Semenjak tahun 2020 pada awal kuartal masyarakat dunia dihebohkan dengan adanya kemunculan dari wabah Virus Corona yang dimana melanda hampir semua negara di berbagai belahan bumi. Tak hanya persoalan medis yang harus dihadapi, namun masyarakat di seluruh dunia harus melewati ” Awan kelabu” lantaran wabah Virus Corona ini berdampak di segala sektor, baik pendidikan, pariwisata, pemerintahan, hingga lingkup terkecil yaitu pada kehidupan sehari-hari.
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang pertama kali dideklarasikan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 24 April 2020 dan mengeluarkan aturan mengenai anjuran untuk physical distancing menjadikan sektor pendidikan tidak bisa dilaksanakan secara langsung. Hal ini karena sektor pendidikan dianggap memiliki potensi yang tinggi dan sangat rentan apabila diberlakukan secara offline dalam hal penyebaran Virus Corona/Coronavirus Disease (Covid-19) khusunya pada daerah di Indonesia yang masih terdata sebagai zona merah dan kuning.
Maka dari itu perlu dibentuk sebuah metode baru dalam kasus pembelajaran secara online agar para pelajar dapat kembali antusias dan memiliki rasa candu untuk belajar sehingga diharapkan memiliki nilai konsistensi yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Tak hanya dalam dunia pendidikan, proses transfer ilmu pada konteks Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI mengalami stagnansi pada pembinaan kader secara formal dan non formal melalui training HMI, adakalanya beberapa komisariat termasuk yang di alami oleh Komisariat-Komisariat pada ruang lingkup HMI Cabang Kabupaten Bandung terhitung tidak adanya Basic Training sejak Maret 2020 hingga sekitar
Agustus 2021, selama satu tahun lebih proses kaderisasi didominasi oleh aktivitas secara virtual serta kegamangan komisariat-komisariat dalam mengadakan LK-1 mengingat kondisi pandemic saat itu serta belum adanya regulasi yang mendukung pelaksanakaan training formal pada masa pandemic, selain itu kaderHMI pun seolah bingung dengan keadaan tersebut pada konteks training HMI.
Oleh karena itu diperlukanlah inovasi penerapan media pembelajaran yang lebih menarik di dalam proses pelaksaanaan belajar mengajar sehingga bisa menjadi media pembelajaran yang solutif dan inovatif, yakni melalui media berbasis teknologi Virtual Reality (VR). VR menciptakan simulasi imersif yangmemungkinkan pengguna dapat berinteraksi sekaligus merasa berada di dalam lingkungan yang ada dalam dunia maya (Muhammad Jamil, 2018). Teknologi Virtual Reality (VR) sendiri merupakan suatu cara dengan cara melakukan pemunculan sebuah gambar-gambar pembelajaran dalam bentuk media tiga dimensi atau yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan 3D , yang dimana proses ini dibuat melalui bantuan komponen komputer sehingga hasilnya akan terlihat lebih nyata dan tentunya dengan dukungan dari sejumlah piranti penting lainnya.
Dimana hal ini akan menjadikan para penggunanya (peserta didik) seolah olah
akan merasa melihat secara langsung dan secara fisik dalam lingkungan yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan ada nya teknologi ini diharapkan konsep berinteraksi dalam proses pembelajaran akan menjadi lebih mudah digunakan dengan seiring perkembangan teknologi smartphone yang memiliki faktor penting dalam pelaksanaan media pembelajaran tersebut.
Bahkan saat ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh beberapa peniliti menjelaskan bahwasanya kini hanya dengan bermodalkan sebuah smartphone dan bantuan Google Cardboard sudah dapat menampilkan dunia Virtual Reality (VR). VR menciptakan simulasi imersif yang memungkinkan pengguna dapat berinteraksi sekaligus merasa berada di dalam lingkungan yang ada dalam dunia maya.
Teknologi Virtual Reality (VR) sendiri merupakan suatu cara dengan cara melakukan pemunculan sebuah gambar-gambar pembelajaran dalam bentuk media tiga dimensi atau yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan 3D , yang dimana proses ini dibuat melalui bantuan komponen komputer sehingga hasilnya akan terlihat lebih nyata dan tentunya dengan dukungan dari sejumlah piranti penting lainnya. Dimana hal ini akan menjadikan para penggunanya (peserta didik) seolah olah akan merasa melihat secara langsung dan secara fisik dalam lingkungan yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan ada nya teknologi ini diharapkan konsep berinteraksi dalam proses pembelajaran akan menjadi lebih mudah digunakan dengan seiring perkembangan teknologi smartphone yang memiliki faktor penting dalam pelaksanaan media pembelajaran tersebut. Bahkan saat ini berdasarkan riset yang dilakukan oleh beberapa peniliti menjelaskan bahwasanya kini hanya dengan bermodalkan sebuah smartphone dan bantuan Google Cardboard sudah dapat menampilkan dunia Virtual Reality (VR).
Almarhum Lafran Pane, Ketika memberi sambutan pada peringatan DiesNatalis ke-22 HMI Cabang Yogyakarta di Gedung Seni Sono tanggal 5 Februari 1969, mengatakan bahwa yang membedakan HMI dengan organisasi lain adalah anggota yang berwawasan keislman, keindonesiaan dan kemahasiswaan dengan lima kualitas insan cita dan bersifat independent.Setidaknya ada dua hal yang dapat kita petik dari permyataam Lafran Pane diatas. Pertama, HMI adalah organisasi kader independent sejak berdiri hingga sekarang, dan kedua, mindset kekaderan yang dibangun HMI dibangun keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan.
Maksud kader yang memiliki sifat independent adalah kader yang tidak terkooptasi oleh kepentingan-kepentingan di luar kebenaran dan keadilan. Dalam banyak hal, kader yang independent senantiasa mengedepankan aspek professional, moralitas, keterbukaan dan tanggung jawab. Sementara yang dimaksud dengan kader ber-mindset keislaman, keindonesiaan dan kemahasiswaan adalah sosok kepribadian kader HMI yang kritis, mampu berfikir secara komprehensif dan konsepsional yang didasari nilainilai keislaman dan keimanan dalam rangka memajukan dan menyejahterakanIndonesia pada khususnya dan warga dunia pada umumnya.
Dengan memposisikan diri sebagai organisasi kader yang independent
dengan mindset keislaman, keindonesiaaan, dan kemahasiswaan, maka formulasi perkaderan HMI harus diarahkan untuk tetap memerhatikan dinamika, tuntutan dan perkembangan zaman. Karenanya berbagai kegiatan dalam rangka mencarinformulasi yang lebih tepat terus dilaksanakan. Diantara kegiatan-kegiatan itu ada kegiatan seminar nasional Metode Training, Senior Course, Seminar Kader Nasional, Lokakarya Perkaderan, dan lain-lain.
Dengan hal itu perkaderan HMI di era sekarang, yang Jepang katakan
sebagai era Society 5.0 menjadikan teknologi sebagai hal yang urgensinya penting dalam kehidupan, namun era Society 5.0 tidak seperti era Revolusi Industri 4.0 yang menjadikan teknologi sebagai pemeran utama dalam kehidupan. Namun era Society 5.0 mengedepankan teknologi dengan manusia sebagai pemeran utama atau pemegang kendali dari teknologi tersebut.
.







