Tak Mau Lagi Menjadi Guru “Egois”

Hampir empat tahun terakhir, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. yang oleh para santrinya akrab disapa Abah Nasih atau Abana, tidak lagi syuting dalam acara ceramah agama atau talk show politik. Rupanya ia menambah fokus untuk mengajar santri-santrinya di Monasmuda Institute Semarang, bahkan tiga tahun terakhir ditambah dengan mengajar di Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang. Ternyata bukan tanpa sebab ia memilih jalan ini. 

Berikut adalah wawancara baladena yang berhasil mengungkap alasan lebih lengkap Abah Nasih:

Baladena: “Abah Nasih, sebagai pendidik, bahkan pengkader, apakah ada cara-cara baru dalam mengajar para santi/mahasantri?”

Abana: “Bisa dikatakan, beberapa tahun terakhir ini, saya selalu melakukan perubahan dalam mengajar. Sebab, jika saya tidak selalu melakukan perubahan, kami pasti akan ketinggalan. Dan jika tidak juga melakukan perubahan, ketertinggalan itu akan menjadi semakin jauh. Sebab, perubahan sekarang ini sudah semakin cepat, dan akan menjadi semakin cepat, disebabkan oleh perkembangan sains dan teknologi”.

Baladena: “Apa contoh bentuk perubahan dalam mengajar yang Abah Nasih lakukan?”

Abana: “Saya sudah hampir tidak lagi menggunakan metode ceramah. Lebih banyak meminta santri yang membaca, saya yang mengoreksi, dan jika kajiannya adalah tafsir, saya yang menunjukkan hubungan ayat yang dibaca dengan ayat yang lain dan kembali mereka yang membacanya. Dengan begitu, mereka tahu interkoneksi antar ayat, dan dengan ini saya bisa berharap mereka menyadari betapa pentingnya hafal al-Qur’an, lalu memiliki semangat tinggi untuk menghafalkan al-Qur’an. Jika sudah punya semangat tinggi dari dalam dirinya sendiri, maka usaha menghafalkan al-Qur’an akan lebih berpeluang berhasil. Namun, jika masih didorong-dorong oleh orang lain, baik orang tua, guru, atau siapa saja, maka itu ibarat mendorong mobil mecet. Saya sering menggunakan istilah mobil mogok yang giginya dimasuk satu dan direm tangan. Ya mau kita dorong sampai kita kehabisan tenaga, ya tetap tak bisa”.

Baladena: “Apakah ada yang menjadi latar belakang Abah Nasih melakukan ini?”

Abana: “Pertanyaan yang sangat tepat. Benar. Ada sebuah kejadian yang melatarbelakang pilihan saya ini. Sejak awal mendirikan Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang, saya mengajar tafsir habis shubuh sampai pukup 06.30 dan habis maghrib sampai pukul 21.00 minimal setiap Sabtu dan Ahad. Sebab, waktu itu saya masih lebih sering di Jakarta. Di Jakarta, di asrama mahasiswa STEBANK saya melakukan hal yang sama. Bedanya adalah mengajar di selain dua hari itu. Dua atau tiga hari di Semarang. Senin-Kamis atau Jumat di Jakarta. Hanya saja, inspirasinya muncul di Semarang.”

Baladena: “Apa itu inspirasi atau yang menyebabkan inspirasi itu muncul?”

Abana: “Suatu hari, kalau saya tidak salah ingat pada akhir tahun 2014, ibu mertua saya pulang dari kampus. Ibu istri saya ini guru besar di Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang. Beliau baru saja nguji salah satu mahasiswi Monasmuda Institute yang sedang ujian di kampus. Kata beliau, santri saya ini salah dalam ujian materi tertentu, saya lupa persisnya. Yang saya ingat, waktu itu, tidak mungkin santri Monasmuda Institute gagal untuk urusan yang saya anggap sepele itu. Sebab, saya ngajar pagi-pagi dan sampai malam itu sudah lebih dari cukup menjadi bekal mereka untuk menghadapi ujian proposal dan bahkan skripsi sekalipun. Apalagi Fakultasnya Ushuluddin. Saya bahkan sempat berpikir negatif juga pada Ibu. Jangan-jangan, karena anaknya tidak pernah saya ajak jalan-jalan ini. Hahaha. Memang beberapa waktu sebelumnya Ibu pernah berpesan agar mengajak istri saya jalan-jalan, agar tidak stress kuliah terus. Waktu itu, istri saya masih ambil program spesialis anak di FK Undip yang setiap hari pagi-pagi sudah berangkat dan pulang malam saat saya mengajar malam. Tentu saya harus berpikir objektif juga. Saya panggil santri yang dibilang oleh Ibu itu. Tetapi, ternyata Ibu yang benar. Saya merasa deg gitu. Berarti asumsi saya selama ini salah. Saya pikir saya membaca Tafsir Jalalayn lalu menjelaskannya secara analitis dan bahkan kritis itu mereka pahami dengan baik. Sebab, saya dulu ketika ngaji di pondok, benar-benar fokus dan sederhananya tidak ada yang lewat. Kalau tidak bisa saya hafal, saya catat. Ternyata mereka tidak.

