Oleh: Salsabila, Disciple Monashmuda Institute 2022
Kampung Laren adalah salah satu kampung yang terletak di Kota Lamongan, Jawa timur. Terkenal dengan adat sekaligus kearifan lokalnya yaitu Sedekah Bumi. Sebuah tradisi turun temurun dari nenek moyang yang sampai saat ini masih tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat. Gempuran tradisi modern dan maraknya tradisi-tradisi lama yang ditinggalkan, tidak membuat masyarakat Kampung Laren melupakan adat nenek moyang mereka. Tradisi Sedekah Bumi biasanya digelar setahun sekali pada awal bulan Muharram atau biasa disebut dengan bulan Sura bersamaan dengan panen raya masyarakat Kampung Laren.
Berdasarkan penelitian Ichmi Yani Arinda R seoarang mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim dalam skripsinya yang menggunakan metode etnografi, sedekah bumi merupakan sebuah tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat yang pada umunya dilaksanakan setelah masyarakat panen bumi secara serentak. Tujuan diadakanya sedekah bumi yaitu, pertama, untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada masyarakat berupa hasil panen yang melimpah. Kedua, untuk menghormati para leluhur yang telah berjasa dalam membuka lahan (babat alas) sebagai tempat huni masyarakat sekaligus tempat untuk mencari kehidupan. Ketiga, adanya pelaksanaan sedekah bumi dapat memperkuat solidaritas antar masyarakat satu dengan yang lain. Keempat, menjaga kelestarian budaya-budaya asli Daerah.
Menurut para tetua Kampung Laren, tradisi ini digelar sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Baik. Memberikan bumi kepada manusia tanpa imbalan, yang bisa menghasilkan rezeki berupa hasil bumi untuk menopang keberlangsungan hidup manusia. Tradisi ini tergolong sangat unik karena upacara sedekah bumi digelar di telaga desa. Bapak Navis (kepala Desa Laren) menyebutkan, alasan upacara sedekah bumi dilakukan di telaga, karena asal-usul desa yang memang berkaitan dengan kedung atau telaga, sehingga sedekah bumi digelar di telaga. Memang pada umunya, upacara sedekah bumi digelar di tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Jadi tidak heran kalau setiap dearah menggelar upacara di tempat yang berbeda.
Masyarakat Kampung Laren melaksanakan sedekah bumi secara rutin dan penuh antusias. Selain itu, masyarakat Kampung Laren sangat bersemangat menggelar upacara sedekah bumi, sebagai simbol syukur atas hasil bumi untuk keberlangsungan hidup manusia. Antusiasme mereka ditunjukan dengan mengikuti banyaknya rangkaian acara yang unik dan menarik. Mulai dari prosesi iringan, bancaan, udik-udikan, dan dungo bareng.
Prosesi iringan (menggiring) yang diikuti oleh seluruh masyarakat Kampung Laren dan kampung-kampung sekitar, mulai dari anak-anak, pemuda-pemudi, hingga orang tua, dengan membawa piramida yang berisi hasil panen mereka. Hasil panen dari masyarakat Kampung Laren yang disusun pada piramida berupa buah-buahan, sayur-sayuran, juga bahan pangan pokok. Piramida-piramida yang berisi hasil panen masyarakat Kampung Laren ini, diiring menuju ke telaga desa untuk penggelaran upacara disana. Setelah prosesi iringan, piramida-piramida tersebut dipindah menuju lapangan untuk melanjutkan prosesi makan bersama atau biasa disebut masyarakat Kampung Laren dengan bancaan, makan bersama dari hasil masakan ibu-ibu setempat sebelum upacara sedekah bumi digelar, membuat masyarakat merasa keharmonisan ada ditengah-tengah mereka, dan ini menjadi sebuah wadah yang dapat mempererat tali persaudaran antar masyarakat kampung Laren.
Setelah acara bancaan, masyarakat desa Laren menggelar acara selanjunya. Acara inilah sebagai acara puncak yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan, baik anak-anaik, pemuda-pemudi, hingga para orang tua, yakni, udik-udikan. Udik-udik merupakan prosesi kegiatan penebaran uang dan mengambil makanan dengan cara royokan atau berebut dari piramida-piramida yang sudah diiring dan terisi dengan hasil panen bumi mereka. Uang serta makanan bisa menjadi miliknya ketika mereka bisa mengambilnya. Bisa dibayangkan, keseruan serta kehebohan masyarakat, ketika mereka berlomba-lomba untuk mengambil uang dan makanan. Setelah serangkain acara telah terlaksana, tidak membuat masyarakat lupa akan inti dari upacara ini digelar yakni, dungo bareng. Dungo bareng atau biasa disebut dengan doa bersama ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Memohon kebarokahaan serta kesejahteraan masyarakat kampung Laren, agar selalu diberi rejeki dari hasil bumi untuk menopang keberlangsungan hidup manusia.
Tradisi sedekah bumi merupakan bentuk doa masyarakat akibat asaimilasi islamisme dengan dinanisme. Sebagai orang yaang berpendidikan, tradisi ini hanya untuk melestarikan budaya nenek moyang. Bukan sebagai tanda kebodohan mereka.







