Cita HMI Yang Nyata Bukan Hanya Utopis Belaka

HMI merupakan organisasi mahasiswa yang didirikan sejak tahun 1947 dua tahun sebelum kemerdekaan. Jika kita kembali merenungi sejarah masa lalu, maka akan kita dapati berita bahwa pendirian HMI tidak lepas dari pergolakan antara Indonesia dengan Belanda. Artinya pendirian HMI berkaitan erat dengan cita-cita untuk melepaskan sisa belenggu penjajahan Belanda terhadap Indonesia secara total. Lantas bagaimana asas yang harus digunakan oleh HMI untuk dapat merealisasikan cita-cita tersebut? Tidak lain adalah dengan menerapkan Islam sebagai asasnya.
Mengapa begHMI merupakan organisasi mahasiswa yang didirikan sejak tahun 1947 dua tahun sebelum kemerdekaan. Jika kita kembali merenungi sejarah masa lalu, maka akan kita dapati berita bahwa pendirian HMI tidak lepas dari pergolakan antara Indonesia dengan Belanda. Artinya pendirian HMI berkaitan erat dengan cita-cita untuk melepaskan sisa belenggu penjajahan Belanda terhadap Indonesia secara total. Lantas bagaimana asas yang harus digunakan oleh HMI untuk dapat merealisasikan cita-cita tersebut? Tidak lain adalah dengan menerapkan Islam sebagai asasnya. Mengapa begitu? Karena Islam memiliki misi yang sama sebagaimana dengan yang diemban oleh HMI, yaitu mengentaskan ketertindasan yang dirasakan oleh orang-orang Terdzolimi dan melawan orang-orang yang berbuat dzolim. Sejalan dengan yang dirasakan oleh orang-orang pribumi yang ratusan tahun merasakan penindasan terus menerus dari para penjajah dalam hal ini Belanda, Inggris, Jepang, Portugis dan lain sebagainya. Setelah benar-benar terlepas dari pengaruh penjajahan kolonial Belanda, rakyat Indonesia memang tidak lagi merasakan penindasan fisik dari penjajah asing namun hal demikian belum cukup untuk mengatakan bahwa rakyat Indonesia benar-benar tidak lagi merasakan penindasan Terlepas dari pengaruh penindasan oleh kaum penjajah, rakyat Indonesia dihadapkan pada persoalan baru yang bersifat klasik dan nampak seperti sesuatu yang wajar terjadi, yaitu elit-elit negara yang cenderung berpihak pada kepentingan pribadi tanpa memikirkan nasib rakyat yang menjadi tanggung jawab mereka ditambah lagi dengan sikap mereka yang anti kritik. Bagaimana mungkin Demokrasi di negara ini dapat dikatakan sehat apabila pemimpinnya saja enggan menerapkan prinsip demokrasi dalam menjalani proses kepemimpinan mereka. Maka hal inilah yang membuat para kader yang terhimpun dalam organisasi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam untuk memperjuangkan hak rakyat secara nyata bukan hanya utopis semata. Sama persis dengan cita-cita yang ditetapkan di awal pendiriannya, yakni memiliki sikap yang berpihak pada kaum – kaum tertindas. Untuk mencapai cita-cita tersebut sangat dibutuhkan kerja sama yang kuat antara satu kader dengan kader yang lain atau dengan kata lain yaitu dengan memperbaiki hubungan internal antar kader HMI. Artinya dalam hal ini perkaderan HMI harus benar-benar dilakukan secara totalitas dan bersifat selektif. Perkaderan HMI harus merekrut mahasiswa- mahasiswa yang memiliki komitmen serius untuk berjuang bukan sekedar numpang nama atau untuk mencari jabatan saja. Ini merupakan salah satu cara efektif untuk menguatkan kembali misi dalam rangka mencapai cita – cita HMI. Selain dalam hal perkaderan yang fokus utamanya untuk menumbuhkan insan akademis, kader HMI hendaknya harus berdaya soal finansial. Harus ada keseimbangan antara intelektual dengan finansial, sehingga kader HMI benar – benar dapat dikatakan debagai kader yang memiliki dua kemandirian utama, kemandirian intelektual dan kemandirian finansial. Dengan kemandirian intelektual, seorang kader dapat terhindar dari