Baladena: “Jadi masalahnya apa ini?”

Abana: “Masalahnya adalah ternyata ada beberapa santri yang punya keunggulan tertentu, sehingga mereka diterima di Monasmuda Institute. Mereka lulus seleksi untuk mendapatkan beasiswa, sehingga bisa menjadi bagian dari MI. Dan proses belajarnya mengalir begitu saja. Ternyata, penguasaan ilmu alat mereka tidak ditingkatkan. Padahal untuk bisa mengikuti kajian saya, untuk bisa memahami apa yang saya sampaikan, dengan analisis paling dasar, dimulai dari akar kata dalam bahasa Arab, mereka harus menguasai sharaf atau tashrif. Kalau ini tidak di luar kepala, pasti akan keteteran. Bagaimana mau mengikuti analisis untuk memahami ayat-ayat yang banyak kalau penguasaan kepada ilmu alatnya itu saja tidak cukup? Tidak mungkin. Karena itu, saya tidak mau lagi mengajar dengan cara bandongan yang semi ceramah itu. Apalagi ceramah. Bandongan apalagi ceramah itu bikin pinter, tapi yang pinter yang ngajar. Gurunya, kiainya, ustadznya. Sementara, muridnya ya banyak yang plonga-plongo saja. Ini “egois” saya rasa.”

Baladena: “Saya agak kurang bisa memahami ini. Konkretnya bagaimana? Atau bisa dibuatkan contoh?”

Abana: “Kebetulan sekali saya punya contoh tentang diri saya sendiri. Saya ini pernah jadi komisaris perusahaan konsultan konstruksi bangunan. Sementara saya ini sama sekali tidak punya latar belakang teknik bangunan. Saya ini sarjana Tafsir Hadits, lalu master dan doktor ilmu politik. Mengajar ilmu politik. Jadi kalau rapat dengan direksi, yang mayoritasnya adalah tukang insinyur, saya ya hanya manggut-manggut saja. Misalnya, dijelaskan tentang kekuatan bentangan sebuah gedung, hanya bisa membayangkan saja. Namun, kalau diminta menjelaskan ulang, ya pasti gagal. Itulah gambaran belajar pengetahuan tentang ilmu alat. Analog lain, juga masih tentang saya sendiri, karena pernah jadi mahasiswa fisika di Fakultas MIPA Unnes Semarang, tapi lolos, alias tidak lulus. Kalau kuliah di Jurusan Fisika, tapi nggak ngerti matematika, bagaimana ceritanya mau paham? Dijelaskan tentang bagaimana lintasan bulan atau roket yang harus dihitung dengan menggunakan integral ya hanya akan plonga-plongo saja. Hahaha. Wong alat hitungnya tidak dikuasai.”

Baladena: “Yaya. Saya sudah mulai mengerti”.

Abana: “Jangan hanya sekedar mulai mengerti. Saya buatkan analogi yang lebih konkret lagi tentang belajar Islam tanpa ilmu alat. Itu seperti orang mau menangkap ikan, tapi tidak membaca jaring, jala, bahkan tak bawa pancing. Mau menangkap pakai tangan kosong. Bayangkan kita pergi ke laut. Islam, baik al-Qur’an maupun hadits kan samudra ilmu. Analognya pas banget ini. Nah, di dalamnya ini adalah banyak ikan yang sangat kita butuhkan. Lalu kita nyemplung ke laut untuk menangkap salah satunya. Tampaklah ikan mujaer di depan kita. Kita buru dia. Dia lari ketengah, kita kejar. Kita kelelahan. Dan ternyata ikan mujaer itu lari dari Pantai Ancol ke Madura. Karena itu, kita akan kelelahan tanpa hasil apa-apa. Pulang kelelahan dengan tangan kosong. Itulah kenapa banyak orang yang ikut pengajian, tapi tidak dapat tambahan ilmu. Wong ilmunya nggak ketangkep.”

Baladena: “Tapi kan tetap dapat pahala?”

Abana: “Ya semoga saja. Hahaha. Tapi harus dipahami secara rasional juga. Kalau pahalanya berbanding lurus dengan ilmu yang dipahami dan diamalkan bagaimana? Nggak jadi dapat pahala dong. Dapatnya capek saja. Hahaha.”.

Baladena: “Lalu, apa yang Abah Nasih lakukan sekarang? Inovasi mengajar apa saja yang sudah pernah dilakukan?”

