Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen, Rembang; Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an MONASMUDA INSTITUTE Semarang. Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.
Sekolah Alam dan sekaligus juga Pesantren Planet NUFO sejak awal memang kami desain sangat berbeda. Pendiriannya dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa ummat Islam tertinggal di berbagai aspek kehidupan, baik sains-teknologi, ekonomi, dan kemudian berujung kepada politik. Padahal, aspek politik bisa sangat berpengaruh kepada seluruh aspek kehidupan. Karena itulah, Planet NUFO berusaha keras untuk menginternalisasikan visi berilmu, berharta, berkuasa kepada seluruh pribadi yang ada di dalamnya.
Untuk mewujudkan pribadi dengan ketiga kualitas itu, maka harus dilakukan akselerasi. Tidak ada jalan yang memungkinkan untuk mengejar ketertinggalan dan kemudian kembali memimpin di depan, kecuali integrasi dan reintegrasi. Tanpa integrasi dan reintegrasi, yang terjadi akan hanya biasa-biasa saja, sehingga posisi di belakang tidak akan pernah berubah. Bahkan besar kemungkinan akan tertinggal semakin jauh.
Integrasi dan reintegrasi memungkinkan untuk melakukan dua atau lebih hal dalam satu waktu. Sebuah usaha yang apabila dilakukan sendiri tidak mendatangkan keuntungan bisa menjadi modal untuk menghidupkan usaha lain, yang jumlahnya bisa tidak hanya satu, yang bisa mendapatkan keuntungan.

Integrasi dilakukan dalam bidang usaha. Sejak awal, Planet NUFO mencanangkan program kewirausahaan untuk para peserta didik di dalamnya. Semua santri tidak hanya belajar teori, tetapi wajib juga memiliki usaha-usaha yang bisa membuat mereka memiliki kemandirian finansial sejak belia. Ini dirasa penting bukan hanya untuk membuat mereka menjadi pengusaha sejati saat mereka dewasa, tetapi juga untuk mengantisipasi segala keadaan yang mungkin saja terjadi. Sebab, untuk menempuh pendidikan sampai tuntas, lalu mewujudkan idealisme yang dimiliki, diperlukan pembiayaan yang tidak kecil.
Namun, tidak menutup kemungkinan mereka menjadi yatim di tengah perjalanan pendidikan. Orang tua yang sebelumnya menjadi andalan pembiayaan, tidak ada lagi. Namun, jika mereka telah memiliki ketrampilan hidup yang menghasilkan uang, mereka akan bisa tetap melanjutkan pendidikan sampai tuntas. Dan dalam kehidupan selanjutnya, mereka bisa mewujudkan cita-cita mereka sendiri karena memiliki kapital yang cukup.
Namun, usaha-usaha di bidang produksi, seringkali mengalami kesulitan untuk mendatangkan keuntungan. Di antara penyebabnya adalah biaya produksi yang tinggi dan limbah hasil produksi banyak yang terbuang, padahal sesungguhnya masih bisa dimanfaatkan untuk melakukan produksi untuk hasil yang lain. Di sinilah integrasi usaha menjadi sebuah keniscayaan.
Karena itulah, Planet NUFO mengintegrasikan berbagai jenis usaha, terutama di bidang peternakan dan pertanian, juga yang lainnya. Misalnya saja, penggemukan sapi dan domba diintegrasikan dengan budi daya maggot, unggas (ayam, bebek, dan burung puyuh), ikan, dan pertanian (sayur mayur, tanaman buah, dan lain-lain). Sapi dan domba menghasilkan kotoran yang langsung digunakan sebagai media untuk budidaya maggot.
Maggot menjadi makanan pendamping konsentrat untuk bebek, ayam, ikan, dan juga bisa dijual. Dengan maggot ini, biaya pakan bisa ditekan sampai lebih dari 20%. Sedangkan bekas media maggot (kasgot) bisa digunakan sebagai pupuk organik yang sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanah, sehingga hasil pertanian menjadi lebih optimal.
Dari tanah yang subur itu, bisa tumbuh dengan optimal sayur-mayur, pohon buah, juga rumput yang menjadi bahan pakan ternak. Dengan cara ini sirkulasi bahan-bahan keperluan untuk usaha di bidang pertanian dan peternakan/perikanan bisa dijaga di dalam lingkungan usaha Planet NUFO, sehingga tidak perlu terlalu banyak lagi bahan yang didatangkan dari luar yang tentu saja akan menekan biaya.
Dan semua usaha itu dilakukan oleh para santri, sehingga menjadi bagian dari pendidikan dan pelatihan wirausaha yang diharapkan membuat mereka menjadi pribadi unggul di masa depan.
Reintegrasi
Sedangkan reintegrasi dilakukan dalam bidang ilmu pengetahuan. Istilah ini digunakan untuk meneguhkan paradigma bahwa Islam sesungguhnya adalah agama yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Bukan hanya aspek ibadah dan mu’amalah yang selama ini pun telah dipersempit hanya dalam urusan ekonomi dan pernikahan saja. Masuk ke dalamnya juga adalah politik dan sains-teknologi.
Namun, selama ini politik dan juga sains-teknologi seolah bukan bagian dari Islam. Sesungguhnya pemisahan antara agama dan politik bersamaan dengan terjadinya pemisahan antara agama dengan sains-teknologi. Dan sejarah itu terjadi di Barat. Karena kompleks rendah diri yang dialami oleh umat Islam, maka kemajuan sains dan teknologi yang dipandang sebagai anak kandung sekularisme itu ditiru mentah-mentah oleh umat Islam.
Padahal puncak kejayaan umat Islam di era Bani Abbasiyah terjadi pada saat tidak ada pemisahan antara Islam dengan politik, juga dengan sains dan teknologi. Para penyelenggara negara menggunakan agama sebagai sumber inspirasi untuk membangun hukum dan juga inspirasi untuk mengembangkan sains dan teknologi.
Memang, Islam, dari awal kelahiran sampai masa puncak kejayaannya justru menunjukkan adanya integrasi antara keduanya, baik dengan politik maupun dengan sains dan teknologi. Justru pemisahan antara keduanya di dua bidang tersebut itulah yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran luar biasa.
Hingga saat ini, ketertinggalan umat Islam dalam aspek sains dan teknologi makin memprihatinkan. Padahal, sebagaimana telah disebut di awal, ketertinggalan dalam bidang sains dan teknologi merupakan awal ketertinggalan juga dalam bidang politik. Lebih tepatnya, hubungan antara bidang sains dan teknologi dan ekonomi seperti ayam dan telur. Keunggulan sains dan teknologi bisa menjadi penyebab keunggulan ekonomi.
Demikian juga keunggulan ekonomi adalah penyebab keunggulan saintek. Dan keunggulan keduanya bisa menjadi penyebab kejayaan di bidang politik.
Dalam keadaan yang serba tertinggal sebagaimana terjadi sekarang, harus ada ketegasan untuk memulai. Dan yang paling masuk akal dan bisa dilakukan oleh siapa saja di mana saja adalah melahirkan jiwa wirausaha yang kuat.
Dengan jiwa wirausaha yang kuat, maka harapan untuk melahirkan pengusaha yang tangguh dan memiliki visi jihad bisa diharapkan. Dari merekalah bisa diharapkan akan lahir usaha untuk mengembangkan sains dan teknologi masa depan dengan menjadikan al-Qur’an sebagai sumber inspirasi. Wallahu a’lam bi al-shawab.







