Cerita menarik saya kutip dari buku karya Ferudun Ozdemir, berjudul ‘Allah Ada, Masalah Tiada’. Dalam buku setebal 472 halaman dan terlaris di Turki tersebut, berisi banyak cerita penuh hikmah yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita. Salah satunya yaitu tentang seniman Roma dan Cina yang berdebat di depan seorang raja.
Keduanya saling mengklaim memiliki karya yang indah dan memukau. Setelah mendapati perselisihan semacam itu, sang raja meminta keduanya menunjukkan kemampuannya masing-masing pada sisi ruangan untuk menentukan siapa yang karya seninya terbaik. Ruangan tersebut dibagi menjadi dua dengan tirai pembatas.
Tanpa berpikir panjang, sang seniman dari Roma mulai bekerja cepat. Ia menggunakan beragam kerajinan tangan untuk menghias dinding ruangan agar terlihat cantik dan menarik. Sedangkan, seniman dari Cina hanya menyulap dinding ruangan di seberangnya menjadi dinding kaca.
Setelah kedua seniman itu merampungkan pekerjaannya, sang raja terheran-heran, dan bertanya kepada seniman Cina yang hanya mengubah dan mendesain ruangan menjadi dinding kaca. Sang raja beranggapan tak sebanding dengan hasil karya seniman Roma yang penuh warna dan memikat.
Setelah tirainya dibuka, semua pengunjung juga mengakui keindahan karya seniman dari Roma itu. Namun, saat menengok dan memperhatikan dinding cermin karya seniman dari Cina, mereka justru semakin kaget dan takjub menyaksikan langsung karya seni yang terbias dalam cermin. Dinding kaca itu memantulkan keindahan karya seni yang ada di seberangnya. Bahkan, lebih luas, terang, dan estetik. Akhirnya, sang raja memutuskan, seniman dari Cina yang meraih juara pertama.
Demikian pula dengan hati manusia seperti halnya cermin. Semakin dibersihkan dan dirawat secara konsisten, insya Allah kebenaran dan hikmah akan nampak dalam hati yang bersih tersebut. Semakin bersih hati kita, akhlak mulia akan nampak dalam keseharian kita. Tutur kata dan perangai kita kian indah apabila hati bersih.
Hal itu ditegaskan juga oleh Maulana Muhammad Zakkariya Al-Khandalwai dalam kitabnya ‘Fadhilah Amal’ yang mengungkapkan bahwa hati diibaratkan cermin. Semakin kotor, semakin redup sinar yang dipantulkannya. Sebaliknya, semakin bersih semakin terang pantulan sinar makrifatnya.
Hemat saya, jika ingin memiliki kepribadian yang luhur, maka mulailah dengan rajin merawat hati. Beberapa cara merawat hati yaitu dengan sering berzikir, membaca Alquran, berkumpul dengan orang-orang sholeh, mengingat kematian, hadir majelis taklim, dan sebagainya.
Sebelum mengakhiri catatan ringkas ini, izinkan saya mengutip potongan lirik lagu dari Kiai Abdullah Gymnastiar (Aa Gym):
“Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya ilahi.”
Oleh: Muhammad Aufal Fresky