Abana: “Sekarang ini santri kan makin banyak. Di Semarang hampir 100 mahasantri. Di Pesantren NUFO Rembang sana sudah hampir 200 dan tentu akan semakin meningkat. Kecenderungan di sini begitu. Dan alhamdulillah tempatnya kan sangat cukup dan bisa terus bertambah luas. 100 hektar lah cita-cita saya, walaupun sekarang baru 5 hektaran. Nah, kalau santri banyak, tidak mungkin dong saya membacakan terus begitu. Apalagi waktu saya paling banyak habis untuk menyimak setoran hafalan santri, karena minimal harus 1 juz sekali duduk. Nggak mau juga saya santri setoran hanya 1-2 halaman. Nanti lupa lagi. Nah, karena itu, sekarang mulai saya rekam, dengan menyesuaikan tingkat pemahaman santri. Saya kan punya pengalaman tiga tahun terakhir ini. Saya tahu, anak-anak usia ini, begini kemampuan memahami teksnya. Saya mereka cara memaknai teks, dan saya pilih surat Yusuf, karena paling simple ayatnya. Tidak ada perumpamaan-perumpamaan rumit. Lebih enak lagi ayat-ayatnya runtut, berisi kisah tentang Nabi Yusuf dan beberapa orang yang terlibat dalam sejarah itu. Dan berdasarkan pengamatan saya pada anak-anak di Planet NUFO, mereka berkembang sangat optimal. Rekaman itu mereka dengarkan. Anak-anak ini kan beda-beda. Ada yang mendengarkan sekali paham. Ada yang perlu berkali-kali. Kalau kita harus ngajar berkali-kali, nggak sanggup kita. Tenaga dan waktunya sudah habis. Nah, para guru, termasuk saya tinggal mengecek, mereka sudah benar atau belum dalam membaca teks.”.

Baladena: “Perbedaan signifikan ya?”

Abana: “Sangat signifikan. Kalau dibandingkan dengan metode bandongan apalagi pengajian, dengan kualitas santri yang sama, sepertinya sekarang ini sudah ada 20 atau lebih persen santri yang menangkap dengan baik. Jika tidak dengan ini, hitungan saya tidak sampai 2 persen. Itulah sebab, pada umumnya yang bisa jadi ustadz dan kiai yang anak-anak ustadz dan kiai saja. Sebab, mereka digenjot oleh orang tua mereka sendiri. Ditambah dengan tuntutan tanggung jawab untuk menjadi pelanjut orang tuanya. Kalau pesantren tidak memiliki kader baru yang menerusnya ustadz atau kiainya, ya akan bubar. Ini yang melecut mereka harus belajar giat. Kalau tidak giat belajar, ya akan biasa saja. Dan kalau biasa, ya setidaknya pesantrennya akan stagnan.

Baladena: “Terakhir, apa harapan dari inovasi ini?”

Abana: “Saya berharap akan lahir santri-santri yang memiliki kualitas sebagai ustadz atau kiai. Harus naik pangkat. Jangan santri selamanya menjadi santri. Penyebabnya bukan mereka. Tapi yang ngajar. Kita sendiri yang salah karena tidak memperhatikan murid-murid kita sendiri. Anak-anak kita sendiri yang mendapatkan perhatian lebih. Sementara anak orang, para santri, ala kadarnya saja. Padahal, secara kualitas sebenarnya bisa. Kita bisa analogkan dengan Fakultas Kedokteran ya. Mau anaknya dokter atau tidak, kalau sudah masuk di FK, ya mendapatkan perlakuan yang sama. Hasilnya ya akan relatif sama. Kita masih perlu banyak ustadz, kiai, ulama, atau sebutan lainnya, yang benar-benar memiliki kemampuan membina umat. Sebab, jumlah pesantren sekarang ini masih sangat kurang. Hitungan terakhir saya, dengan jumlah pesantren yang ada sekarang, kira-kira hampir 30.000 buah di seluruh Indonesia, jika seluruh anak muslim usia belajar mau mondok, pondok akan menanpung 2000-an anak. Nah, ini jumlah yang akan membuat mereka tidak mendapat pendidikan secara optimal. Apalagi kalau menejemen pendidikan pesantrennya one man show.

Baladena: “Pesan kepada masyarakat?”

Abana: “Pesan saya sederhana. Belajar Islam tidak bisa dengan jiping, alias ngaji nguping, baik melalui yuotube atau datang langsung, tanpa menguasai ilmu alat. Sama saja itu. Nah, saat usia belia, anak-anak harus dicarikan tempat nyantri yang benar-benar bisa memastikan mereka menguasai ilmu alat dan latihan melakukan analisis sederhana. Setelah itu, jika mereka sudah berkembang dan dewasa, mereka akan mahir untuk menjadikan al-Qur’an sebagai basis bagi disiplin keilmuan yang mereka tekuni. Apa pun itu. Kalau bisa begini, kita akan punya Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, dan Ibnu-Ibnu yang lain dalam jumlah banyak. In syaa’a Allah.” (AH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *