Membaca Ekonomi Indonesia Pasca Pendemi Covid-19

 

Oleh : Nor Hayati, Mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhamadiyah Malang.

Dunia masih gencar memperbincangkan persoalan pandemi Covid-19. Bagaimana tidak?, covid-19 merupakan wabah penyakit jenis virus yang menular, sedangkan para pakar kesehatan pun sejauh ini belum mampu atau belum ada yang bisa memberikan jalan keluar yang signifikan. Melainkan hanya berupa pencegahan seperti lockdown, karantina orang asing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan lainnya. Cara cara tersebut belumlah efektif, yang disebabkan oleh beberapa hal antara lain. Banyak nya masyarakat yang tidak paham akan bahayanya virus ini, kurangnya pengawasan oleh aparat pemerintah, bisa pula kurang nya sosial yang dibangun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri, sehingga pandemi ini kian merebak tanpa hasil pengulangan yang signifikan,

Berkenaan dengan demikian, banyak sekali dampak yang di dapat pasca muncul pandemi ini, antara lain adalah kekurangan berbagai kebutuhan masyarakat berupa sandang, pangan dan sosial yang terbatas, banyak sekali jika kita baca di media sosial maupun media cetak tentang orang-orang yang kelaparan tidak memiliki sesuatu yang dapat dia manfaatkan untuk mempertahankan imunitas atau daya tahan tubuhnya yang kuat. Sehingga kesejahteraan negara teruji. Terlepas dari berbagai dampak yang muncul pasca lahirnya pandemi ini, terdapat dampak lain yang sangat miris dan mesti kita perbincangkan adalah ekonomi indonesia atau pun ekonomi dunia yang kian merosot pasca lahirnya pandemi ini, kondisi ini tidak dapat manusia artikan dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini sudah terbukti sudah menyengsarakan rakyat, akan seperti apa nasib ekonomi kita jika pandemi ini masih terus berlanjut dalam waktu kurun yang panjang sekalipun langkah pemerintah memberikan bantuan berupa uang, sembako, masker dan kebutuhan lainnya, bukankah rakyat harus tetap bekerja agar bisa bertahan hidup?.

Sedangkan pemerintah hanya memberikan bantuan dalam skala yang pendek atau berupa uang 600.000 dalam waktu tiga bulan dan di cairkan sebulan sekali. Jelas nominal itu tidak cukup, sedangkan bantuan itu tidak direalisasikan kepada seluruh masyarakat melainkan bagi masyarakat yang tidak menerima bantuan berupa BLT dan jenis bantuan lainnya, hari ini ketika kita berkomunikasi dengan saudara, teman-teman, sanak famili dan lainnya, tidak lain mereka hanya berbicara tentang kekhawatiran yang mendalam, bagaimana jika kondisi ini masih berlanjut, akankah saya bisa makan besok? Dan pertanyaan senada lainnya, sehingga kemirisan itu kian menggebu dalam diri mereka. Kondisi ini mengajarkan banyak hal dalam hidup manusia. Pentingnya sosial, pentingnya berbagi, penting nya berusaha dan bekerja keras yang mungkin sebelumnya semua itu adalah hal yang remeh dan tak banyak orang memikirkan nya. Namun kondisi ini menuntun kita sampai pada pikiran-pikiran itu yang kemudian mengajarkan kita dalam kedermawanan dan kedewasaan. Mungkin akhir-akhir ini kita melihat postingan saudara-saudara kita, banyak diantara mereka yang sudah tidak mampu dengan keadaan ini sehingga harus menjual harta tidak bergerak maupun harta bergerak miliknya, jika dalam sehari terdapat 6 juta postingan maka tentu kemerosotan ekonomi sudah tidak terbendung lagi apalagi dikalikan jumlah rakyat per kepala di indonesia.

Miris sekali emang kedepan kemerosotan ekonomi sudah tidak ada lagi yang bisa memberikan jalan keluar, yang ada kita justru mengeluarkan harta tanpa menambah harta sehingga kesenjangan ekonomi rakyat memiliki ketergantungan. Hal ini yang kemudian semestinya meningkatkan semangat rakyat dan pemerintah untuk menangani pandemi ini, sehingga kondisi akan kembali seperti semula keadaan ekonomi mampu untuk kita perbaiki bersama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *