Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO yang terletak di Desa Mlagen, Pamotan, Rembang, memang bukan pesantren biasa. Bukan hanya penampilannya yang berbeda dibandingkan pesantren pada umumnya, tetapi pandangan-pandangannya memang cukup banyak yang berbeda. Jika di pada umumnya pesantren merokok adalah tidak ada masalah, bahkan di daerah tertentu bisa dikatakan menjadi ciri khas santri, tetapi sebaliknya di Planet NUFO. Di pesantren yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si. ini, tidak akan pernah terlihat santri merokok. Secara tegas dinyatakan bahwa rokok adalah haram. Dan jika ada santri yang “tertangkap” merokok, maka sanksinya jelas: dikeluarkan.
Mengapa Planet NUFO memilih sikap tegas yang melawan kelaziman dunia pesantren itu? Berikut ini wawancara planetnufo.com dengan pengasuh Planet NUFO yang juga pendiri dan pengasuh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang yang akrab disapa dengan Abah Nasih atau Abana oleh para santrinya.
Planetnufo.com: “Saya mau to the point ya, Bah. Kenapa Planet NUFO, yang tentu saja ini pasti karena Abah, memilih sikap sangat tegas soal rokok?”
Abana: “Banyak yang melatarbelakangi pendirian Planet NUFO. Yang berkaitan dengan rokok juga ada. Kalau bukan karena itu, mungkin tekad saya untuk memperjuangkan Planet NUFO, juga kurang. Seperti kalian tahu sendiri, saya datang ke sini bisa sampai dua kali dalam sepekan. Padahal saya punya istri yang saya cintai di rumah di Semarang. Padahal setiap kali ke sini saya pasti menginap. Ceritanya, mahasantri di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang, dalam setiap angkatan, kecuali yang pertama, didominasi oleh perempuan. Makin ke sini, jumlah perempuan mencapai tiga kali lipat laki-laki. Usut punya usut, itu disebabkan oleh calon pendaftar sudah merasa tidak memenuhi kualifikasi yang disyaratkan oleh Monasmuda Institute. Apa itu? Tidak merokok. Kalau perempuan kan tidak merokok. Maka banyak yang memenuhi syarat. Sementara, banyak anak laki-laki yang sudah terpapar rokok saat usia mereka masih belia. Bahkan masih SD. Tapi rata-rata, atau yang paling banyak ketika usia SMP.”
Planetnufo.com: “Jadi, di antara maksud pendirian Planet NUFO adalah menjaga agar anak-anak muda belia kita tidak merokok ya?”
Abana: “Tepat sekali. Mereka harus diselamatkan dari rokok. Sebab, merokok bukan saja tidak menguntungkan, tetapi sangat merugikan. Bukan saja atas diri sendiri, tetapi juga bahkan orang lain. Merugikan orang lain karena asapnya itu mengganggu nafas orang lain; mencemari lingkungan dan karena itu mengganggu pernafasan orang lain. Mestinya mereka mendapatkan hak berupa udara yang bersih, tetapi tercemar oleh asap rokok. Merugikan diri sendiri, karena uang yang mestinya bisa digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, tetapi digunakan untuk sesuatu yang membahayakan diri sendiri. Saya sering menggunakan cara berpikir yang sederhana untuk meyakinkan para santri bahwa mereka harus menghindari rokok. Saya bilang begini: ‘Kalau rokok tidak buruk, maka mintalah kepada bapak kalian yang merokok untuk menyuruh ibu dan saudara perempuan kalian untuk merokok. Kalau bapak kalian melakukannya, maka merokok adalah perbuatan yang baik. Tapi kalau bapak kalian tidak melakukannya, maka itu tanda bahwa di alam bawah sadar bapak kalian yang merokok sekalipun, ada kesadaran bahwa merokok itu tidak baik.’ Biasanya anak-anak tertawa. Mereka jadi paham.”
Planetnufo.com: “Apa langkah-langkah konkret yang dilakukan oleh Planet NUFO untuk menjaga agar para santri tidak terpapar rokok?”
Abana: “Yang pertama, memberikan contoh konkret, saya tidak merokok. Para ustadz atau guru tidak ada satu pun yang merokok. Ini adalah modal penting. Lisân al-hâl afshahu min lisân al-maqâl. Kita mesti beri keteladaan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan keseharian. Tidak hanya melarang pakai omongan. Bisa nggak mempan itu. Kedua, Planet NUFO benar-benar bisa dikatakan adalah tempat isolasi. Mereka tidak melakukan interaksi sama sekali dengan orang luar, kecuali dalam acara-acara tertentu saja yang sangat terkontrol. Jadi, bisa dikatakan tidak ada kesempatan untuk merokok. Ketiga, ditegaskan dalam aturan tak tertulis, yang saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, diingatkan oleh para guru, bahwa Planet NUFO tidak menoleransi santri merokok. Hukumannya berat. Dikeluarkan!”
