Site icon Baladena.ID

Jual beli Amalan Sunnah

Sering kali seseorang menyepelekan hukum sunnah. Mengapa? sunnah merupakan suatu amalan yang apabila dilakukan, mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak apa-apa. Dalam artian tidak mendapat pahala dan dosa. Sebab tidak ada dosa atau ancaman apabila dilakukan, mayoritas orang sering meninggalkan amalan-amalan sunnah tersebut

Contoh sederhana, tidak membasuh anggota wudu yang hukumnya Sunnah. meninggalkan membaca surat tambahan setelah membaca surat al-Fatihah ketika salat, bahkan salat malam yang besar pahalanya, sedikit sekali orang yang melakukannya. Hal-hal seperti inilah yang sering ditinggalkan atau bahkan dilupakan kebanyakan orang.

Ketika ditanya, “maukah kamu mendapat keuntungan?” Tanpa butuh waktu yang lama, pasti semua orang tidak ada yang menolak. Bagaimana tidak? Semua orang pasti memilih untung daripada rugi. Begitu pun dengan sunnah. Dibalik pengertian kata sunnah, ada untung dan rugi.

Pertama, Barang siapa yang melakukan perbuatan sunnah, akan mendapat pahala. Meskipun perbuatan yang dilakukan termasuk hal yang sangat sepele, tetapi keuntungan yang didapatkan tidak dapat dihitung dengan tangan. Contoh, membaca doa basmalah disetiap melakukan perbuatan. Keuntungan yang kita dapatkan pastinya mendapat pahala, ketika kita akan mendapat kecelakaan bisa jadi gagal karena kita terbiasa membaca basmalah dan meminta perlindungan dari Allah setiap melakukan aktivitas apapun.

Kedua, Apabila ditinggalkan tidak apa-apa. Apabila ditelaah, kalimat kedua ini seperti jebakan bagi kita. Kalimat ini seakan-akan menunjukkan kepada pembaca seberapa pekanya pembaca dalam memahami kalimat ini. Akan ditelan secara mentah-mentah? Atau sebaliknya, melakukan penafsiran terlebih dahulu. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa apakah seseorang akan tetap berpegang teguh dengan kalimat pertama, atau bahkan terlena dengan kalimat kedua yang bisa jadi akan merugikan diri sendiri.

Sunnah diibaratkan sebagai proses jual beli. Seorang penjual harus benar-benar memiliki kecerdasan bagaimana caranya dia mendapatkan keuntungan. Jangan sampai barang-barang yang terjualbelikan mengalami kerugian besar akibat seseorang tidak mengolah harga-harga barangnya secara baik. Begitupun dalam melakukan amalan-amalan sunnah. Sunnah menentukan keuntungan atau kerugian dari modal, yaitu wajib. Amalan ini merupakan harga pokok agar modal kembali. Sunnah merupakan uang lebihan dari modal.

Sunnah sebenarnya merupakan ibadah untuk menyempurnakan yang wajib. Apabila hukum wajib masih ada yang kurang, sunnah menjadi penyempurna kewajiban tersebut. Bagaikan semua orang yang ingin terlihat sempurna dimata orang. Jangan sampai kekurangan pada dirinya terbeberkan kepada orang lain. Sebab, jika kekurangannya terlihat orang lain, aib-nya akan terlihat. Terlebih, ketika kekurangan pada diri seorang  terdengar sampai ketelinga lawannya. Bisa jadi kekurangan seseorang tersebut membawa kekalahan pada dirinya, bahwa cara mengalahkan seseorang itu dengan mudah dengan cara mendapatkan kekurangannya. Tetapi hal itu sangat menjatuhkan seseorang dengan tangan kosong dan tanpa adanya usaha. Bisa dikatakan menjadi pengecut.

Amalan-amalan Sunnah mengajarkan seseorang teguh pendirian pada perbuatan yang dilakukan. Banyak gangguan-gangguan luar yang mengajak seseorang untuk meninggalkan amalan tersebut. Amalan-amalan sunnah menjadi ladang kesempatan bagi setan membujuk manusia untuk meninggalkan perbuatan tersebut. Baik setan terlihat maupun yang tidak terlihat. Kita diuji seberapa keimanan kita untuk memilihnya. Apakah tetap teguh dengan tetap melakukan perbuatan sunnah yang akan mendapat keuntungan yang lebih, atau kalah dengan dogaan setan untuk meninggalkan perbuatan itu. Memilih menang dari setan atau kalah dengan godaan setan, tergantung dengan keteguhan hati masing-masing.

Sebagai seseorang yang tidak ingin kalah dengan setan, kita harus merubah pola pikir kita tentang pemahaman bahwa kita benar-benar membutuhkan ibadah sunnah. Yaitu dengan cara merubah pengertian kata sunnah menjadi “suatu amalan yang ketika dikerjakan mendapat pahala atau keuntungan  dan apabila ditinggalkan akan mendapat kerugian.”

Dengan kalimat ini semoga membawa kita untuk berpikir lagi ketika akan meninggalkannya. Selain itu menjadikan kita bahwa kita memang benar-benar butuh dengan amalan-amalan sunnah dan sebagai penyempurna bagi diri sendiri. Jadikan amalan-amalan sunnah adalah ladang penghasil amal disamping ada amalan wajib yang kita lakukan setiap hari.

 

Oleh: Hanik As’adah. Mahasiswi Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

Exit mobile version