sikap bodoh dan membodohi orang lain dengan kemandirian finansial kader HMI dapat melangkah lebih jauh dalam memprjuangkan cita organisasi. Lantas sebenarnya apa yang menjadikan finansial itu penting? Tidak lain adalah keberanian. Jadi orang – orang yang memiliki keberanian biasanya mereka yang berdaya secara finansial. Karena materi adalah bekal penting dalam melangkah, orang yang memiliki materi yang cukup biasanya memiliki keberanian untuk bertindak, jadi orang yang memiliki uang berani melakukan apa saja sesuai dengan kehendak mereka tanpa harus diintervensi oleh orang lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Kader HMI dihadapkan pada persoalan – persoalan rumit yang mau tidak mau menjadi tanggung jawab mereka untuk memecahkannya. Ditambah lagi dengan kondisi perkaderan antar organisasi ekstra yang kian bertambahnya waktu kian memanas memperebutkan kekuasaan di kampus. Sehingga kader HMI perlu menyikapi persoalan ini dengan bijaksana dan dengan cara dewasa tidak semata-mata diam kala organisasi sebelah sampai tega berbuat sesuatu yang tidak manusiawi terhadap organisasi yang dirasa menjadi saingan. Kader HMI harus mampu menjaga harga diri HMI kepada organisasi lainnya serta harus mampu menumbuhkan komunikasi yang baik kepada sesama organisasi eksternal yang notabenenya tidak lepas dari konflik – konflik karena alasan politik dan lain – lain. Untuk mencapai cita – cita HMI dibutuhkan kerja sama team, kualitas komunikasi, keberdayaan intelektuan serta finansial yang baik. Tentu yang namanya cita – cita harus diubah menjati kenyataan jangan biarkan HMI memiliki cita – cita tanpa kerja nyata. Karena HMI memiliki visi yang luar biasa besarnya, maka sudah seharusnya hadir usaha dengan semangat yang tetap, bukan semangat musiman, selain itu niat juga menjadi kebutuhan penting dan bersifat mendasar dalam melakukan tindakan apapun. Kader HMI harus sadar akan hal dan tanggung jawabnya sebagai harapan umat dan bangsa, mereka harus merasa bahwa dipundak mereka terpikul masa depan umat dan bangsa. Oleh: Wa Ode Alyana Putri Amsya Kader HMI Komisariat FEBI, Korkom Walisongo Semarang Wallahu A’lam Bi shshawab. itu? Karena Islam memiliki misi yang sama sebagaimana dengan yang diemban oleh HMI, yaitu mengentaskan ketertindasan yang dirasakan oleh orang-orang Terdzolimi dan melawan orang-orang yang berbuat dzolim. Sejalan dengan yang dirasakan oleh orang-orang pribumi yang ratusan tahun merasakan penindasan terus menerus dari para penjajah dalam hal ini Belanda, Inggris, Jepang, Portugis dan lain sebagainya. Setelah benar-benar terlepas dari pengaruh penjajahan kolonial Belanda, rakyat Indonesia memang tidak lagi merasakan penindasan fisik dari penjajah asing namun hal demikian belum cukup untuk mengatakan bahwa rakyat Indonesia benar-benar tidak lagi merasakan penindasan
Terlepas dari pengaruh penindasan oleh kaum penjajah, rakyat Indonesia dihadapkan pada persoalan baru yang bersifat klasik dan nampak seperti sesuatu yang wajar terjadi, yaitu elit-elit negara yang cenderung berpihak pada kepentingan pribadi tanpa memikirkan nasib rakyat yang menjadi tanggung jawab mereka ditambah lagi dengan sikap mereka yang anti kritik. Bagaimana mungkin Demokrasi di negara ini dapat dikatakan sehat apabila pemimpinnya saja enggan menerapkan prinsip demokrasi dalam menjalani proses kepemimpinan mereka. Maka hal inilah yang membuat para kader yang terhimpun dalam organisasi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam untuk memperjuangkan hak rakyat secara nyata bukan hanya utopis semata. Sama persis dengan cita-cita yang ditetapkan di awal pendiriannya, yakni memiliki sikap yang berpihak pada kaum – kaum tertindas.