Planetnufo.com: “Apa ada kaitan dengan afiliasi ormas?”
Baladena: “Sama sekali tidak. Murni karena pertimbangan ilmiah. Ilmiahnya menyangkut kesehatan dan ekonomi yang nanti berimplikasi ke mana-mana, ke sangat banyak aspek kehidupan. Bahwa saya punya pengalaman pribadi, tentu juga iya. Tapi pengalaman pribadi saya ini juga tidak ada kaitannya dengan afiliasi ormas. Saya tidak merokok itu lebih banyak dipengaruhi oleh bapak saya. Dan bapak saya bukan Muhammadiyah yang secara tegas mengharamkan rokok. Bapak dan Ibu saya itu NU banget. Bapak saya tidak merokok. Dan bapak saya adalah figur yang sangat menginspirasi saya dalam banyak hal. Termasuk di antaranya tidak merokok dan tidak minum kopi. Hehehe. Iya, serius. Bapak saya tidak minum kopi. Kadang-kadang saja minum teh. Bapak saya minum air putih. Kalau pagi dan maghrib minum susu. Yang bertugas membuat susu adalah saya, katanya untuk menjaga stamina, karena bapak saya muraja’ah setelah shubuh sampai pukul 07.00 bahkan lewat. Dan setelah maghrib sampai isya’. Makanya saya sempat kaget, ketika bapak tiba-tiba membawa kopi dan minta dicampur dengan susu yang biasanya beliau minum. Inilah yang membentuk mindset saya, sehingga kemudian menjadi kebiasaan saya sampai sekarang. Dan ternyata kebiasaan itu sangat penting untuk kesehatan. Kesehatan badan, juga kesehatan kantong.”
Planetnufo.com: “Kenapa tidak makruh saja? Kenapa memilih yang haram?”
Abana: “Kan membahayakan. Kalau membahayakan ya tentu saja dilarang. Kalau dilarang berarti ya haram. Khusus yang ini saya simplifikasi. Sederhana saja. Tidak perlu pakai yang bertele-tele. Hahaha.”
Planetnufo.com: “Tapi banyak kiai yang rokok itu bagaimana?”
Abana: “Kiai kan manusia juga to? Memandangnya ya sederhana saja. Kalau masih manusia, berarti ya masih bisa salah. Kan begitu saja. Atau kalau mau agak lunak, mereka berbeda pandangan. Mereka memilih pandangan hukum lain. Begitu saja selesai. Dan tidak usah dibesar-besarkan lagi. Dengan common sense saja semua orang juga tahu bahwa merokok itu banyak madlarratnya.”
Planetnufo.com: “Tidak takut ditinggalkan banyak orang?”
Abana: “Apa alasan untuk takut? Kita memang harus mengatakan kebenaran, terutama yang menyangkut mashlahat banyak orang. Kita tak perlu takut. Yang tidak mau ikut ya tidak apa-apa. Kewajiban kita kan hanya menyampaikan. Agar tidak menjadi beban di akhirat nanti. Itu saja. Nah, santri-murid Planet NUFO ini kan ibaratnya anak-anak saya yang mesti ikut aturan saya, sepanjang aturan itu tidak salah, masuk akal, rasional, objektif. Simple saja. Dan kami malah yakin, sebenarnya hampir semua orang tua yang rokok itu, ingin agar anak-anak mereka tidak merokok. Sebab, mereka menyadari efek negatifnya. Mereka tidak bisa berhenti karena sudah kecanduan saja. Walaupun sebenarnya kalau benar-benar diniati ya bisa.”
Planetnufo.com: “Apa pengalaman lain dalam hidup yang membuat Abah Nasih tidak merokok? Padahal santri itu biasanya merokok?”
Abana: “Bapak saya tidak merokok tadi sudah saya jelaskan. Kemudian saya mondok di pesantren yang kiainya tidak merokok. Masa belia saya, sampai terbentuk karakter saya, bersama dengan figur-figur panutan yang terbebas dari asap rokok. Hahaha. Karena itu, saya memandang bahwa orang-orang yang mulia dan hebat itu ya yang tidak rokok. Itulah yang membentuk perspektif saya. Sampai kemudian berjumpa dengan orang-orang lain yang punya posisi, jabatan, pengaruh, dan semacamnya yang merokok. Jadi ternyata tidak ada hubungannya antara kehebatan seseorang dengan rokok atau tidak rokok. Tapi kan sudah terlanjur tidak merokok. Dan ini baik. Ya alhamdulillah.”
Planetnufo.com: “Bagaimana kalau ada tamu yang berkebiasaan rokok?”
Abana: “Bagaimana apanya? Ya mereka harus menyesuaikan dengan aturan yang ada di Planet NUFO. Kan sudah ada tulisannya juga. Kawasan dilarang merokok. Bukan kawasan bebas merokok. Jelas sekali itu.” (AH)







