cukup, berpotensi menjadi Cak Nur-Cak Nur baru dengan gagasan yang lebih relevan. Cak Nur berasal dari pesantren salaf yang kemudian mendapatkan sentuhan kemodernan. Kalian santri salaf. Dengan masuk HMI, sentuhan kemodernan dengan ciri kritis konstruktif bisa kalian miliki untuk memajukan minimal Rembang. Dan jangan lupa, logika yang tajam butuh logistik yang kuat. Maka saya saya ubah sedikit trilogi Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dari “’ilm al-ulama, siyasat al-muluk, wa hikmat al-hukama’ (ilmu para ulama’, keterampilan politik para penguasa, dan kebijaksanaan para hakim)” menjadi “ilm al-ulama’, amwal al-aghniya’, wa siyasat al-muluk wa al-mala’ (ilmu para ulama’, harga kekayaan para konglomerat, dan ketrampilan politik para penguasa dan elite politik”, ” terang dosen ilmu politik di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan UMJ itu.
Karena itu, Abah Nasih mengajak kader-kader HMI untuk mempertajam visi keislaman, dan secara bersamaan juga memulai untuk merintis usaha, walaupun dimulai dari kecil. Ia mengingatkan bahwa dalam dua generasi yang akan datang biaya politik akan masih sangat tinggi. Karena itu, kader HMI harus benar-benar mempersiapkan diri secara serius. Tak cukup hanya dengan logika, tetapi juga logistik. ***

