Oleh: Debbie Affianty, Direktur Laboratory of Indonesian and Global Studies (LIGS)
FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta
Assalamu’alaikum… Sebuah salam dari suara kecil milik tiga sancil (santri cilik) membuat saya menolehkan kepala ketika saya sedang melangkahkan kaki menuju kandang kelinci yang ada di Planet NUFO pagi itu. Mereka bertiga kemudian mencium punggung tangan saya dengan takzim. Atas kebaikan hati Abah Nasih (founder Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO, Mlagen Rembang) saya diberi kesempatan mengunjungi tempat yang istimewa ini setelah beberapa jam sebelumnya saya memberikan materi di Festival HAM 2021 yang kali ini diadakan di Semarang. Sebagai penulis kertas kebijakan (policy brief), saya bertugas memaparkan hasil penelitian INFID terkait dengan ormas berempuan berbasis keagamaan yang dilakukan di beberapa kota sepanjang Januari-Maret 2021.
Kemunculan ketiga sancil tadi seperti memberikan sambutan hangat (warm greetings) bagi kepenatan saya sejak sesi presentasi yang berakhir Maghrib, kemudian melakukan perjalanan dari Semarang jam 1 dini hari sampai kemudian mendarat di Planet NUFO, Rembang, sekitar jam 5 pagi, dengan melewati beberapa titik kemacetan di sepanjang perjalanan. Ayunda, Izza dan Tyas pagi itu bagi saya adalah little angels yang dikirim untuk memandu saya menelusuri setiap sudut Planet NUFO. Ketiga sancil yang masih duduk di kelas 4 dan kelas 5 Sekolah Dasar tersebut dengan ramah dan luwesnya mengajak saya melakukan “tur ala sancil”. Dimulai dari mengunjungi GOR di mana terlihat beberapa santri sedang menghafal al-Qur’an, kemudian ke area dapur, rumah kaca tempat beberapa tanaman, rumah bambu, serta rumah hobit (tempat santri tinggal). Ayunda menjelaskan beberapa kegiatan santri di Planet NUFO, seperti mengaji setelah shalat subuh, olahraga, dan persiapan belajar. Dia bahkan bercerita pernah memanfaatkan salah satu area dekat dapur untuk berjualan puding dan menjualnya ke teman-temannya.
Ketiga sancil tersebut kemudian mengajak saya ke area perkebunan jamur dan menjelaskan bahwa bonggol-bonggol jagung yang di dekat saya berdiri merupakan media tumbuhnya jamur tersebut. Setelah itu saya diarahkan ke sebuah tempat pembiakan maggot (semacam belatung) yang akan dipakai sebagai pakan beberapa ternak yang ada. Mereka mengatakan jika ada kelinci yang mati, bisa juga diberikan sebagai makanan magot tersebut. Ayunda, Izza dan Tyas bergantian menjelaskan ternak apa saja yang ada di farm area ini: ada entog, ayam, kambing, dan domba. “Hati-hati, Bu, ada ayam yang suka ngejar-ngejar kalau ada orang baru di dekatnya,” satu dari mereka mengingatkan saya ketika dekat kandang ayam. Tak lama kemudian dua anak Abah Nasih, Hokma dan Hekma bergabung juga dengan kami. Hokma sesekali menjadi fotografer kami. Tyas melompati pagar kandang kambing dan menunjukkan ke saya beberapa anak kambing beserta ibunya. Hokma bahkan menggendong bayi kambing yang masih imut. Saya sangat menikmati “tur ala sancil ini”. Terkadang kami berhenti untuk berfoto sejenak. Terkadang para sancil tertawa kecil ketika melihat saya dan Hekma menjerit takut ketika salah satu kambing mendekatkan kepalanya ketika kami berfoto. Mereka juga sedikit terkekeh melihat saya agak takut ketika melewati papan kecil sebagai jembatan penghubung di salah satu area.
Perjalanan kemudian berlanjut dengan keberadaan kapal kayu untuk tempat belajar, rumah honai tempat para guru tinggal, serta saung-saung tempat belajar dan berdiskusi. Ketiga sancil tersebut kemudian dengan lincahnya memandu saya melewati kebun tebu dan mengunjungi kandang sapi dan kerbau yang berada agak jauh dari pusat kegiatan Planet NUFO. Perjalanan kami kemudian berakhir di kandang kelinci dan hamster. Mereka menunjukkan bahwa beberapa kelinci dan hamster juga punya ibu dan warna bulu-bulu mereka juga bagus-bagus. Para sancil juga gembira Ketika beberapa kelinci dilepaskan dari kendang. “We’re having so much fun, indeed”.
Meskipun terlihat seperti sepele, namun apa yang dilakukan oleh ketiga sancil tersebut sangat berkesan di hati saya. Ini berbeda dengan anak-anak yang saya temui ketika saya kuliah di Australia dan Amerika. Rata-rata anak-anak di sana diajari oleh orangtua mereka untuk tidak berbicara dengan orang yang tidak dikenal (“don’t talk to strangers”). Saya memakluminya mungkin itu sebagai antisipasi terhadap bahaya atau ancaman kekerasan yang bisa dilakukan orang dewasa (kekerasan seksual, penculikan, dsb). Namun ketiga sancil tersebut berbeda, saya yakin ini merupakan hasil dari sistem pendidikan yang berjalan di Planet NUFO. Memuliakan tamu tidak perlu dengan hal-hal mewah. Cukup dengan keramahan dan keceriaan mereka yang tulus membuat saya merasa benar-benar diterima dengan baik. Mereka juga menunjukkan betapa mereka sangat mengenal area-area yang ada di Planet NUFO ini beserta fungsi-fungsinya dan ingin berbagi informasi dengan saya.
Sayang, saya hanya memiliki 24 jam saja untuk singgah di Planet NUFO. Setelah sholat subuh berjamaah, pagi ini saya bersama Abah, Hokma dan Hekma harus kembali ke Semarang karena saya harus berada di Bandung secepatnya untuk menyelesaikan studi Doktoral saya di Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Ketika saya menulis ini, saya sedang duduk di atas kereta sore yang menuju Stasiun Gambir, Jakarta. Sama ketika dalam perjalanan Rembang-Jakarta tadi pagi, kali ini saya pun harus berkali-kali mengusap mata saya karena teringat the three little angels. Maaf saya tidak sempat berpamitan tadi pagi, ya, para sancil. May we meet again someday. Semoga kalian menjadi anak-anak shalihah yang cerdas dan sukses di masa depan, berbuat baik untuk ummat dan membanggakan semua orang. Aamiin YRA. You are already missed, my little friends….