Untuk mencapai cita-cita tersebut sangat dibutuhkan kerja sama yang kuat antara satu kader dengan kader yang lain atau dengan kata lain yaitu dengan memperbaiki hubungan internal antar kader HMI. Artinya dalam hal ini perkaderan HMI harus benar-benar dilakukan secara totalitas dan bersifat selektif. Perkaderan HMI harus merekrut mahasiswa- mahasiswa yang memiliki komitmen serius untuk berjuang bukan sekedar numpang nama atau untuk mencari jabatan saja. Ini merupakan salah satu cara efektif untuk menguatkan kembali misi dalam rangka mencapai cita – cita HMI.
Selain dalam hal perkaderan yang fokus utamanya untuk menumbuhkan insan akademis, kader HMI hendaknya harus berdaya soal finansial. Harus ada keseimbangan antara intelektual dengan finansial, sehingga kader HMI benar – benar dapat dikatakan debagai kader yang memiliki dua kemandirian utama, kemandirian intelektual dan kemandirian finansial. Dengan kemandirian intelektual, seorang kader dapat terhindar dari sikap bodoh dan membodohi orang lain dengan kemandirian finansial kader HMI dapat melangkah lebih jauh dalam memprjuangkan cita organisasi.
Lantas sebenarnya apa yang menjadikan finansial itu penting? Tidak lain adalah keberanian. Jadi orang – orang yang memiliki keberanian biasanya mereka yang berdaya secara finansial. Karena materi adalah bekal penting dalam melangkah, orang yang memiliki materi yang cukup biasanya memiliki keberanian untuk bertindak, jadi orang yang memiliki uang berani melakukan apa saja sesuai dengan kehendak mereka tanpa harus diintervensi oleh orang lain.
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Kader HMI dihadapkan pada persoalan – persoalan rumit yang mau tidak mau menjadi tanggung jawab mereka untuk memecahkannya. Ditambah lagi dengan kondisi perkaderan antar organisasi ekstra yang kian bertambahnya waktu kian memanas memperebutkan kekuasaan di kampus. Sehingga kader HMI perlu menyikapi persoalan ini dengan bijaksana dan dengan cara dewasa tidak semata-mata diam kala organisasi sebelah sampai tega berbuat sesuatu yang tidak manusiawi terhadap organisasi yang dirasa menjadi saingan. Kader HMI harus mampu menjaga harga diri HMI kepada organisasi lainnya serta harus mampu menumbuhkan komunikasi yang baik kepada sesama organisasi eksternal yang notabenenya tidak lepas dari konflik – konflik karena alasan politik dan lain – lain.
Untuk mencapai cita – cita HMI dibutuhkan kerja sama team, kualitas komunikasi, keberdayaan intelektuan serta finansial yang baik. Tentu yang namanya cita – cita harus diubah menjati kenyataan jangan biarkan HMI memiliki cita – cita tanpa kerja nyata. Karena HMI memiliki visi yang luar biasa besarnya, maka sudah seharusnya hadir usaha dengan semangat yang tetap, bukan semangat musiman, selain itu niat juga menjadi kebutuhan penting dan bersifat mendasar dalam melakukan tindakan apapun.
Kader HMI harus sadar akan hal dan tanggung jawabnya sebagai harapan umat dan bangsa, mereka harus merasa bahwa dipundak mereka terpikul masa depan umat dan bangsa.
Oleh: Wa Ode Alyana Putri Amsya
Kader HMI Komisariat FEBI, Korkom Walisongo Semarang
Wallahu A’lam Bi shshawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *